MARKET DATA
Internasional

Militer AS Tiba-Tiba Ngamuk di Sini, Kapal Meledak-Makan Korban Jiwa

tps,  CNBC Indonesia
14 April 2026 14:30
Militer AS melakukan serangan terhadap sebuah "kapal yang tidak mencolok" yang diduga menyelundupkan narkoba di Samudra Pasifik bagian timur pada hari Senin, menewaskan satu orang, menurut Komando Selatan AS. (Dok. US Southern Command)
Foto: Militer AS melakukan serangan terhadap sebuah "kapal yang tidak mencolok" yang diduga menyelundupkan narkoba di Samudra Pasifik bagian timur pada hari Senin, menewaskan satu orang, menurut Komando Selatan AS. (Dok. US Southern Command)

Jakarta, CNBC Indonesia - Militer Amerika Serikat kembali melancarkan serangan mematikan terhadap kapal yang dituduh melakukan perdagangan narkoba di Samudra Pasifik bagian timur pada Senin (13/4/2026) waktu setempat. Operasi agresif ini dilaporkan telah menewaskan dua orang di atas kapal tersebut di tengah ketegangan global yang sedang memuncak.

Kampanye serangan terhadap kapal-kapal yang menurut pemerintahan Trump mengangkut narkoba di perairan Amerika Latin ini telah berlangsung selama lebih dari tujuh bulan. Aksi militer ini terus berlanjut secara konsisten meskipun fokus kekuatan militer AS saat ini sedang tersita selama lebih dari enam minggu oleh perang dengan Iran.

Insiden ini menandai hari kedua berturut-turut Komando Selatan AS mengumumkan serangan melalui media sosial. Pihak militer menyatakan pada hari Minggu bahwa mereka telah meledakkan dua kapal di Pasifik timur pada hari Sabtu yang menewaskan total lima orang dan menyisakan satu orang yang selamat, meski nasib orang tersebut belum menemui kejelasan.

Terkait aksi tersebut, Komando Selatan AS memberikan pernyataan resmi mengenai alasan di balik penghancuran kapal-kapal tersebut. Mereka menegaskan bahwa tindakan tersebut merupakan bagian dari pengawasan ketat terhadap jalur ilegal di perairan internasional.

"Kami telah menargetkan para terduga pengedar narkoba di sepanjang rute penyelundupan yang telah diketahui," tulis pernyataan resmi Komando Selatan AS, dilansir The Associated Press.

Dengan serangan terbaru ini, setidaknya 170 orang tercatat telah tewas dalam rangkaian serangan kapal sejak upaya tersebut dimulai pada awal September tahun lalu. Rentetan serangan ini dimulai beberapa bulan sebelum penggerebekan AS pada Januari yang menangkap Presiden Venezuela saat itu, Nicolás Maduro.

Pihak militer hingga kini tidak memberikan bukti konkret bahwa kapal yang dihancurkan memang sedang mengangkut narkoba. Mereka hanya mengunggah sebuah video di platform X yang memperlihatkan sebuah kapal kecil yang sedang mengapung di air sebelum ledakan besar menghantamnya dan mengeluarkan kepulan asap tebal.

Presiden Donald Trump sendiri menegaskan bahwa AS saat ini berada dalam kondisi konflik bersenjata dengan kartel-kartel di Amerika Latin. Ia membenarkan serangan tersebut sebagai eskalasi yang diperlukan untuk membendung aliran narkoba ke negaranya.

"AS sedang dalam 'konflik bersenjata' dengan kartel di Amerika Latin. Serangan ini adalah eskalasi yang diperlukan untuk membendung aliran narkoba ke AS dan overdosis fatal yang merenggut nyawa warga Amerika," tegas Trump.

Meskipun demikian, pemerintahan Trump sejauh ini hanya memberikan sedikit bukti untuk mendukung klaimnya mengenai pembunuhan terhadap "narkoteroris." Trump pada hari Senin justru tampak merujuk pada taktik serangan kapal tersebut saat mengeluarkan ancaman baru terhadap Teheran seiring berlakunya blokade pelabuhan Iran.

Melalui platform Truth Social miliknya, Trump memberikan peringatan keras bahwa jika ada kapal yang mendekati zona blokade, maka nasibnya akan berakhir tragis seperti kapal-kapal di Pasifik.

"Peringatan: Jika salah satu dari kapal-kapal ini mendekati BLOKADE kami, mereka akan segera DIELIMINASI, menggunakan sistem pembunuhan yang sama dengan yang kami gunakan terhadap pengedar narkoba di kapal-kapal di laut," tulis Trump.

(tps/luc) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Kacau! Trump Ancam Serangan Militer ke Meksiko, Kenapa Lagi AS?


Most Popular
Features