Internasional

Selat Hormuz Kembali Bisa Dilewati Sejumlah Kapal, Ada dari Indonesia?

luc, CNBC Indonesia
Sabtu, 04/04/2026 06:40 WIB
Foto: Kapal tanker berlayar di Teluk, dekat Selat Hormuz, seperti yang terlihat dari bagian utara Ras al-Khaimah, dekat perbatasan dengan pemerintahan Musandam di Oman, di tengah konflik AS-Israel dengan Iran, di Uni Emirat Arab, 11 Maret 2026. (REUTERS/Stringer)

Jakarta, CNBC Indonesia - Sejumlah kapal mulai kembali melintasi Selat Hormuz, menandai upaya mendesak perusahaan pelayaran dan para pemimpin dunia untuk memastikan pengiriman kargo vital tetap berjalan di tengah ketegangan yang memicu penutupan jalur tersebut sejak pecahnya perang di Iran pada akhir Februari.

Kapal kontainer milik perusahaan pelayaran Prancis, CMA CGM, telah berlayar keluar dari Teluk. Laporan Financial Times yang mengutip analis data pelacakan kapal MarineTraffic menyebut kapal tersebut diyakini sebagai kapal pertama milik perusahaan pelayaran Barat yang berhasil melewati jalur itu sejak konflik memanas.

Kapal bernama CMA CGM Kribi yang berlayar di bawah bendera Malta dilaporkan menyalakan transponder di dekat pesisir Dubai pada 28 Maret sebelum melintas melalui selat dengan membawa kargo. Setelah itu, kapal disebut mengitari Pulau Larak di dekat pantai Iran, rute yang kini semakin sering digunakan kapal untuk melakukan transit.


Selain itu, tiga kapal tanker yang terkait dengan Oman juga dilaporkan melintasi jalur tersebut tanpa mengambil rute utara di dekat pulau Iran. Salah satunya adalah tanker gas alam cair yang dimiliki bersama perusahaan Jepang, Mitsui OSK Lines.

Menurut laporan Reuters, sebagaimana dikutip Sabtu (4/4/2026), kapal tanker Sohar LNG yang berlayar di bawah bendera Panama itu disebut telah menyelesaikan perjalanan tersebut. Mitsui OSK menolak mengungkapkan kapan kapal itu melintasi selat dan apakah ada negosiasi tertentu untuk memungkinkan perjalanan tersebut.

Pekan ini, Menteri Luar Negeri Inggris, Yvette Cooper, mengatakan diperlukan tindakan terkoordinasi untuk menekan Iran agar membuka kembali selat tersebut, setelah pertemuan virtual lebih dari 40 negara. Ia juga menyatakan Inggris akan "secara komprehensif menolak" setiap upaya mengenakan biaya jutaan dolar kepada kapal untuk melintas, praktik yang dijuluki sebagai "gerbang tol Teheran".

Sementara itu, salah satu opsi yang dipertimbangkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) adalah membuka koridor pelayaran kemanusiaan untuk memastikan pasokan pupuk tetap mengalir guna mencegah krisis pangan di negara-negara miskin.

Adapun Selat Hormuz pada kondisi normal dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia. Penutupan jalur tersebut telah mendorong kenaikan harga energi global dan memicu kekhawatiran terhadap ketahanan pangan, karena sekitar sepertiga perdagangan global bahan baku pupuk biasanya juga melewati jalur ini.

Para pemimpin internasional dijadwalkan bertemu pekan depan untuk membahas kemungkinan pembersihan ranjau laut serta penyelamatan kapal yang terjebak di Selat Hormuz.

Presiden AS Donald Trump pada Jumat mengeklaim bahwa AS dapat "dengan mudah" membuka kembali selat tersebut, namun membutuhkan sedikit waktu tambahan.

"Dengan sedikit lebih banyak waktu, kami dapat dengan mudah MEMBUKA SELAT HORMUZ, MENGAMBIL MINYAKNYA, DAN MENDAPATKAN KEUNTUNGAN BESAR. Ini akan menjadi 'semburan besar' bagi dunia???" tulisnya di platform Truth Social.

 


(luc/luc) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Pasokan Energi Terganggu, Koordinasi Jepang-RI Makin Erat