RI Ekspor 250.000 Ton Urea ke Australia, Brasil-Filipina-India Nyusul

Martyasari Rizky, CNBC Indonesia
Rabu, 22/04/2026 12:13 WIB
Foto: PT Pupuk Indonesia (Dok. pupuk-indonesia.co.id)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah Indonesia membuka peluang ekspor pupuk urea hingga sekitar 1 juta ton ke sejumlah negara mitra. Brasil menjadi salah satu tujuan utama, bersama India, Filipina, Thailand, hingga Australia, seiring meningkatnya kebutuhan pupuk global di tengah gangguan rantai pasok.

"Ke depan, sebagian pupuk urea (Indonesia) akan diekspor ke India, Filipina, Thailand, dan Brasil, dengan total komitmen ekspor mencapai kurang lebih 1 juta ton," kata Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya dalam keterangannya, dikutip Rabu (22/4/2026).

Rencana ekspor ini didorong oleh kondisi produksi dalam negeri yang surplus. Berdasarkan data Kementerian Pertanian, produksi urea nasional mencapai 7,8 juta ton, sementara kebutuhan domestik berada di kisaran 6,3 juta ton. Ruang selisih tersebut membuka peluang Indonesia untuk masuk lebih agresif ke pasar internasional.


"Sesuai data Menteri Pertanian, total produksi urea nasional adalah sebesar 7,8 juta ton dan kebutuhan dalam negeri sekitar 6,3 juta ton, langkah ini diharapkan tetap menjaga ketahanan pasokan domestik sekaligus memperkuat kontribusi Indonesia di pasar global," ungkap dia.

Teddy mengungkapkan, komitmen ekspor ini juga sempat dibahas dalam komunikasi Presiden Prabowo Subianto dengan Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese.

"Dalam komunikasi tersebut, PM Albanese menyampaikan apresiasi atas persetujuan Bapak Presiden terkait ekspor pupuk urea Indonesia ke Australia sebesar 250.000 ton pada tahap pertama," ujarnya.

Sejalan dengan itu, Kementerian Pertanian (Kementan) sebelumnya telah menerima sejumlah perwakilan negara yang berminat mengimpor pupuk dari Indonesia. Tercatat, perwakilan dari Australia, India, hingga Polandia telah datang langsung ke Kantor Kementan untuk menjajaki kerja sama, termasuk peluang impor pupuk urea dari Indonesia.

Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono menegaskan, Indonesia mengambil posisi terbuka dalam kerja sama global, termasuk dalam perdagangan pupuk.

"Indonesia adalah negara yang terbuka. Kita nonblok dan kita kerja sama dengan siapapun, termasuk mengambil kesempatan yang besar. Kita ingin kerja sama dalam hal ini, kerja sama dagang antara ekspor-impor dan kemudian hal-hal yang lain yang barangkali bisa termasuk investment," kata Sudaryono dalam keterangannya.

Ia menilai, di tengah konflik dan disrupsi rantai pasok global, kerja sama antarnegara perlu lebih konkret dan saling menguntungkan.

"Kita berbicara tentang bagaimana kita bisa meningkatkan kerja sama antara negara-negara dalam bidang perdagangan, investasi, hingga penelitian, dan sebagainya. Karena kesempatan sudah terbuka, terutama dalam situasi yang sulit ini, di tengah-tengah konflik, perang, dan krisis baru-baru ini, peran bilateral antara negara-negara akan menjadi peran yang sangat penting untuk bagaimana negara-negara ini memenuhi keinginan masyarakatnya," jelasnya.

Di sisi lain, pemerintah tetap menekankan prioritas pemenuhan kebutuhan dalam negeri sebelum ekspor dilakukan. Dengan surplus yang ada, Indonesia dinilai tidak hanya mampu menjaga ketahanan pupuk nasional, tetapi juga berpeluang memperkuat posisinya sebagai pemasok global.


(dce) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Surplus Pupuk 1,5 Juta Ton, RI Berpeluang Ekspor ke India