Mentan Blak-Blakan RI Masih Impor Menir, Padahal Stok Beras Melimpah
Makassar, CNBC Indonesia - Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman mendorong langkah hilirisasi beras untuk menekan impor beras pecah atau menir yang selama ini masih masuk ke Indonesia. Ia menegaskan kebutuhan menir bisa dipenuhi dari stok dalam negeri dengan cara memecah beras utuh yang tersedia di gudang.
Hal ini disampaikan Amran merespons wacana pengolahan beras yang sudah turun mutu menjadi tepung beras oleh Perum Bulog. Menurutnya, langkah tersebut tepat dan perlu diperluas untuk menggantikan impor menir.
"Itu bagus. Nah, itu bagus. Kenapa? Karena kan ada impor nih menir," kata Amran saat ditemui di Gudang Bulog Panaikang, Makassar, Sulawesi Selatan, Minggu (5/4/2026).
Amran mengatakan, daripada mengimpor, pemerintah dapat mengolah beras yang ada menjadi menir sesuai kebutuhan industri.
"Janganlah impor menir. Terus gimana caranya? Saya gilingkan. Ini beras bagus, ini aku menirkan. Selesai, kan? Yang penting beras, kan?" ujarnya.
Ia menjelaskan, proses pemecahan beras bisa menjadi solusi cepat untuk memenuhi kebutuhan tanpa harus bergantung pada pasokan luar negeri.
"Jadi yang impor beras menir itu, pecah. Nah, aku pecahkan, giling. Artinya, seluruh sektor kita tutup (impornya), kita manfaatkan (hilirisasi)," terang dia.
Menurutnya, selama ini impor menir bisa mencapai ratusan ribu ton per tahun, padahal stok dalam negeri dinilai mencukupi.
"Biasanya impor itu sampai 200-500 ribu ton. Indonesia ada. Ayo, ambil di gudang kita," kata Amran.
Ia menegaskan, jika industri membutuhkan beras pecah, maka pemerintah siap mengolahnya dari stok yang ada.
"Karena dia butuh beras pecah, kita pecahkan dulu," sambungnya.
Amran juga memastikan kebijakan hilirisasi beras ini bisa dilakukan kapan saja, mengingat ketersediaan stok saat ini dalam kondisi melimpah.
"Kapan (saja) dibutuhkan. Karena berasnya sudah ada," ujar dia.
Ia mengaku telah meminta jajaran Bulog untuk segera menindaklanjuti langkah tersebut, terutama untuk mengoptimalkan pemanfaatan stok beras yang ada di gudang.
"Kapan? Saya bilang tindak lanjuti, ada yang minta? Berikan. Karena beras ini, daripada sewa gudang, kita sudah sewa 2 juta ton kapasitas ini," ucap Amran.
Sebelumnya, pemerintah masih mencatat adanya impor beras jenis tertentu, termasuk menir, untuk kebutuhan industri. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), impor beras pada Oktober 2025 tercatat sebesar 40,7 ribu ton.
Secara kumulatif, impor beras sepanjang Januari hingga Oktober 2025 mencapai 364,3 ribu ton dengan nilai US$178,5 juta atau setara Rp2,97 triliun. Seluruh impor tersebut merupakan beras khusus dan industri, bukan beras medium untuk konsumsi umum.
Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kementerian Pertanian Moch Arief Cahyono menjelaskan, beras impor yang masuk mayoritas berupa beras pecah 100% atau menir (HS 1006.40.90) yang digunakan sebagai bahan baku industri.
Selain itu, impor juga mencakup beras khusus untuk kebutuhan tertentu seperti penderita diabetes, serta beras untuk restoran dan hotel. Termasuk pula varietas khusus seperti basmati, jasmine, dan japonica yang memang tidak diproduksi di dalam negeri.
(hsy/hsy) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]