MARKET DATA
Internasional

Militer AS Mau Akses Wilayah Udara RI, Sugiono Blak-blakan Bilang Gini

Emir Yanwardhana,  CNBC Indonesia
22 April 2026 16:10
Menteri Luar Negeri Sugiono memberikan keterangan kepada wartawan di Kantor Staf Kepresidenan, Jakarta Pusat, Rabu (22/4/2026). (CNBC Indonesia/Emir Yanwardhana)
Foto: Menteri Luar Negeri Sugiono memberikan keterangan kepada wartawan di Kantor Staf Kepresidenan, Jakarta Pusat, Rabu (22/4/2026). (CNBC Indonesia/Emir Yanwardhana)

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Luar Negeri Sugiono buka suara mengenai kabar permintaan blanket overflight atau izin terbang menyeluruh bagi armada militernya di wilayah udara Indonesia dari Amerika Serikat.

Menurutnya, permintaan tersebut bukanlah blanket overflight, melainkan overflight access.

"Saya kira terminologinya harus diluruskan ya, itu bukan blanket overflight, itu overflight access," kata Sugiono di Gedung Bina Graha, Kompleks Istana Kepresidenan, Rabu (22/4/2026).

Sugiono juga menampik kabar bahwa rencana itu akan membuat Indonesia terseret dalam konflik global. Menurutnya pemerintah memiliki kewajiban untuk melindungi segenap bangsa, sehingga ada aspek kedaulatan negara dan peningkatan kesejahteraan dalam hal itu.

"Jadi saya tidak melihat urusannya sama menyeret Indonesia dalam konflik global," katanya.

Sugiono pun tidak menampik sampai saat ini pembicaraan mengenai overflight access itu masih menjadi salah satu yang intens dengan pihak AS. Namun hal itu perlu melewati proses dan mekanisme pembahasan yang benar.

"Mekanismenya seperti apa dan sebagainya itu di Indonesia. Dan saya kira kedaulatan, kepentingan nasional itu juga pasti akan menjadi suatu yang utama," katanya.

"Kedua sebagai negara yang memiliki tradisi dan politik luar negeri bebas aktif ya perjanjian serupa itu juga kalau misalnya dilakukan dengan negara lain ya nggak ada masalah, kan gitu. Mekanismenya seperti apa, implementasinya seperti apa," tambahnya.

 

(luc/luc) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Menlu Singgung Fenomena "Trade Weaponization": Ini Realita Dunia


Most Popular
Features