Pengusaha Ramal Nasib Motor Listrik di RI Begini
Jakarta, CNBC Indonesia - Persaingan industri motor listrik di Indonesia kian memanas seiring bertambahnya jumlah pemain baru. Di tengah tekanan harga dan potensi margin yang menipis pada 2026, pelaku industri tetap melihat peluang pertumbuhan yang menjanjikan.
CEO Alva, Purbaja Pantja, menilai ketatnya kompetisi justru menjadi sinyal positif bagi masa depan industri kendaraan listrik roda dua di Tanah Air.
"Kalau kita cerita mengenai persaingan betul banget bahwa kalau kita cerita persaingan itu sudah sangat ketat dan saya melihatnya sebagai sesuatu optimisme bahwa pelaku usaha di motor listrik pun juga mempunyai animo yang sama dalam arti bahwa pemain-pemain ini merasa bahwa ini adalah industri yang baik untuk digeluti. Nah, dengan itu pun berarti kita bisa beroptimisme bareng-bareng bahwa industri ini akan terus berkembang ke depannya," ujarnya dalam keterangan tertulisnya (12/4/2026).
Di sisi lain, kesiapan industri dalam negeri menjadi kunci untuk menghadapi dinamika pasar. Penguatan kandungan lokal hingga rantai pasok dinilai akan menentukan daya tahan pelaku usaha di tengah tekanan biaya.
"Kita akan support terus industri nasional di sini. TKDN kami sekarang sudah mencapai 40-an persen untuk semua produk-produk kami. Dan kami juga tahu bahwa dari segi pemerintah juga ada rencana untuk meningkatkan TKDN itu menjadi 60% ya kan. Nah, jadi semua langkah-langkah yang kita lakukan itu ditujukan untuk mencapai target dari yang pemerintah sudah sampaikan," kata dia.
Upaya tersebut juga diarahkan untuk memperkuat ekosistem kendaraan listrik secara menyeluruh, mulai dari hulu hingga hilir, yang diharapkan mampu menopang pertumbuhan jangka panjang industri.
Foto: PT. Ilectra Motor Group (IMG), selaku perusahaan yang menghadirkan lifestyle mobility solution melalui merek motor listrik ALVA. (Dok.Alva)PT. Ilectra Motor Group (IMG), selaku perusahaan yang menghadirkan lifestyle mobility solution melalui merek motor listrik ALVA. (Dok.Alva) |
Di tengah kompetisi harga, tantangan lain datang dari persepsi konsumen, khususnya terkait nilai jual kembali dan daya tahan motor listrik. Alva menempatkan layanan purna jual sebagai salah satu strategi utama untuk membangun kepercayaan pasar.
"Bagaimana kita memastikan bahwa layanan purna jual kita itu juga terus bisa berjalan dengan baik. Juga hal-hal yang berkaitan dengan komitmen kami untuk memastikan bahwa parts yang diperlukan, spare parts yang diperlukan itu juga available dalam jangka waktu yang panjang," jelasnya.
Selain itu, fleksibilitas layanan bagi pengguna juga terus dikembangkan guna meningkatkan kenyamanan dan keyakinan konsumen dalam jangka panjang.
Seiring berakhirnya insentif pemerintah untuk pembelian motor listrik, kekhawatiran terhadap daya beli sempat mencuat. Namun, Alva melihat fondasi permintaan pasar kini sudah lebih kuat dibandingkan fase awal adopsi.
"Menurut kami masa itu memang sudah lewat dalam pengertian bahwa edukasi pasar mengenai elektrifikasi sudah terjadi. Jadi kalau kita cerita mengenai demand ke depannya, kami merasa yakin bahwa demand-nya itu sudah terbentuk dan akan terus bertumbuh ke depannya," ungkapnya.
(wur/wur) [Gambas:Video CNBC]
Foto: PT. Ilectra Motor Group (IMG), selaku perusahaan yang menghadirkan lifestyle mobility solution melalui merek motor listrik ALVA. (Dok.Alva)