Internasional

Sugiono Ungkap Alotnya Nego Loloskan 2 Kapal Pertamina dari Hormuz

Emir Yanwardhana, CNBC Indonesia
Rabu, 22/04/2026 14:52 WIB
Foto: Menteri Luar Negeri Sugiono memberikan keterangan kepada wartawan di Kantor Staf Kepresidenan, Jakarta Pusat, Rabu (22/4/2026). (CNBC Indonesia/Emir Yanwardhana)

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Luar Negeri Sugiono membeberkan alotnya negosiasi untuk meloloskan kapal milik PT Pertamina International Shipping (PIS), Pertamina Pride dan Gamsunoro, agar dapat melintasi Selat Hormuz.

Hal ini diungkapkan saat Konferensi Pers Update Program Prioritas di Gedung Bina Graha, Kompleks Istana Kepresidenan, Rabu (22/4/2026).

"Mengenai negosiasi kapal Pertamina di Selat Hormuz, tentu saja Kementerian Luar Negeri dalam hal ini Kedutaan Besar kita di Teheran juga terus melakukan pembicaraan, kemudian bersama dengan tim dari Pertamina terkait izin lewat dari kapal-kapal kita yang ada di Selat Hormuz," kata Sugiono, menjawab pertanyaan wartawan.


Sugiono menjelaskan bahwa permasalahan izin melintas selat Hormuz ini semakin kompleks melihat situasi yang terjadi di Iran. Seperti adanya blokade Hormuz dari Amerika Serikat, hingga perkembangan syarat dari kapal yang boleh melintas. Hal itu tentunya, lanjut Sugiono, menjadi yang terus dinegosiasikan dan dibicarakan.

Sekretaris Jenderal Partai Gerindra ini juga menjelaskan dirinya menghadiri pertemuan virtual mengenai perkembangan Selat Hormuz. Pertemuan ini diinisiasi oleh negara Prancis dan Inggris.

Menurutnya, dalam pertemuan itu, negara-negara yang hadir menolak segala jenis pungutan bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz. Adapun hal itu bertentangan dengan "freedom of navigation"', meskipun selat Hormuz dikuasai oleh Iran.

"Tapi di situ kan ada Oman, kemudian ada UEA, kemudian karena ya jadi beberapa contoh ada praktik-praktik tersebut dilakukan di situ," tuturnya.

Dari pertemuan itu, disimpulkan pemerintah akan terus mendukung upaya yang bersifat diplomatis, negosiasi politik untuk menyelesaikan ketegangan di Selat Hormuz.

Dalam kesempatan itu, Sugiono juga mengatakan adanya wacana pengawalan militer untuk kapal-kapal yang mau melintasi Selat Hormuz, yang disebut peaceful military protection. Meskipun hal ini masih menjadi pembicaraan lebih lanjut.

"Ini proposal yang diajukan, perdamaian logistik. Karena bukan cuma minyak yang lewat Selat Hormuz, itu berbagai macam produk," tuturnya.

Stok BBM Aman

Sugiono juga menjelaskan stok BBM RI masih aman meski, adan dua kapal tanker milik pertamina yang tertahan.

Diketahui dua kapal itu mengangkut otal sekitar 2 juta barel minyak mentah. Meskipun begitu menurut Sugiono, menjelaskan jumlah 2 juta barel itu masih relatif kecil dibandingkan total kebutuhan energi nasional secara keseluruhan. Untuk itu dia meminta masyarakat tenang dan melihat gambaran yang besar.

"Dan kebutuhan itu kalau misalnya disandingkan dengan kebutuhan energi kita merupakan satu kebutuhan yang relatif kecil. Jadi perbandingannya kurang lebih seperti itu. jadi supaya kita tidak hilang gambaran, Jangan nanti kuman di seberang lautan kelihatan tapi gajah di pelupuk mata nggak kelihatan," katanya.

Sugiono juga mengatakan bahwa pasokan minyak Indonesia tidak hanya bergantung dari jalur Selat Hormuz. Beberapa langkah antisipatif yang sudah dilakukan untuk menjaga ketahanan energi adalah peningkatan kerja sama dengan negara lain seperti Rusia dan Amerika Serikat.

"Negara lain yang dituju tentu saja Rusia, saya kira merupakan satu alternatif yang strategis ya. Kemudian beberapa negara juga di Pertamina saya kira memiliki ladang ya di tempat lain," katanya.

"Kemudian juga sumber dari Amerika waktu terakhir ada beberapa pembicaraan saya ikuti, dan kaitannya dengan pemenuhan suplai energi dan bahan bakar ini," tambahnya.

 


(luc/luc) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Tensi Perang Iran Panas, RI Wajib Amankan Pasokan & Harga BBM