MARKET DATA

Depan Menkeu G20, Purbaya Ungkap Rahasia RI Kuat Hadapi Gejolak Global

haa,  CNBC Indonesia
21 April 2026 11:10
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa. (Biro KLI Kemenkeu)
Foto: Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa. (Biro KLI Kemenkeu)

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Keuangan (Menkeu) Republik Indonesia, Purbaya Yudha Sadewa mengungkapkan perang di Timur Tengah telah menjadi ujian berat bagi ketahanan pasar negara berkembang.

Hal ini dipaparkannya dalam "G20 1st Finance Ministers and Central Bank Governors (FMCBG) Meeting" di sela-sela IMF-World Bank Spring Meetings 13-17 April 2026.

Purbaya mengungkapkan bahwa bagi negara-negara berkembang seperti Indonesia, kekhawatiran utama terkait ketidakseimbangan eksternal terletak pada potensi risiko, termasuk volatilitas arus modal, tekanan inflasi, dan dampak spillover dari sistem keuangan global. Selain dampaknya pada sektor keuangan, salah satu yang juga memberatkan adalah kenaikan harga energi akibat perang di Timur Tengah.

Di tengah krisis ini, Purbaya memastikan APBN Indonesia tetap menjalankan fungsinya sebagai shock absorber untuk melindungi daya beli masyarakat. Pemerintah berkomitmen menjaga disiplin fiskal tetap di bawah batas defisit 3% PDB.

Meskipun terjadi arus keluar devisa sebesar US$ 1,8 miliar dan depresiasi rupiah akibat guncangan eksternal, tetapi Purbaya menegaskan bahwa stabilitas makro Indonesia tetap terjaga.

"Kredibilitas ini memungkinkan Indonesia untuk menyerap harga energi yang lebih tinggi tanpa mengorbankan dukungan bagi kelompok rentan atau melanggar batas defisit fiskal Indonesia," ujar Purbaya.

Konflik yang sedang berlangsung di Timur Tengah menjadi pengingat bahwa efisiensi proses dan perizinan merupakan kunci ketahanan energi.

Dalam hal ini, Indonesia mempercepat reformasi dengan menyederhanakan perizinan, membentuk task force de-bottlenecking, serta mengurangi hambatan dalam impor energi.

Dia pun optimis dapat mencapai target pertumbuhan tahun 2026 sebesar 5,4% - 6% di tengah ketegangan global yang sedang berlangsung. Optimisme tersebut berasal dari basis ekonomi Indonesia yang solid seperti posisi eksternal yang kuat yang ditandai dengan surplus perdagangan selama 70 bulan berturut-turut hingga awal tahun 2026.

Selain itu, optimisme juga terlihat dari perekonomian domestik Indonesia yang tangguh yang ditopang dari konsumsi rumah tangga yang kuat, pertumbuhan stabil, inflasi terkendali, defisit fiskal yang terkelola, rasio utang terhadap PDB yang rendah, dan kebijakan hilirisasi yang berkelanjutan.

Purbaya menambahkan bahwa pemerintah akan tetap waspada terhadap dinamika di Timur Tengah dan potensi dampaknya terhadap harga energi global. Pemerintah telah memprioritaskan pembentukan fiscal buffer untuk menyerap guncangan harga dan memastikan bahwa bahan bakar bersubsidi tetap stabil untuk melindungi daya beli masyarakat.

"Respons kebijakan pemerintah yaitu dengan efisiensi pengeluaran negara dan transformasi struktural jangka panjang dengan mempercepat inisiatif hilirisasi," ujarnya.

(haa/haa) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Wamenkeu Pastikan APBN RI Tangguh Hadapi Gejolak Global


Most Popular
Features