09:19
Video: BI Pastikan Rupiah Baik-baik Saja, 3 Indikator Ini Jadi Bukti
Jakarta, CNBC Indonesia- CNBC Indonesia bersama Bank Indonesia menghadirkan Central Banking Forum 2026 dengan tema "Ketahanan Ekonomi Indonesia dalam Menghadapi Volatilitas Nilai Tukar Global". Forum ini akan mengupas tuntas respons Indonesia dan otoritas moneter menghadapi tantangan global sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi nasional sekaligus menjaga kepercayaan dan perspektif positif pasar.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia, Erwin Gunawan Hutapea menegaskan kembali posisi nilai tukar Rupiah dalam kondisi baik. Dari sisi Inflasi terjaga di 3,8% dengan neraca perdagangan masih kuat serta angka cadangan devisa mampu mencukupi
Sementara Direktur Strategis Stabilitas Ekonomi DJSEF Kementerian Keuangan RI, Noor Faisal Achmad memastikan APBN sehat untuk menopang pertumbuhan ekonomi RI didukung penerimaan pajak tumbuh 10,5% di awal tahun meski belanja Q1-2026 melonjak.
Kemenkeu juga memastikan APBN masih mampu untuk membiayai sektor energi di tengah lonjakan harga energi global. sementara dalam pengelolaan utang negara di tengah kenaikan yield obligasi negara, Kemenkeu mempunyai strategi prudent dan efisien.
Di sisi lain, Chief Economist BCA, David Sumual menyebutkan pelemahan nilai tukar yang dialami oleh mayoritas mata uang termasuk Rupiah karena fokus pasar dalam jangka pendek utamanya terkait harga minyak. Hal ini membuat investor asing melakukan capital outflow di ekuitas dan SBN meskin di SRBI justru mencatatkan capital inflow sehingga bisa menjadi bantalan bagi cadev dan Rupiah.
Selain itu juga butuh langkah pembenahan jangka panjang seperti yang dilakukan Tiongkok yang mengembangkan EBT menekan energi fosil.
Sementara Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE), Mohammad Faisal menyampaikan pandangan terhadap indikator ekonomi yang harus diperhatikan pemerintah dan otoritas moneter di tengah tekanan nilai tukar Rupiah dan gejolak ekonomi global 2026 yang terkait kondisi sektor ril hingga kondisi fiskal dan keuangan.
Jika dibandingkan krisis 1998 maupun Covid-19, salah satu kondisi sektor ril di tengah perang AS Vs Iran pada tahun 2026 yang harus dijaga adalah daya beli kelas menengah yang sempat mengalami tekanan. Selain itu tata kelola fiskal juga harus diperhatikan untuk menjaga kepercayaan investor ke RI
Selengkapnya simak dialog Syarifah Rahma dengan Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia, Erwin Gunawan Hutapea bersama Direktur Strategis Stabilitas Ekonomi DJSEF Kementerian Keuangan RI, Noor Faisal Achmad dan Chief Economist BCA, David Sumual serta Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE), Mohammad Faisal dalam Central Banking Forum 2026, CNBC Indonesia (Selasa, 14/04/2026)
Addsource on Google