MARKET DATA

Freeport Indonesia Jual Emas 33 Ton Sepanjang 2025

Firda Dwi Muliawati,  CNBC Indonesia
13 April 2026 18:25
Direktur Utama PT Freeport Indonesia, Tony Wenas saat mengikuti Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi XII DPR RI di Komplek Parlemen, Senin (13/4/2026). (Tangkapan Layar Youtube/TVR Parlemen)
Foto: Direktur Utama PT Freeport Indonesia, Tony Wenas saat mengikuti Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi XII DPR RI di Komplek Parlemen, Senin (13/4/2026). (Tangkapan Layar Youtube/TVR Parlemen)

Jakarta, CNBC Indonesia - PT Freeport Indonesia (PTFI) mencatat kinerja produksi dan penjualan sepanjang 2025 belum sepenuhnya memenuhi target yang ditetapkan dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2025. Kondisi ini salah satunya dipengaruhi oleh insiden operasional yang terjadi pada September 2025.

Presiden Direktur PTFI Tony Wenas memaparkan, volume penjualan tembaga hanya mencapai 1,2 miliar pon atau sekitar 71% dari target 1,7 miliar pon. Sementara, penjualan emas tercatat sebesar 1,1 juta ounce atau 33 ton, sekitar 49% dari target 2025 sebesar 2,2 juta ounce atau 67 ton.

Menurut dia, tidak tercapainya target ini dikarenakan adanya insiden luncuran material basah yang terjadi pada 8 September 2025, yang berdampak pada operasional tambang dan mengakibatkan produksi turun.

"Kami memang saat kejadian itu terjadi kami hentikan seluruh kegiatan operasional di seluruh tambang. Jadi berhenti total, baru mulai menambang lagi pada tanggal 20 Oktober tahun 2025 setelah seluruh korban itu ditemukan dan diantar pulang ke tempat peristirahatan masing-masing," kata Tony dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi XII DPR RI, Senin (13/4/2026).

Meski demikian, kenaikan harga komoditas berhasil menopang pendapatan perusahaan. Sebagai contoh, harga tembaga rata-rata mencapai US$4,53 per pon atau 121% dari asumsi RKAB, sementara harga emas melonjak hingga US$3.418 per ounce atau 180% dari target.

Sejalan dengan hal tersebut, pendapatan penjualan Freeport sepanjang 2025 tercatat sebesar US$8,6 miliar atau 83% dari target. Capaian ini lalu berdampak pada penerimaan negara yang mencapai US$4,3 miliar atau 116% dari rencana.

"Dan dari hasil itu penerimaan negara di tahun 2025 itu bisa mencapai 4,3 miliar dolar, malah di atas rencana kerja dikarenakan memang ada pajak perseroan badan yang kami harus bayarkan secara bulanan di instal setiap bulan yang jumlahnya mengacu kepada hasil 2024," ujarnya.

(ven/wia) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Bahlil Sebut Semua Target Produksi Tambang di 2026 Dipangkas, Ada Apa?


Most Popular
Features