MARKET DATA

Ada Formula Baru, Pengusaha Sebut Harga Acuan Nikel Bisa Naik 140%

Verda Nano Setiawan,  CNBC Indonesia
15 April 2026 12:35
A worker watches as trucks load up raw nickel near Sorowako, Indonesia's Sulawesi island, January 8, 2014. REUTERS/Yusuf Ahmad
Foto: REUTERS/Yusuf Ahmad

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah resmi memberlakukan formula baru Harga Patokan Mineral (HPM) untuk bijih nikel mulai 15 April 2026. Kebijakan tersebut tertuang dalam Keputusan Menteri ESDM Nomor 144.K/MB.01/MEM.B/2026 yang merevisi Kepmen Nomor 266 Tahun 2025 tentang pedoman penetapan harga patokan mineral logam dan batubara.

Sekretaris Umum Asosiasi Pertambangan Nikel Indonesia (APNI) Meidy Katrin Lengkey menilai kebijakan ini muncul di tengah kondisi pasar nikel global yang masih berada dalam tekanan oversupply jangka pendek, terutama di pasar China.

Menurut dia, tekanan tersebut terlihat dari penurunan harga di level upstream seperti bijih nikel, Nickel Pig Iron (NPI), dan nickel sulphate, sementara demand belum sepenuhnya pulih, khususnya dari sektor baterai.

Namun di sisi lain, ia melihat adanya perubahan struktural besar dari Indonesia, melalui kebijakan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) dan reformasi HPM yang mulai berlaku April ini.

"Ini menjadi sinyal bahwa Indonesia tidak lagi sekadar mengikuti pasar, tetapi mulai mengatur keseimbangan supply dan pricing secara aktif," ujar Meidy dalam keterangan tertulis, Rabu (15/4/2026).

Meidy memandang reformasi HPM kali ini tergolong signifikan. Selain mendorong kenaikan harga acuan hingga 100% sampai 140%, formula baru juga tidak lagi hanya berbasis kandungan nikel, tetapi turut memasukkan unsur lain seperti kobalt, besi, dan krom dalam perhitungan valuasi.

Dampak kebijakan tersebut langsung terasa di pasar global. Harga nikel di bursa London Metal Exchange (LME) tercatat naik dalam beberapa jam setelah pengumuman HPM baru, dari sekitar US$17.090 per ton menjadi US$17.680 per ton.

"Untuk penambang, ini memperkuat dasar harga (price floor). Tapi untuk smelter, terutama HPAL, ini menambah tekanan biaya produksi," ujarnya.

Ia lantas mencatat setidaknya terdapat tiga tantangan utama yang tengah dihadapi industri nikel nasional. Pertama tekanan biaya produksi. Harga sulfur dilaporkan naik hingga di atas US$900 per ton, yang berdampak besar pada operasional smelter HPAL. Kenaikan ini diperkirakan menambah biaya produksi hingga sekitar US$4.000 per ton nikel.

Kedua, ketidakseimbangan permintaan. Sektor stainless steel masih menunjukkan permintaan yang relatif kuat, namun permintaan dari industri baterai belum pulih optimal.

Ketiga, risiko rantai pasok. Indonesia masih bergantung pada impor sulfur, sehingga gangguan geopolitik berpotensi langsung memengaruhi keberlangsungan produksi dalam negeri.

(pgr/pgr) Add as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Resmi! Bahlil Ubah Aturan Harga Patokan Mineral Nikel Cs, Ini Isinya


Most Popular
Features