MARKET DATA

Disebut Bos Danantara Tidak Terkontrol, Ternyata RI Impor Gula Segini

Martyasari Rizky,  CNBC Indonesia
08 April 2026 19:25
Impor Gula Pasir Ditengah Lonjakan Harga. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
Foto: Impor Gula Pasir Ditengah Lonjakan Harga. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Indonesia masih mengimpor gula dalam jumlah besar meski produksi dalam negeri meningkat. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, impor gula nasional sepanjang 2025 mencapai 3,93 juta ton.

Wakil Kepala BPS Sonny Harry Budiutomo Harmadi mengatakan, angka tersebut berasal dari impor gula dengan kode Harmonized System (HS) 1701.

"Secara total kita pada tahun 2025 melakukan impor terhadap komoditas gula ini di Harmonize System (HS) Code 1701 itu sebesar 3,93 juta ton," ungkap Sonny dalam Rapat Kerja bersama Komisi VI DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (8/4/2026).

Adapun impor gula Indonesia, katanya, masih didominasi dari sejumlah negara, termasuk Brasil. "Memang impor kita paling banyak berasal dari beberapa negara, termasuk dari Brasil," ujarnya.

Sementara, jika melihat data BPS untuk impor gula tahun 2017-2024 (data diperbarui tanggal 29 Juli 2025), volume impor gula Indonesia selalu berkisar di 4,5-6 juta ton, dengan tren fluktuas cenderung meningkat.

Tahun 2017, impor gula RI tercatat sebanyak 4,48 juta ton, di tahun 2020 sebanyak 5,53 juta ton, tahun 20223 sebanyak 5,06 juta ton, dan tahun 2024 mencapi 5,31 juta ton.

Impor tahun 2022 tercatat sebagai yang tertinggi, mencapai 6,007 juta ton. Meski secara nilai bukan yang tertinggi.

Nilai impor gula tertinggi di periode tersebut tercatat terjadi pad atahun 2024, mencapai US$3,028 miliar. Sementara di tahun 2022 tercatat senilai Rp2,998 miliar. 

Sementara di sisi produksi, BPS mencatat produksi gula kristal putih (GKP) nasional juga meningkat 8,22%, yang mengalami kenaikan menjadi 2,67 juta ton pada tahun 2025. Menurutnya, peningkatan produksi juga ditopang oleh kenaikan luas panen tebu.

"Hal ini juga dipengaruhi oleh peningkatan luas panen tebu dari 521 ribu hektare menjadi 563 ribu hektare di tahun 2025 atau naik 8,17 persen. Lalu kemudian disusul dengan konsumsi rumah tangga yang menurun. Jadi kita punya kemampuan peningkatan produksi di satu sisi, di sisi lain kita mengalami penurunan konsumsi gula untuk rumah tangga," terang dia.

Meski demikian, ketergantungan impor masih belum bisa dihindari. "Secara total kita masih melakukan impor 3,93 juta ton, dan secara umum sebetulnya pasokan domestik kita membaik, tetapi kita masih memiliki ketergantungan terhadap impor," kata Sonny.

Sementara itu, Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso memaparkan perkembangan impor komoditas turunan gula berupa etanol. Di mana pada tahun 2025, Kementerian Perdagangan telah menerbitkan 13 persetujuan impor bahan bakar lain atau etanol dengan alokasi sebesar 13.284.141 liter dan realisasi sebesar 2.373.594 liter atau 17,87%.

"Adapun, untuk tahun 2026 sampai dengan tanggal 30 Maret 2026 telah diterbitkan 6 persetujuan impor bahan bakar lain atau etanol dengan alokasi 6.937.565 liter dan belum ada realisasi impor sampai sekarang," kata Budi dalam kesempatan yang sama.

Sebelumnya, Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria menyoroti derasnya impor gula yang dinilai tidak terkendali dan berdampak pada industri dalam negeri.

"Tahun ini, Sugar Co membukukan rugi Rp 680 miliar akibat daripada harga yang memang tidak cukup baik, akibat daripada impor gula yang tidak terkontrol," kata Dony.

Ia menjelaskan, masuknya gula rafinasi ke pasar konsumsi membuat harga gula lokal tertekan dan industri sulit berkembang. Menurutnya, kondisi ini berpotensi terus menekan industri gula nasional jika tidak segera dibenahi.

Dony juga menyinggung langkah intervensi pemerintah yang telah dilakukan, namun dinilai belum efektif memperbaiki pasar.

"Saya dengan Pak Mentan (Menteri Pertanian Amran Sulaiman) sudah berkali-kali, sebetulnya kita melakukan subsidi ke dalam pasar untuk mengambil seluruh gula dari masyarakat sebesar Rp1,5 triliun. Tetapi itu juga tidak memberikan dampak yang signifikan," ujarnya.

Impor Gula menurut Negara Asal Utama periode tahun 2017-2024 per 29 Juli 2025. (Dok. Tangkapan layar laman resmi BPS)Foto: Impor Gula menurut Negara Asal Utama periode tahun 2017-2024 per 29 Juli 2025. (Dok. Tangkapan layar laman resmi BPS)
Impor Gula menurut Negara Asal Utama periode tahun 2017-2024 per 29 Juli 2025. (Dok. Tangkapan layar laman resmi BPS)

(dce) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Amran Yakin RI Tak Impor Gula Konsumsi Tahun 2026, Ini Jurusnya


Most Popular
Features