Internasional

Breaking: Trump Sinyal Negosiasi Baru Perang AS-Iran di Pakistan

tfa, CNBC Indonesia
Rabu, 15/04/2026 06:55 WIB
Foto: Presiden AS Donald Trump bericara saat konferensi pers di Ruang Briefing Pers James S. Brady di Gedung Putih di Washington, D.C., AS, 6 April 2026. (REUTERS/Kevin Lamarque)

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memberi sinyal kemungkinan digelarnya kembali pembicaraan dengan Iran dalam waktu dekat, setelah putaran awal negosiasi berakhir tanpa kesepakatan pada akhir pekan lalu.

Dalam wawancara telepon dengan New York Post, Trump menyebut putaran kedua pembicaraan bisa berlangsung "dalam dua hari ke depan" dan berpotensi kembali digelar di Islamabad.

"Anda sebaiknya tetap di sana (di Pakistan), karena sesuatu mungkin terjadi dalam dua hari ke depan, dan kami lebih cenderung untuk pergi ke sana," ujar Trump kepada seorang reporter di Pakistan, seperti dikutip AFP, Rabu (15/4/2026).


Trump sempat menyatakan pembicaraan kemungkinan tidak kembali ke Pakistan, namun beberapa menit kemudian mengubah pernyataannya dan menyebut lokasi tersebut lebih memungkinkan, sambil memuji kepala angkatan darat Pakistan, Asim Munir, yang dinilainya "melakukan pekerjaan yang hebat."

Di tengah sinyal tersebut, para diplomat dilaporkan terus mengintensifkan jalur belakang untuk membuka kembali ruang dialog antara Washington dan Teheran. Upaya ini berlangsung saat ketegangan meningkat setelah AS memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, yang memicu ancaman balasan dari Teheran ke berbagai target di kawasan.

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres turut memperkuat peluang negosiasi lanjutan. Ia menyebut pembicaraan baru "sangat mungkin" terjadi, mengacu pada pertemuannya dengan Wakil Perdana Menteri Pakistan, Ishaq Dar.

Meski demikian, seorang pejabat AS mengatakan pembahasan masih berlangsung dan belum ada jadwal resmi, mengingat isu utama yang menjadi ganjalan tetap terkait ambisi nuklir Iran.

Konflik yang kini memasuki minggu ketujuh telah menimbulkan dampak luas, baik secara kemanusiaan maupun ekonomi global. Ribuan korban jiwa dilaporkan berjatuhan di berbagai negara, termasuk Iran, Lebanon, Israel, serta kawasan Teluk, sementara militer AS juga mencatat korban di tengah eskalasi yang terus meningkat.

Situasi kian kompleks setelah blokade maritim diberlakukan di Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia dalam kondisi normal. Komando Pusat AS menyatakan tidak ada kapal yang berhasil melewati blokade dalam 24 jam pertama, sementara sejumlah kapal dagang diminta berbalik arah dan kembali ke pelabuhan Iran di Teluk Oman.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent menegaskan bahwa kapal tanker asal China tidak akan diizinkan melintas. "Mereka tidak akan bisa mendapatkan minyak mereka," ujarnya di sela pertemuan IMF-Bank Dunia.

Pernyataan ini memicu kritik dari Presiden China Xi Jinping yang menyerukan negara-negara untuk menolak pendekatan sepihak dan menjaga kerja sama multilateral.

Pengetatan di jalur energi global ini telah mendorong lonjakan harga minyak dunia, yang kemudian berdampak pada kenaikan harga bahan bakar, pangan, dan berbagai kebutuhan pokok di banyak negara.

Trump sendiri menilai penguasaan Iran atas jalur tersebut sebagai bentuk "pemerasan" dan mengancam akan menghancurkan kapal militer Iran yang mencoba menantang blokade, sementara Teheran memperingatkan akan melakukan serangan balasan jika diserang.


(tfa/tfa) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Trump: Tuhan Mendukung AS Dalam Perang Dengan Iran