Harga Plastik Menggila, Apa Pemerintah Bakal Kasih Insentif?

Robertus Andrianto, CNBC Indonesia
Senin, 13/04/2026 20:37 WIB
Foto: Suasana penjualan aneka plastik di Pasar Kramat Jati, Jakarta Timur, Senin (6/4/2026) yang sedang mengalami kenaikan harga. (CNBC Indonesia/Chandra Dwi)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak mentah dunia yang menjulang tinggi akibat perang di Timur Tengah turut berdampak kepada harga barang turunannya yang semakin mahal, seperti bahan baku plastik, yakni nafta.

Semakin mahalnya nafta membuat harga plastik ikut meningkat di pasar. Ketika harga plastik melonjak, otomatis makanan dan barang kemasan lainnya ikut naik. Di Indonesia, produk dengan kemasan plastik banyak ditemukan di publik.


Kondisi ini otomatis menekan konsumsi dan daya beli masyarakat. Imbasnya pabrik plastik di Tanah Air ikut terjepit. Mereka harus menelan pil pahit karena marjinnya yang berpotensi semakin sempit.

‎Saat majin industri terhimpit, pemerintah mengungkapka m bahwa belum ada rencana insentif untuk industri plastik. Hal ini disampaikan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto.

‎"Belum ada. Biasanya yang namanya industri sesuai dengan siklus, mengikuti aja, ya," ujar Airlangga kepada awak media di kantornya, Jakarta pada Senin (13/4/2026).

Sementara itu, ‎Menteri Perdagangan Budi Santoso pun menjelaskan apa yang menjadi akar permasalahan harga plastik selangit saat ini.

‎"Jadi plastik itu kan memang kita itu impor bahan bakunya untuk biji plastik itu kan nafta ya Itu kan dari timur tengah selama ini Karena imbas perang sehingga terganggu otomatis dari sana," kata Budi Santoso kepada media di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta pada Senin (13/4/2026).

Saat ini, Budi mengatakan pemerintah sedang mencari alternatif bahan baku dari negara lain seperti India, Amerika Serikat, hingga Afrika.

‎"Memang sudah dapat, cuma kan mungkin jumlahnya atau waktu, perlu waktu juga (menyiapkan)," ujarnya.


(haa/haa) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Harga Plastik Naik 50% Imbas Konflik Timur Tengah