MARKET DATA
Internasional

Tetangga RI Panik Harga BBM Meledak, PM Serukan WFH Nasional

Thea Fathanah Arbar,  CNBC Indonesia
07 April 2026 19:55
Para pengemudi mengantre dalam kemacetan lalu lintas sambil menunggu untuk mengisi bahan bakar kendaraan mereka di luar sebuah SPBU, sebelum pembekuan harga solar di Thailand berakhir pada hari Senin, di tengah kekhawatiran tentang kenaikan harga bahan bakar yang terkait dengan konflik AS-Israel dengan Iran, di provinsi Nakhon Pathom, di pinggiran Bangkok, Thailand, 16 Maret 2026. (REUTERS/Chalinee Thirasupa)
Foto: Para pengemudi mengantre dalam kemacetan lalu lintas sambil menunggu untuk mengisi bahan bakar kendaraan mereka di luar sebuah SPBU, sebelum pembekuan harga solar di Thailand berakhir pada hari Senin, di tengah kekhawatiran tentang kenaikan harga bahan bakar yang terkait dengan konflik AS-Israel dengan Iran, di provinsi Nakhon Pathom, di pinggiran Bangkok, Thailand, 16 Maret 2026. (REUTERS/Chalinee Thirasupa)

Jakarta, CNBC Indonesia - Perdana Menteri (PM) Thailand Anutin Charnvirakul menyerukan masyarakat untuk bekerja dari rumah (WFH). Seruan ini muncul di tengah lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) yang dipicu tekanan krisis energi global.

Dalam pernyataan yang disampaikan melalui media sosial, Anutin meminta partisipasi aktif warga dan sektor swasta untuk menghemat energi, seiring meningkatnya risiko akibat ketergantungan Thailand pada impor minyak dan gas.

"Saya juga meminta kerja sama dari seluruh warga dan sektor swasta untuk menghemat energi, baik melalui WFH (bekerja dari rumah) atau WFA (bekerja dari mana saja), mengurangi penggunaan mobil pribadi dan beralih ke transportasi umum, berbagi kendaraan, serta menggunakan listrik secara bertanggung jawab," ujarnya, seperti dikutip The Guardian, Selasa (7/4/2026).

Lonjakan harga energi menjadi pemicu utama imbauan tersebut. Harga solar di Thailand dilaporkan telah menembus 50 baht per liter atau sekitar Rp26.170, melonjak dari kisaran 30 baht per liter pada akhir Februari.

Anutin menegaskan meskipun Thailand memiliki cadangan minyak yang relatif tinggi dibandingkan sejumlah negara lain, posisinya sebagai importir energi membuat negara tersebut tetap rentan terhadap gejolak global.

"Kita tidak bisa berpuas diri dan mengelola sumber daya minyak kita seperti yang telah kita lakukan di masa lalu," katanya.

Sebagai bagian dari upaya penghematan energi, pemerintah Thailand juga mulai membatasi perjalanan dinas luar negeri bagi aparatur negara serta mengimbau penggunaan pakaian kerja yang lebih ringan guna mengurangi konsumsi pendingin ruangan.

Di sisi lain, Kementerian Perdagangan Thailand akan memperketat ekspor minyak sawit mentah dan mengendalikan harga minyak sawit kemasan guna menjaga pasokan domestik di tengah meningkatnya kebutuhan biodiesel.

Kenaikan tajam harga BBM mulai membebani berbagai sektor, mulai dari pertanian hingga transportasi dan pariwisata. Kondisi ini terjadi menjelang Songkran, momen penting yang biasanya mendorong lonjakan mobilitas dan kunjungan wisata.

Namun, pelaku industri pariwisata mengkhawatirkan perayaan tahun ini akan lebih sepi akibat tingginya biaya perjalanan dan potensi gangguan penerbangan.

Sejumlah negara di kawasan Asia juga mulai mengambil langkah serupa untuk menekan konsumsi energi, seperti penerapan sistem kerja empat hari di sektor publik di Sri Lanka dan Filipina, serta dorongan kerja dari rumah di Vietnam.

Sementara itu, Indonesia turut menyesuaikan kebijakan dengan menaikkan biaya tambahan bahan bakar jet sebesar 28 poin persentase dan mengizinkan maskapai menaikkan tarif tiket domestik hingga 13%.

 

(luc/luc) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Hemat Bensin di Tengah Krisis, Filipina Terapkan Kerja 4 Hari Sepekan


Most Popular
Features