Anak Buah Tito Karnavian Langsung Minta Maaf Usai Bilang Kata-Kata Ini

Redaksi, CNBC Indonesia
Senin, 13/04/2026 13:10 WIB
Foto: Sekretaris Jenderal Kemendagri Komjen Pol Tomsi Tohir dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah Tahun 2026, Senin (13/4/2026). (Tangkapan layar Youtube Kemendagri)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) menyoroti pergerakan harga pangan yang masih tetap jadi momok. Padahal, rapat pengendalian inflasi yang melibatkan lintas sektor dan semua kepala daerah, sudah berlansung selama 163 kali, sejak dimulai tahun 2022 silam.

Sekretaris Jenderal Kemendagri Komjen Pol Tomsi Tohir bahkan dengan keras memperingatkan Kepala-Kepala Daerah akibat lonjakan harga pangan yang tak terkendali.

Padahal, tukasnya, Indonesia adalah negara hebat. Di mana, ketika banyak negara menaikkan harga BBM akibat lonjakan harga minyak dunia, Indonesia justru bertahan.


"Saya ingin memberikan gambaran, negara kita ini cukup tangguh. Kalau mau diakui, kalau hebat ya hebat. Itu bukti yang tidak bisa dibantah. Kita lihat harga BBM masih Rp9.300, Singapura Rp53.000 per liter," katanya dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah Tahun 2026, ditayangkan kanal Youtube Kemendagri, Senin (13/4/2026),

"Kepala daerah Forkompinda, Kementan, Kemendag coba lihat, begitu hebatnya negara kita. Tapi, urusan cabai, urusan bawang, nggak selesai-selesai," tukas Tomsi.

Dia pun menyoroti daerah-daerah yang mengalami lonjakan harga bawang merah yang signifikan di pekan kedua bulan April 2026 ini. Seperti di Kabupaten Gunung Mas mengalami lonjakan harga bawang merah sampai 57,52% (di atas HET), di Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan naik 44,58%, bahkan di Kabupaten Supiori melejit sampai 92,77% (di atas HET).

"Pertanyaan kita tentunya apakah bawang merah memang tidak bisa tumbuh di sana? Kalau memang bisa, melalui BUMD saja, ditanam, nggak terlalu luas lah untuk masyarakatnya sendiri, supaya jangan beli mahal-mahal. Atau ajak pihak ketiga. Kalau naik tinggi gini pasti untung, harga normal saja untung," cetusnya.

Juga, kenaikan harga cabai rawit merah yang sampai 203,44% di Kabupaten Kepulauan Aru, lalu di Kabupaten Supiori naik 124,17% (di atas HET), dan di di Kabupaten Maluku Tenggara melonjak 163,16% (di atas HET).

"Bapak Ibu sekalian, yang namanya nanam cabai, di pot lah, kita tanam, kita siram tinggal tidur, tumbuh. Kalau nggak percaya tanya Kementan. Tanam bijinya, siram, tinggal tidur saja tumbuh," ucapnya.

"Jadi kalau ada yang mengatakan kesulitan teknis, saya heran. Kalau masyarakat di daerah tahu dan gemar makan cabai, cobalah usaha coba pikirkan, ada rasa bertanggung jawab sedikit. Sudah penggemar cabai kemudian tidak menanam cabai," sambungnya.

Padahal, imbuh dia, daerah-daerah yang selama ini penggemar cabai adalah daerah-daerah yang sama juga. Mulai dari seluruh seluruh Sumatra, Sulawesi Utara, dan sebagian Indonesia Timur.

"Apakah kita tidak paham kebutuhan masyarakat kita? 'Sulit tanam cabai rawit, pak.'Kan saya sudah bilang tanam bibitnya, taruh bibitnya di pot, tinggal tidur. tumbuh dia. Gitu loh," kata Toms.

"Mohon maaf kalau saya sampai bilang seperti ini. Kenapa? Ini permasalahan klasik, itu-itu terus. Kita selalu berhadapan kita dengan cabai, bawang. Padahal di dunia internasional kita lihat bagaimana ketangguhan negara kita. Yang lain harganya naik kita nggak naik tuh BBM," ujarnya.

Jika pemerintah menaikkan harga BBM, ucapnya, akan memicu lonjakan hara-harga semua barang.

"Karena semua barang diangkut pakai kendaraan. Pesawat, truk, pikap, apa pun, semua pakai BBM. Dengan tidak ada kenaikan itu, Bapak Preside memberi kebijakan yang tentunya dengan segala risiko. Jadi, kita yang di bawah in, urusan kecil-kecil gini cobalah kita untuk mengatasiya. Kami mohon kesadarannya dalam hal seperti ini," kata Tomsi.

"Saya tidak berharap ada zoom setengah kamar untuk mengulang lagi, membahas cabai,bawang merah. Mohon maaf Bapak Ibu sekalian, kita semua sangat paham dan sekolah kita tingi-tinggi. Masa harus ada lagi zoom setengah kamar untuk wilayah yang tadi harga bawang dan cabainya naik tinggi," ujarnya.

Tomsi pun mengingatkan semua Kepala Daerah dan jajarannya memahami kebutuhan di wilayahnya dan tidak cari alasan. Demi pemenuhan kebutuhan pokok masyarakat.

"Karena kita makan 3 kali sehari. Kalau bangun jalan, belum tentu lewat jalan itu 3 kali sehari. Karena itu fokus utama tolong betul-betul diperhatikan. Tidak ada alasan berkaitan anggaran kecil. Ya tanam sedikit aja. Ini itu. Mudah-mudahan dari Kementan juga ada solusi," kata Tomsi.

Foto: Sekretaris Jenderal Kemendagri Komjen Pol Tomsi Tohir dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah Tahun 2026, Senin (13/4/2026). (Tangkapan layar Youtube Kemendagri)
Sekretaris Jenderal Kemendagri Komjen Pol Tomsi Tohir dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah Tahun 2026, Senin (13/4/2026). (Tangkapan layar Youtube Kemendagri)


(dce/dce) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Amankan Pupuk,Kementan Tak Ambil Bahan Baku dari Wilayah Perang