MARKET DATA

Formula Baru Resmi Berlaku, Harga Nikel Ini Bisa Naik 100%

Verda Nano Setiawan,  CNBC Indonesia
15 April 2026 11:50
FILE PHOTO: A worker holds iron ore at the Krakatau Bandar Samudra port, a subsidiary of PT Krakatau Steel Tbk in Cilegon, Indonesia's Banten province February 21, 2013. REUTERS/Beawiharta/File Photo
Foto: Bijih Besi (REUTERS/Beawiharta)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah resmi memberlakukan formula baru Harga Patokan Mineral (HPM) untuk bijih nikel mulai 15 April 2026. Aturan tersebut tertuang dalam Keputusan Menteri ESDM Nomor 144.K/MB.01/MEM.B/2026 yang merevisi Kepmen Nomor 266 Tahun 2025 tentang pedoman penetapan harga patokan mineral logam dan batubara.

Ketua Umum Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) Sudirman Widhy Hartono menilai perubahan formula HPM membawa dampak signifikan terutama pada bijih nikel jenis limonite.

Menurut dia, dalam formula terbaru kandungan kobalt pada limonite mulai diperhitungkan dalam penentuan harga. Hal ini lantas mendorong potensi kenaikan harga limonite hingga lebih dari 100%.

"Bahkan untuk limonite, kenaikannya mencapai lebih dari 100%, karena kandungan cobalt dalam limonite diperhitungkan dalam formula tersebut. Artinya, keuntungan yang diperoleh penambang akan mengalami kenaikan yang signifikan," ujar Widhy kepada CNBC Indonesia, Rabu (15/4/2026).

Namun demikian, ia mengingatkan bahwa kebijakan ini berpotensi menjadi tekanan berat bagi industri pengolahan nikel (smelter). Kenaikan HPM akan meningkatkan beban biaya produksi di tengah kondisi harga nikel global yang belum sepenuhnya pulih.

"Tanpa kenaikan harga HPM saja, beban biaya operasi pabrik pengolahan nikel saat ini sudah tinggi, sementara harga nikel dunia masih belum kembali ke harga terbaiknya," ujarnya.

Sebagai contoh, untuk smelter berbasis Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) yang memproduksi Nickel Pig Iron (NPI) dan feronikel, tekanan biaya terutama berasal dari kenaikan harga energi, seiring naiknya harga batu bara dan bahan bakar minyak. Sementara, harga NPI di pasar global masih tertekan akibat lemahnya permintaan dan kondisi overproduksi.

Sedangkan, untuk smelter berbasis High Pressure Acid Leaching (HPAL) yang mengolah limonite menjadi Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) menghadapi tekanan yang lebih besar. Hal ini dipicu lonjakan harga asam sulfat sebagai bahan utama proses pelindian.

"Asam sulfat yang merupakan bahan utama untuk proses pelindian, mengalami kenaikan signifikan dalam 3 tahun terakhir, dari harga sebelumnya di bawah US$ 100/ton, sekarang mencapai US$ 250/ton," ujarnya.

Menurut dia, dengan kenaikan harga limonite yang lebih dari 100%, hal ini tentunya akan menyebabkan pabrik HPAL mengalami tekanan paling besar.

Berdasarkan perhitungan Perhapi, kombinasi kenaikan HPM dan lonjakan harga asam sulfat berpotensi mendorong biaya produksi nikel dalam bentuk MHP hingga di atas US$17.000 per ton. Angka tersebut hampir setara dengan harga nikel saat ini di pasar global yang mengacu pada London Metal Exchange.

Pihaknya pun memahami latar belakang dan tujuan dan perubahan atas HPM nikel ini, yaitu salah satunya untuk menaikkan royalti nikel. Namun demikian, PERHAPI menggarisbawahi bahwa kebijakan tersebut mestinya juga mempertimbangkan keberlangsungan industri hilirisasi nikel.

"Sebab jika keekonomisan pabrik pengolahan nikel tidak menarik lagi, dampak dan efek dominonya akan panjang, karna akan menyebabkan pabrik pengolahan nikel berhenti operasi," ujarnya.

(pgr/pgr) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Produksi Dipangkas, Segini Ramalan Harga Nikel


Most Popular
Features