Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, menegaskan komitmennya untuk melakukan pengawasan ketat terhadap seluruh aktivitas usaha yang berpotensi menurunkan kualitas lingkungan, khususnya udara dan air permukaan di wilayah Jabodetabek. Menurutnya, tren penurunan kualitas udara di kawasan ini semakin mengkhawatirkan. (CNBC Indonesia/Tri Susilo) (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
"Hari ini dan seterusnya kami akan melakukan pengamatan ketat kepada seluruh unit usaha yang berkontribusi terhadap turunnya kualitas udara, terutama di daerah aglomerasi berat seperti Jabodetabek. Setiap hari, kualitas udara semakin menurun, baik per minggu, per bulan, maupun per tahun," ujar Hanif saat acara Anugerah Lingkungan PROPER 2025, Selasa (7/4/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Selain kualitas udara, kondisi air permukaan juga mengalami penurunan. Hanif mengungkapkan, setidaknya 13 sungai utama di Jabodetabek saat ini berada pada status tercemar sedang hingga berat, menunjukkan perlunya perhatian serius dari berbagai pihak. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
"Kualitas air permukaan kita juga tidak terlalu baik. Hampir seluruh 13 sungai utama di Jabodetabek berada dalam kondisi tercemar sedang sampai berat," katanya. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
Penurunan kualitas lingkungan tidak hanya berdampak pada udara dan air, tetapi juga menyebabkan berkurangnya tutupan lahan dan menurunnya biodiversitas. Hanif menekankan pentingnya kerja sama semua pihak, termasuk perusahaan, dalam menjaga kelestarian lingkungan. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Ia juga mengapresiasi perusahaan-perusahaan yang telah berkomitmen menjaga lingkungan melalui program pengelolaan lingkungan yang baik. Penghargaan predikat biru, menurut Hanif, mencerminkan upaya serius perusahaan dalam memenuhi RKL-RPL, yang berkontribusi pada ketahanan lingkungan. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
"Terima kasih kepada perusahaan-perusahaan yang mendapatkan predikat hijau maupun biru. Upaya Bapak-Ibu sangat luar biasa dan menjadi contoh nyata bagi peningkatan kualitas lingkungan kita," tutup Hanif. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)