Trump Beri Iran Tenggat Waktu 48 Jam, Pilih Sepakat atau Hadapi Neraka
Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Donald Trump mengatakan bahwa Tehran memiliki waktu 48 jam untuk mencapai kesepakatan atau menghadapi "neraka besar".
Adapun, pasukan AS dan Iran tengah berupaya keras mencari seorang pilot Amerika yang jatuh. Ancaman terbaru Trump muncul setelah serangan di dekat pembangkit listrik tenaga nuklir Iran memicu evakuasi, dan ketika Teheran mengumumkan serangan baru di wilayah tersebut, dengan Garda Revolusi mengatakan mereka menyerang kapal dagang di Bahrain yang diduga terkait dengan Israel.
Perang meletus lebih dari sebulan yang lalu dengan serangan AS-Israel terhadap Iran, memicu pembalasan yang telah menyebarkan konflik ke seluruh Timur Tengah dan mengguncang ekonomi global - khususnya karena penutupan Selat Hormuz, jalur vital untuk minyak dan gas.
"Ingat ketika saya memberi Iran sepuluh hari untuk MEMBUAT KESEPAKATAN atau MEMBUKA SELAT HORMUZ," tulis Trump di Truth Social, merujuk pada ultimatum yang dikeluarkan pada 26 Maret lalu.
"Waktu hampir habis - 48 jam sebelum malapetaka menimpa mereka."
Trump awalnya mengancam pada 21 Maret untuk "menghancurkan" pembangkit listrik Iran, dimulai dengan yang terbesar di negara itu, "jika Iran tidak sepenuhnya membuka, tanpa ancaman, Selat Hormuz, dalam waktu 48 jam".
Namun, dua hari kemudian, ia mengatakan "percakapan yang sangat baik dan produktif" sedang dilakukan dengan pihak berwenang Iran, dan bahwa ia telah menunda serangan apa pun terhadap pembangkit listrik selama lima hari.
Ia kemudian kembali menunda tenggat waktu tersebut, hingga berakhir pada pukul 8 malam hari Senin (12 pagi GMT Selasa).
Para ahli mengatakan bahwa serangan terhadap infrastruktur energi sipil dapat dianggap sebagai kejahatan perang. Tehran mengatakan pada hari Jumat bahwa mereka telah menembak jatuh pesawat tempur F-15 dan media AS melaporkan bahwa pasukan khusus Amerika Serikat telah menyelamatkan salah satu dari dua awaknya, sementara yang lainnya masih hilang.
Militer Iran juga mengatakan telah menembak jatuh pesawat serang darat A-10 AS di Teluk, dengan media AS mengatakan pilot pesawat itu telah diselamatkan.
Kantor berita lokal Mehr pada hari Sabtu mengutip wakil gubernur provinsi Kohgiluyeh dan Boyer-Ahmad, Fattah Mohammadi, yang mengatakan bahwa pencarian pilot yang hilang melibatkan kehadiran pasukan rakyat dan anggota suku bersama pasukan militer dan masih berlangsung.
Dia menambahkan bahwa semalam, orang-orang menembaki helikopter musuh dengan senapan dan tidak mengizinkan mereka mendarat.
Gambar yang diposting di media sosial dan diverifikasi oleh AFPTV menunjukkan polisi Iran menembaki helikopter AS di barat daya Iran saat pasukan AS mencari pilot tersebut.
Mohammad Ghalibaf, ketua parlemen Iran, mengejek pemerintahan Trump, dengan mengatakan "perang yang mereka mulai kini telah diturunkan dari 'perubahan rezim' menjadi 'Hei! Bisakah ada yang menemukan pilot kami?'"
"Kemajuan yang luar biasa. Benar-benar jenius."
Serangan ke PLTN Bushehr
Serangan udara di dekat pembangkit nuklir Bushehr Iran pada hari Sabtu kemarin menewaskan seorang penjaga dan menyebabkan Rusia, yang membangun sebagian fasilitas tersebut dan membantu mengoperasikannya, mengumumkan evakuasi 198 pekerja.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi memperingatkan bahwa serangan berkelanjutan terhadap pembangkit di pantai selatan tersebut pada akhirnya dapat menyebabkan serpihan radioaktif yang akan mengakhiri kehidupan di ibu kota GCC (Dewan Kerja Sama Teluk), bukan Tehran. Bushehr jauh lebih dekat ke Kuwait, Bahrain, dan Qatar daripada ke ibu kota Iran.
Rafael Grossi, kepala Badan Energi Atom Internasional, menulis di X bahwa tidak ada peningkatan tingkat radiasi yang dilaporkan di lokasi tersebut, tetapi tetap menyatakan "keprihatinan mendalam" atas apa yang disebutnya sebagai serangan keempat dalam beberapa minggu terakhir.
"Lokasi PLTN (pembangkit listrik tenaga nuklir) atau daerah sekitarnya tidak boleh pernah diserang," katanya.
(haa/haa) Add
source on Google