Survei Terbaru: Dukungan untuk Trump Hancur Lebur ke Titik Terendah
Jakarta, CNBC Indonesia - Sejumlah survei politik terbaru menunjukkan tren penurunan dukungan publik terhadap Presiden Amerika Serikat Donald Trump, terutama dalam penanganan ekonomi, imigrasi, dan konflik dengan Iran, sebuah sinyal peringatan bagi Partai Republik menjelang pemilu paruh waktu yang tinggal enam bulan lagi.
Dilansir The Guardian, Kamis (23/4/2026), tiga jajak pendapat berbeda oleh Reuters-Ipsos, Strength in Numbers-Verasight, dan AP-NORC menempatkan tingkat persetujuan Trump di kisaran pertengahan 30-an, yakni 36%, 35%, dan 33%. Angka tersebut mendekati level terendah selama masa jabatannya.
Survei AP-NORC yang dirilis Senin mengungkapkan bahwa tujuh dari 10 warga Amerika menilai kondisi ekonomi buruk dan percaya negara bergerak ke arah yang salah. Tingkat persetujuan terhadap penanganan ekonomi oleh Trump tercatat turun menjadi 30% dari sebelumnya 38% pada Maret.
Sementara itu, 72% responden mengatakan arah negara salah, angka yang tidak berubah sejak Februari.
Ketidakpuasan juga terlihat dalam isu biaya hidup. Hanya 23% responden yang menyatakan setuju dengan cara Trump menangani masalah tersebut, sementara 76% menyatakan tidak setuju.
Survei Reuters-Ipsos yang dipublikasikan Rabu turut menyoroti kebijakan deportasi imigran yang menjadi ciri khas Trump. Sebanyak 52% warga AS mengatakan mereka cenderung tidak akan mendukung kandidat yang mendukung kebijakan tersebut, dibandingkan 42% yang justru lebih mungkin mendukung.
Perpecahan pandangan tampak lebih tajam di kalangan pemilih independen. Sebanyak 57% menyatakan lebih memilih kandidat yang menentang kebijakan deportasi Trump, sementara hanya 32% yang mendukung kandidat dengan posisi sejalan.
Dukungan terhadap kebijakan imigrasi Trump juga mengalami penurunan signifikan. Setelah sempat mendapat dukungan 50% pada awal masa jabatan Januari 2025, kini hanya 40% yang menyatakan setuju. Penurunan ini terjadi setelah bentrokan antara aparat imigrasi dan demonstran di awal tahun, yang menewaskan dua orang di Minneapolis. Pemerintah sejak itu memperlambat penahanan imigran.
Survei terpisah dari NBC News Decision Desk menunjukkan tingkat persetujuan pribadi Trump turun ke titik terendah dalam masa jabatan keduanya, dengan hanya 37% responden menyatakan puas terhadap kinerjanya sebagai presiden, sementara 63% tidak puas. Dari angka tersebut, 50% menyatakan ketidakpuasan yang kuat.
Meski demikian, dukungan dari basis Partai Republik masih relatif solid. Survei NBC mencatat 83% pemilih Partai Republik masih memberikan penilaian positif kepada Trump, meskipun turun 4 poin dibandingkan awal tahun.
Penanganan ekonomi oleh Trump juga masih mendapat dukungan 52% dari kelompok ini, turun dari 58%.
Namun, tantangan besar tetap membayangi kandidat Partai Republik dalam mempertahankan mayoritas di Kongres. Survei menunjukkan hanya sepertiga warga AS yang merasa negara berada di jalur yang benar, sementara dua pertiga lainnya menilai sebaliknya.
Isu ekonomi tetap menjadi perhatian utama publik, dengan 29% responden menyebutnya sebagai isu paling penting saat ini. Disusul oleh ancaman terhadap demokrasi (24%), layanan kesehatan (12%), serta kejahatan dan keamanan (10%).
Di sisi lain, mayoritas publik juga tidak puas dengan penanganan konflik Iran oleh Trump. Sebanyak 67% responden menyatakan tidak setuju dengan kebijakan tersebut, sementara hanya sepertiga yang menyatakan setuju.
Penolakan ini bahkan lebih kuat di kalangan Demokrat dan independen, hampir seluruh Demokrat dan 82% independen menyatakan tidak setuju, sementara 74% pemilih Republik justru mendukung.
Sebanyak 61% responden juga menilai AS seharusnya tidak mengambil tindakan militer tambahan terhadap Iran.
Namun, Trump dan Partai Republik masih menemukan dukungan dalam isu reformasi pemilu. Sekitar tiga perempat warga AS mendukung kewajiban penggunaan identitas foto resmi pemerintah bagi pemilih, dan 61% menyatakan bahwa dokumen tersebut seharusnya juga mencantumkan bukti kewarganegaraan.
(luc/luc) Add
source on Google