MARKET DATA
Internasional

Bank Dunia Warning, "Kiamat" Baru Akan Datang karena AS-Iran

tfa,  CNBC Indonesia
16 April 2026 11:40
Logo Bank Dunia. (Photo by Andrew CABALLERO-REYNOLDS / AFP/File Foto)
Foto: Logo Bank Dunia. (AFP/ANDREW CABALLERO-REYNOLDS/File Foto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kepala Ekonom Bank Dunia (World Bank) Indermit Gill memperingatkan potensi krisis global baru yang dapat memicu lonjakan kelaparan. Konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran dinilai berpotensi menimbulkan dampak luas terhadap ekonomi dunia.

Dalam wawancara dengan AFP di sela Pertemuan Musim Semi IMF-Bank Dunia di Washington, Gill menyebut saat ini sekitar 300 juta orang telah mengalami kerawanan pangan akut. Angka tersebut berpotensi melonjak hingga 20% dalam waktu singkat akibat efek domino dari konflik.

"Ada sekitar 300 juta orang yang sudah menderita kerawanan pangan akut. Jumlah itu akan meningkat sekitar 20 persen dengan sangat cepat," ujar Gill, dikutip Kamis (16/4/2026).

Ia menjelaskan, gangguan di Selat Hormuz telah mendorong kenaikan harga energi dan berdampak langsung pada lonjakan harga pupuk yang bergantung pada bahan baku berbasis minyak. Kenaikan harga pupuk ini berisiko menekan produksi pertanian global.

Negara-negara produsen pangan pun berpotensi menahan ekspor dan meningkatkan stok domestik. Ini pada akhirnya memperparah kenaikan harga pangan dunia.

"Larangan ekspor itu sangat menakutkan bagi kami," tegas Gill.

Menurutnya, dampak terparah akan dirasakan negara-negara yang tengah dilanda konflik atau memiliki pemerintahan rapuh. Jika situasi terus berlarut, kelaparan massal berisiko terjadi.

"Jika situasi ini tidak segera diselesaikan, kelaparan akan mulai melanda negara-negara ini secara besar-besaran," katanya.

Saat ini, tekanan akibat kekurangan petrokimia paling terasa di kawasan Asia. Namun, Gill mengingatkan bahwa jika krisis berkepanjangan, dampaknya akan cepat menyebar ke Afrika.

"Makanan yang ada di pasar saat ini sudah ditanam, tetapi dampak sebenarnya akan terasa dalam beberapa bulan ke depan," jelasnya.

Di sisi makroekonomi, Bank Dunia juga memperingatkan potensi "pukulan ganda" berupa perlambatan pertumbuhan dan lonjakan inflasi global.

Gill memperkirakan inflasi global dapat meningkat dari sekitar 3% menjadi hingga 4,7% pada tahun ini dalam skenario terburuk jika konflik berlangsung hingga Agustus. Sementara itu, pertumbuhan ekonomi global berpotensi terpangkas hingga 40%.

Kondisi tersebut akan semakin membebani negara-negara berkembang, terutama yang memiliki tingkat utang tinggi. Kenaikan inflasi, khususnya pada kebutuhan dasar seperti pangan dan energi, akan paling berdampak pada kelompok berpenghasilan rendah.

"Jika terjadi inflasi, terutama pada barang yang lebih sering dikonsumsi masyarakat miskin, dampaknya akan sangat merugikan," ujar Gill.

Ia juga mengingatkan bahwa proyeksi pertumbuhan global saat ini bisa terlihat lebih optimistis karena ditopang oleh ekonomi besar seperti Amerika Serikat, China, dan India yang relatif lebih tahan terhadap guncangan eksternal. Namun, ketika ketiga negara tersebut dikeluarkan dari perhitungan, kerentanan ekonomi global menjadi jauh lebih terlihat.

"Ketika Anda menghapus mereka dari perkiraan, Anda mulai melihat lebih banyak kerentanan," kata Gill.

"Dan omong-omong, skenario ekstrem itu, setiap hari berlalu, bukan lagi terlalu ekstrem, karena kita semakin dekat dengan bulan Agustus," pungkasnya menambahkan, skenario terburuk yang sebelumnya dianggap ekstrem kini semakin mendekati kenyataan.

(tfa/sef) Add as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article 'Kiamat' Venezuela! Habis Diacak Trump, Gagal Bayar Utang Rp 2.000 T


Most Popular
Features