Internasional

Mossad Meleset, Mimpi Kejayaan di Perang Iran Jadi Bumerang Netanyahu

luc, CNBC Indonesia
Kamis, 16/04/2026 06:05 WIB
Foto: Roman Gofman (Jonathan Ernst/Reuters/File)

Jakarta, CNBC Indonesia - Lebih dari 40 hari sejak perang melawan Iran pecah, harapan sebagian elite keamanan Israel bahwa konflik tersebut akan menjatuhkan pemerintahan Teheran belum juga terwujud. Penilaian yang semula diyakini kuat di lingkaran intelijen kini dinilai terlalu optimistis dan jauh dari realitas di lapangan.

Sumber-sumber Israel yang mengetahui diskusi internal menyebut bahwa calon kepala badan intelijen luar negeri Mossad, Roman Gofman, sebelumnya meyakini bahwa perang bisa memicu runtuhnya pemerintahan Iran dalam waktu cepat. Pandangan itu disampaikan kepada Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dalam berbagai pembahasan perencanaan.

Gofman, yang saat ini menjabat sebagai sekretaris militer Netanyahu, akan resmi memimpin Mossad mulai Juni untuk masa jabatan lima tahun, menggantikan David Barnea. Barnea sendiri, yang telah memimpin Mossad sejak 2021, memiliki pandangan serupa bahwa perang dapat menjatuhkan Republik Islam Iran.


Menurut dua sumber keamanan Israel, Barnea memainkan peran penting dalam memberi masukan menjelang serangan gabungan Israel-AS terhadap Iran pada 28 Februari yang menjadi awal konflik. Bahkan, laporan menyebut ia pernah mengusulkan kepada Netanyahu dan Presiden AS Donald Trump bahwa pembunuhan terhadap para pemimpin Iran, diikuti operasi intelijen beruntun, dapat memicu mobilisasi oposisi dalam negeri, memicu protes, kerusuhan, hingga akhirnya menggulingkan rezim.

"Posisi Mossad adalah bahwa perubahan rezim merupakan kemungkinan yang besar dan mereka dapat mewujudkannya," ujar salah satu sumber keamanan Israel, dilansir CNN International, Rabu (15/4/2026).

Namun, pendekatan ini tidak sepenuhnya disepakati oleh militer Israel. Sumber tersebut menyebut bahwa pasukan pertahanan Israel (IDF) memiliki pandangan lebih hati-hati, dengan fokus melemahkan rezim dan menciptakan kondisi bagi pemberontakan publik, bukan menjamin kejatuhan cepat.

"Mossad membuat serangkaian janji yang tidak ditepati," kata sumber tersebut.

Meski gelombang awal serangan berhasil menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei serta menghancurkan sejumlah infrastruktur militer dan pemerintahan, perubahan signifikan dalam struktur kekuasaan Iran belum terjadi. Pemimpin tertinggi yang baru, putra dari Khamenei, bahkan dinilai lebih keras dan memiliki kedekatan lebih kuat dengan Garda Revolusi Iran.

Dalam pernyataan publik pertamanya sejak perang dimulai, Barnea mengakui bahwa misi Israel di Iran masih jauh dari selesai.

"Kami tentu saja merencanakan agar kampanye kami berlanjut dan terwujud bahkan pada periode setelah serangan di Teheran," ujarnya dalam peringatan Hari Peringatan Holocaust Israel. "Komitmen kami hanya akan terpenuhi ketika rezim ekstremis tersebut digantikan."

Sosok Gofman dan Kontroversinya

Gofman, 49 tahun, lahir di Belarusia dan pindah ke Israel pada usia 14 tahun. Ia menghabiskan lebih dari tiga dekade di Korps Lapis Baja IDF dengan berbagai posisi tempur dan komando.

Penunjukannya sebagai kepala Mossad diumumkan Netanyahu pada Desember lalu, mengungguli kandidat lain dari internal lembaga tersebut. Meski bukan hal yang sepenuhnya baru, penunjukan kepala intelijen dari kalangan militer, bukan dari dalam Mossad, terbilang tidak lazim.

Saat mengumumkan penunjukan itu, Netanyahu memuji Gofman sebagai sosok yang memiliki kemampuan luar biasa. Ia menyebutnya sebagai "perwira yang luar biasa, berani, dan kreatif yang menunjukkan pemikiran di luar kebiasaan dan kecerdasan yang mengesankan sepanjang perang."

Namun, sejumlah analis mempertanyakan kelayakan Gofman. Analis pertahanan senior, Amir Oren, menilai Gofman minim pengalaman dalam bidang-bidang kunci intelijen seperti pengumpulan informasi, operasi khusus, hingga kerja sama antar badan intelijen.

Ia menyebut kemampuan tersebut sebagai keahlian "di mana seseorang harus benar-benar menguasai bidang tersebut selama bertahun-tahun dan mungkin berpuluh-puluh tahun sebelum berani memerintah orang lain."

Oren bahkan menilai penunjukan ini lebih didorong oleh faktor loyalitas terhadap Netanyahu ketimbang kebutuhan keamanan negara.

"Terdapat penilaian bulat dari para profesional militer dan keamanan yang masih aktif maupun yang sudah veteran bahwa penunjukan-penunjukan ini tidak dimaksudkan untuk menguntungkan keamanan Israel, melainkan untuk membantu Netanyahu secara pribadi dan politik," ujarnya.

Proses pengangkatan Gofman sendiri sempat tertunda akibat kontroversi kasus pada 2022, saat ia diduga melibatkan seorang remaja untuk menyebarkan informasi rahasia dalam operasi pengaruh daring. Remaja tersebut sempat ditahan lama oleh aparat keamanan sebelum dakwaannya dibatalkan setelah diketahui bahwa aktivitasnya mendapat otorisasi.

Media Israel melaporkan Gofman membantah mengetahui usia remaja tersebut dan menyatakan hanya memerintahkan pemberian informasi non-rahasia.

Remaja tersebut, yang kini berusia 21 tahun, menjadi salah satu pengkritik paling vokal terhadap Gofman dan bahkan mengajukan banding ke Mahkamah Agung Israel atas penunjukan tersebut.

Restrukturisasi Keamanan Pascaserangan 7 Oktober

Penunjukan Gofman juga mencerminkan upaya lebih luas Netanyahu untuk merombak struktur keamanan Israel setelah serangan 7 Oktober 2023, yang dianggap sebagai kegagalan keamanan terbesar dalam sejarah negara itu.

Sejak saat itu, hampir seluruh jajaran puncak keamanan Israel telah mengundurkan diri, diberhentikan, atau menyelesaikan masa tugasnya, termasuk menteri pertahanan, kepala staf militer, serta pimpinan intelijen militer dan badan keamanan dalam negeri Shin Bet.

Dengan rencana mundurnya Barnea dan pengangkatan Gofman, Netanyahu praktis menjadi satu-satunya pejabat tinggi yang masih menjabat sejak hari terjadinya serangan paling mematikan dalam sejarah Israel tersebut.

Di tengah dinamika ini, perang yang semula diyakini dapat mengubah peta kekuasaan di Iran kini justru menjadi ujian besar, tidak hanya bagi strategi militer Israel, tetapi juga bagi kepemimpinan politik Netanyahu sendiri.

 


(luc/luc) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Ukur Kekuatan Militer AS di Tengah Konflik Timur Tengah