Industri Plastik Kena Imbas Perang di Timur Tengah, Ini Datanya!

Zahwa Madjid, CNBC Indonesia
Kamis, 02/04/2026 11:50 WIB
Foto: Pedagang menata plastik berbahan polypropylene (PP) homopolymer di kawasan Pasar Minggu, Jakarta, Selasa, (25/11/2025). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Tekanan pada rantai pasok industri dalam negeri akibat krisis logistik energi di Timur Tengah mulai dirasakan oleh industri hulu yang masih bergantung pada pasokan bahan baku impor dari kawasan tersebut. Seperti salah satunya industri plastik nasional.

Badan Pusat Statistik mencatatkan Indonesia mengimpor plastik dan barang dari plastik sebesar US$873,2 juta pada Februari 2026. Komoditas tersebut pun menjadi salah satu penyumbang defisit sepanjang Januari hingga Februari 2026 sebesar US$ 1,38 miliar.


"Barang dari plastik atau HS 39, pada bulan Februari di 2026 ini sudah saya sebutkan mencapai US$ 873,2 juta," ujar Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Ateng Hartono dalam konferensi pers BPS dikutip Kamis (2/4/2026).

Secara rinci, impor komoditas plastik dan barang dari plastik terbesar dari Tiongkok sebesar US$ 380,1 juta. Diikuti dengan impor dari Thailand sebesar US$ 82,7 juta dan dari Korea Selatan sebesar US$ 66,7 juta.

Diberitakan sebelumnya, industri plastik nasional mulai merasakan tekanan akibat eskalasi konflik global di Timur Tengah, yang memicu kenaikan harga bahan baku di pasar internasional. Harga bahan baku plastik bahkan dilaporkan melonjak hampir dua kali lipat dalam beberapa waktu terakhir.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (Inaplas) Fajar Budiyono mengatakan, situasi geopolitik yang memanas turut mempengaruhi rantai pasok bahan baku industri, terutama karena kondisi Selat Hormuz yang semakin tidak pasti.

"Saat ini situasi perang makin intens, saling serang dan kondisi Selat Hormuz makin sulit. Industri fokus ke manajemen feedstock dan barang jadinya," kata Fajar kepada CNBC Indonesia, Senin (16/3/2026).

Fajar mengungkapkan, kenaikan harga bahan baku plastik saat ini cukup signifikan. Jika sebelumnya berada di kisaran Rp15.000 hingga Rp17.000 per kilogram (kg), kini harganya sudah mencapai sekitar Rp30.000 per kg. "Dari Rp15.000-Rp17.000 naik ke Rp30.000 (per kg)," ucap Fajar.

Kenaikan tersebut, lanjut dia, terjadi pada harga bahan baku plastik yang digunakan oleh industri dalam negeri. "Iya, bahan baku plastik," pungkasnya.


(mij/mij) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Inflasi Indonesia di Maret 2026 Capai 3,48% (yoy)