Bos Pengusaha Ungkap Produktivitas Pekerja RI Kalah dari Kenaikan Upah
Jakarta, CNBC Indonesia - Pengusaha mengungkapkan produktivitas Indonesia semakin mengkhawatirkan, karena angkanya dinilai semakin rendah.
Ketua Bidang Ketenagakerjaan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Bob Azam mengungkapkan sektor manufaktur RI yang tidak berfungsi optimal membuat produktivitas rendah.
"Kontribusi sektor manufaktur kita termasuk paling rendah di ASEAN, kita yang sebenarnya punya potensi manufaktur tinggi, hanya 19%.
Alhasil, manufaktur sebagai mesin penciptaan pekerjaan sekarang tidak berfungsi secara optimal. Jadi produktivitas kita juga dari waktu ke waktu tidak beranjak, sekarang cuma 2% per tahun kenaikannya," kata Bob Azam dalam paparannya saat rapat dengar pendapat (RDPl bersama Komisi IX DPR RI, terkait Rancangan Undang-Undang (RUU) Ketenagakerjaan, Selasa (14/4/2026).
Di sisi lain, rata-rata upah minimum naik sekitar 7% hingga 8% per tahun. Akhirnya, ada kesenjangan antara produktivitas dengan upah.
"Di sisi lain, upah minimum itu naik sekitar 7% - 8% per tahun. Jadi antara produkivitas dan upah ini terjadi gap. Kita bukan anti kenaikan upah minimum, silahkan.
Kita juga mendukung peningkatan kesejahteraan. Tetapi setelah 10 tahun upah rata-rata 7%-8%, ditambah buruh kita enggak sejahtera juga. Berarti ada something wrong," lanjutnya.
Hal ini membuat buruh dan pengusaha seakan bersama-sama terhimpit karena kondisi yang ada. Sedangkan investor juga mulai meninggalkan sektor manufaktur RI.
"Jadinya, buruh tidak sejahtera, pengusaha terjepit sana-sini, dan investor di sektor manufaktur malah meninggalkan Indonesia, terutama di padat karya," terangnya.
Ia pun berharap undang-undang baru terkait ketenagakerjaan bisa menyelesaikan masalah tersebut di Indonesia, terutama masalah produktivitas yang makin rendah.
"Kita berharap nanti undang-undang yang dibentuk tidak hanya meng-cover masalah ketenagakerjaan, tapi juga bisa menyelesaikan masalah-masalahnya," ujarnya.
(dce) Add
source on Google