MARKET DATA

Warga RI Siap-Siap Beli Baju Makin Mahal! 1 Pekan Lagi Harga Kain Naik

Damiana,  CNBC Indonesia
07 April 2026 15:54
Pengunjung melihat produk yang dijual pada salah satu tenan di Pusat Perbelanjaan Kota Kasablanka, Jakarta, Kamis (26/3/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)
Foto: Pengunjung melihat produk yang dijual pada salah satu tenan di Pusat Perbelanjaan Kota Kasablanka, Jakarta, Kamis (26/3/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Warga RI tampaknya harus menyiapkan dana lebih untuk beli baju. Setidaknya dalam sepekan ke depan, harga kain diprediksi bakal naik.

Hal itu disampaikan Ketua Umum Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filament Indonesia (APSyFI) Redma Gita Wirawasta. Kata dia, industri tekstil dan produk tekstil (TPT) kini kian tertekan harga bahan baku akibat konflik Timur Tengah yang mengerek harga minyak dunia hingga sekitar US$110 per barel.

"Harga paraxylene yang merupakan bahan baku utama polyester saat ini sudah berada di level US$1.300 per ton atau naik sekitar 40% dari 2 minggu yang lalu. Kenaikan harga ini belum sepenuhnya sampai ke industri hilir," katanya, Selasa (7/4/2026).

"Domino effect yang disebabkan kenaikan harga bahan baku tekstil akan berimbas secara bertahap hingga 3 minggu ke depan. Dalam 1 minggu ke depan, kenaikan harga ini akan terdistribusi ke produsen kain dan 2 minggu berikutnya akan terdistribusi ke sektor pakaian jadi," sambung Redma.

Tak berhenti di situ, lanjutnya, penyesuaian harga akan berlanjut ke sektor ritel. Tak dapat dihindari, akan terjadi kenaikan harga barang jadi di ritel.

"Diperkirakan kenaikan di sektor ritel akan berada di sekitar 10%," ucapnya.

Permintaan Naik, Utilisasi Pabrik Rendah

Sementara itu, Redma menambahkan, saat ini permintaan di pasar masih dalam level yang stabil dengan kecenderungan meningkat. Penyebabnya, kenaikan harga bahan baku dan barang impor yang lebih tinggi dari produk lokal.

"Hingga saat ini, bahan baku baik untuk polyester maupun rayon yang diproduksi di dalam negeri belum ada kendala, barangnya ada, hanya harganya yang tinggi," ujarnya.

Meski begitu, sambungnya, secara keseluruhan tingkat utilisasi nasional produsen polyester masih di bawah 40% dan utilisasi produsen rayon sekitar 70%.

"Belum bisa jalan full karena yang sudah berhenti tidak mau jalan lagi selama pemerintah membiarkan praktik unfair terus terjadi di pasar domestik," tukasnya.

"Jadi saat ini para produsen yang masih jalan hanya melayani konsumen loyal saja, mereka yang biasa menggunakan bahan baku impor tidak diprioritaskan," kata Redma.

(dce/dce) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Serikat Buruh Ungkap 126.160 Pekerja Kena PHK per Oktober 2025


Most Popular
Features