Siaga Babak II Perang AS-Iran, Trump Resmi Blockade Selat Hormuz
Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan militernya mulai memblokade kapal-kapal yang meninggalkan pelabuhan Iran pada Senin (13/4/2026) waktu setempat, menandai eskalasi baru konflik dengan Teheran. Langkah ini diambil setelah perundingan untuk mengakhiri perang gagal mencapai kesepakatan.
Dalam pernyataannya di Gedung Putih, Trump menegaskan Iran telah menghubungi Washington untuk membuka kembali negosiasi. Namun, ia menolak kompromi yang memungkinkan Teheran memiliki senjata nuklir.
"Iran tidak akan memiliki senjata nuklir. Kita tidak bisa membiarkan suatu negara mengancam dunia," ujar Trump, seperti dikutip Reuters, Selasa (14/4/2026).
Komando Pusat militer AS sendiri menegaskan blokade akan diberlakukan secara imparsial terhadap semua kapal yang keluar-masuk pelabuhan Iran di Teluk dan Teluk Oman. Namun, jalur transit netral ke tujuan non-Iran disebut tidak akan terganggu.
Seiring eskalasi tersebut, harga minyak dunia kembali melonjak di atas US$100 per barel atau sekitar Rp1,7 juta (kurs Rp17.000/US$), mencerminkan kekhawatiran pasar atas terganggunya pasokan global. Jalur strategis Selat Hormuz yang dilalui sekitar seperlima minyak dunia masih belum menunjukkan tanda-tanda akan kembali normal.
Seorang pejabat AS menyebut komunikasi dengan Iran masih berlangsung dan ada kemajuan menuju kesepakatan. Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif juga menyatakan upaya diplomatik terus dilakukan untuk meredakan konflik.
Namun di lapangan, ketegangan justru meningkat. Trump mengatakan kapal-kapal Iran maupun kapal yang membayar biaya kepada Teheran untuk melintas akan diblokir. Ia bahkan memperingatkan kapal "serangan cepat" Iran yang mendekati area blokade akan dihancurkan.
Dari pihak Iran, Brigadir Jenderal Reza Talaei-Nik memperingatkan bahwa intervensi militer asing di selat tersebut berisiko memperparah krisis dan mengganggu stabilitas energi global. Iran juga menyebut pembatasan pelayaran oleh AS sebagai tindakan "pembajakan".
Sementara itu, dua kapal tanker terkait Iran dilaporkan berhasil meninggalkan selat sebelum batas waktu blokade diberlakukan. Meski demikian, ancaman balasan dari Teheran meningkat, termasuk peringatan bahwa pelabuhan negara-negara di kawasan Teluk tidak akan aman jika Iran diserang.
Gencatan senjata yang sebelumnya menghentikan serangan udara AS dan Israel kini berada di ujung tanduk, dengan masa berlaku tinggal sekitar satu minggu. Washington menyebut Iran menolak tuntutan dalam pembicaraan terbaru, yang merupakan kontak tingkat tinggi pertama sejak Revolusi Islam 1979.
Sekutu NATO seperti Inggris dan Prancis memilih tidak terlibat dalam blokade, dan menekankan pentingnya menjaga jalur pelayaran tetap terbuka. Di sisi lain, konflik meluas ke kawasan lain, termasuk serangan Israel ke Lebanon yang diklaim menargetkan kelompok Hizbullah.
Di tengah tekanan domestik akibat perang dan lonjakan harga energi, Trump sebelumnya menghentikan kampanye pengeboman besar-besaran. Meski begitu, ia tetap mengklaim kemenangan, meski target awal seperti menghentikan program nuklir Iran belum tercapai.
(tfa/tfa) Add
source on Google