Cara Eksportir Biskuit RI Bertahan di Tengah Naiknya Harga Bahan Baku
Surabaya, CNBC Indonesia - Salah satu produsen dan eksportir biskuit dan wafer asal Indonesia, PT Mega Global Food Industry (Kokola Group) mulai merasakan tekanan bisnis, efek naiknya harga bahan baku produksi.
Industri yang berbasis di Gresik, Jawa Timur itu mulai menanggung biaya kemasan, efek naiknya harga dan terganggunya pasokan plastik global sekitar 40-45%.
"Jadi semua kemasan itu rata-rata naik 40-45% bahannya. Dan itu security, supply chain-nya sangat limited gitu. Dari ujung supply bahan kemasan plastiknya itu semua minta, karena uncertain ya," kata Direktur Mega Global Food Industry, Richard Cahyadi di Gresik, Jawa Timur, Jumat (17/4/2026).
Untuk mengantisipasi masalah itu, perusahaan kata dia juga harus menyiapkan pembiayaan belanja yang besar, karena untuk mengamankan stok bahan baku kini harus menggunakan uang tunai alias cash.
"Jadi kita bayar di depan, kita bayar cash. Nah kita harus punya kekuatan funding financial yang kuat untuk kemasan itu," paparnya.
Selain itu, ia mengakui, perusahaan juga perlu melakukan penyesuaian harga jual produk sejak 15 April 2026 sekitar 5-10% dengan mempertimbangkan daya saing produk di negara-negara tujuan ekspor.
"Sudah berlaku per tanggal 15 kemarin. Barusan ini. Jadi kenaikannya dari 5% sampai 10%. Kita nggak bisa adjust di atas itu. Harga B2B dan akan tercermin ke retail," paparnya.
Adapun dari sisi karyawan, Richard memastikan, tidak akan terdampak dan tetap menjaga 350 tenaga kerja yang bekerja di perusahaannya. Sebagai gantinya, Richard melakukan efisiensi di sisi produksi, misalnya penggunaan kemasan alternatif dengan model baru.
"Yang kemarin yang ada satu keping dikemas langsung satu kemasan sekarang jadi dua keping satu kemasan. Itu akan cari alternatif seperti itu," kata dia.
Di sisi lain, juga masih ada dukungan dari Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) atau Indonesia Eximbank dalam mendukung kegiatan usaha perusahaan, terutama pada sektor ekspor. Perusahaan saat ini mengekspor produknya ke lebih dari 55 negara, dengan jangkauan pasar utama antara lain Australia, Jepang, Korea Selatan, dan Filipina, serta bekerjasama dengan lebih dari 100 mitra supermarket di berbagai penjuru dunia.
LPEI memberikan bantuan finansial dalam program Penugasan Khusus Ekspor (PKE) berupa pembiayaan, baik di awal maupun di akhir proses ekspor, termasuk fasilitas penjaminan. Rincian dari program itu seperti 0enguatan struktur finansial, 0eningkatan daya saing biaya (cost leadership), stabilitas rantai pasok dan Akselerasi pertumbuhan ekspor.
Direktur Pelaksana Bisnis II LPEI Sulaeman menjelaskan PKE merupakan Program Pemerintah yang dimandatkan kepada LPEI dengan tujuan untuk mendorong industri strategis nasional dan UKM berdaya saing di pasar global serta menciptakan dampak pembangunan.
Hingga tahun lalu, para eksportir seperti Kokola Grup telah memanfaatkan fasilitas PKE Trade Finance dengan total limit mencapai Rp3,35 triliun. Adapun realisasi penyaluran sepanjang tahun 2025 tercatat sebesar Rp7,68 triliun.
Sektor makanan olahan menjadi portofolio terbesar dalam PKE Trade Finance, dengan porsi mencapai 39% atau sebanyak 31 debitur. Selain memberikan dukungan finansial bagi pelaku usaha, PKE Trade Finance juga berperan dalam mendorong terciptanya dampak pembangunan.
Sepanjang 2025, penyaluran PKE Trade Finance telah berkontribusi terhadap penciptaan dan/atau penghematan devisa sebesar Rp21,12 triliun. PKE Trade Finance saat ini dapat disalurkan kepada 18 sektor industri dan komoditas, antara lain produk karet, kopi, furnitur, alas kaki, makanan olahan, tekstil dan produk tekstil, perhiasan dan permata, teh dan rempah, produk kayu, kerajinan, produk elektronik, produk kimia, komponen otomotif, produk kulit, mesin dan peralatan listrik, besi dan baja, produk pertanian, serta produk kertas.
"Sinergi ini menggabungkan kekuatan kapabilitas internal Kokola-meliputi fondasi manufaktur yang kuat, disiplin operasional, serta pengalaman ekspor-dengan dukungan pembiayaan dan fasilitasi ekspor dari LPEI untuk mendorong ekspansi yang lebih agresif dan berkelanjutan," kata Sulaeman.
Sepanjang tahun lalu Kokola Grup atau Mega Global Food Industry memang masih mampu menunjukkan pertumbuhan kinerja ekspor yang signifikan. Nilai ekspor produknya tercatat sebesar US$ 19,96 juta atau naik sekitar 45% dari catatan pada 2024 sebesar US$ 13,71 juta.
(arj/haa) Add
source on Google