55 Juta Ton Semen Numpuk di Pabrik-Belum Laku Terjual, Ada Apa?

Ferry Sandi, CNBC Indonesia
Selasa, 14/04/2026 15:50 WIB
Foto: CNBC Indonesia/ Andrean Kristianto

Jakarta, CNBC Indonesia - Industri semen nasional tengah menghadapi tekanan berat dari sisi permintaan dan biaya produksi. Ketua Pengawas Asosiasi Perusahaan Semen Seluruh Indonesia (Asperssi) Christian Kartawijaya, mengungkapkan kondisi industri yang belum sepenuhnya pulih, bahkan cenderung tertekan akibat ketidakseimbangan antara kapasitas dan kebutuhan pasar.

Permintaan semen, terutama di segmen curah, mengalami penurunan signifikan. Hal ini tidak terlepas dari melambatnya proyek infrastruktur yang selama ini menjadi penggerak utama konsumsi semen.

"Semen kantong tumbuhnya flat, tapi semen curahnya yang anjlok 8,3%, sebabnya karena salah satunya infrastruktur kita dari Rp400-an triliun menjadi hanya Rp85 triliun. Ya, dan ini diikuti dengan berbagai pembangunan yang sedikit melambat dan tidak berjalan sesuai dengan ekspektasi," katanya dalam Halal Bihalal, Selasa (14/4/2026).


Penurunan ini berdampak langsung pada utilisasi pabrik yang kini berada di level rendah. Dengan kapasitas yang berlebih, banyak fasilitas produksi tidak beroperasi optimal.

"Nah saat ini kita sudah over supply ya, 55 juta ton," ujar Christian.

Foto: Produksi Semen Gresik, PT Semen Indonesia (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
Produksi Semen Gresik, PT Semen Indonesia (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Kondisi tersebut diperparah dengan adanya tambahan kapasitas baru di tengah pasar yang belum pulih. Hal ini memicu kekhawatiran terhadap kesehatan industri secara keseluruhan.

"Unfortunately ada satu tambahan lagi pabrikan semen yang lagi dibangun 4 juta ton," sebutnya.

Namun, tantangan tidak hanya datang dari sisi permintaan. Gangguan pasokan bahan baku seperti batu split juga sempat memukul industri, menyebabkan penurunan tajam pada penjualan semen curah.

Kenaikan biaya produksi menjadi tekanan berikutnya. Harga energi yang melonjak berdampak langsung pada operasional, termasuk aktivitas penambangan dan distribusi.

"Industrial fuel saat ini naik mungkin di atas 50 sampai 70%," sebutnya.


(fys/wur) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Malaysia WFH Mulai 15 April, Anwar Ibrahim Tambah Subsidi