MARKET DATA

BI Tegaskan Harga BBM Tak Naik Bisa Bikin Rupiah Terjaga

Robertus Andrianto,  CNBC Indonesia
13 April 2026 11:27
Keynote Speech Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti dalam acara Central Banking Forum 2026, di Grand Ballroom Hotel Mandarin Oriental, Jakarta, Senin (13/4/2026). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
Foto: Keynote Speech Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti dalam acara Central Banking Forum 2026, di Grand Ballroom Hotel Mandarin Oriental, Jakarta, Senin (13/4/2026). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengakui bahwa kebijakan pemerintah dalam mempertahankan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi seperti Pertalite bisa berimplikasi positif terhadap penguatan kurs rupiah.

Terutama karena saat harga minyak mentah dunia tengah bergejolak akibat konflik di Timur Tengah antara Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel mengganggu salah satu jalur utama migas dunia, Selat Hormuz, pemerintah bisa memastikan stabilnya harga BBM di dalam negeri.

"Pemerintah tidak naikkan harga BBM ini positif jaga rupiah ke depannya," kata Destry dalam acara Central Banking Forum 2026 CNBC Indonesia di Jakarta, Senin (13/4/2026).

Menurut Destry, tekanan terhadap kurs sejauh ini sebetulnya lebih disebabkan menguatnya indeks dolar (DXY). Hal ini membuat pergerakan kurs dolar terhadap berbagai mata uang negara lain tengah tinggi-tingginya, termasuk rupiah.

"Apakah Indonesia sendirian? Enggak. Sejak adanya serangan di Iran beberapa negara ada depresiasi dalam. Kita juga minus 1,91% di posisi year to date. Pergerakan nilai tukar tidak sendirian," tutur Destry.

Sebagaimana diketahui, Nilai tukar rupiah dibuka melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pertama pekan ini, Senin (13/4/2026), seiring penguatan dolar AS di pasar global.

Merujuk data Refinitiv, mata uang Garuda mengawali perdagangan di zona merah pada level Rp17.100/US$ atau terdepresiasi sebesar 0,09%. Pelemahan ini terjadi setelah pada perdagangan terakhir, Jumat (10/4/2026), rupiah juga ditutup melemah tipis 0,03% ke posisi Rp17.085/US$.

Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, pada pukul 09.00 WIB terpantau menguat 0,37% ke level 99,010.

Dolar AS melonjak terhadap mata uang utama dunia seiring investor kembali memburu aset aman setelah pembicaraan panjang antara Washington dan Tehran belum menghasilkan kesepakatan damai. Kondisi ini membuat pasar kembali dibayangi ketidakpastian yang telah berlangsung hingga pekan ketujuh.

(arj/haa) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Rupiah Dibuka Perkasa, Dolar AS Jadi Rp16.750


Most Popular
Features