Trump Klaim Pemerintah Iran Habisi 45.000 Warga Sipil, Sebut Teroris
Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan pernyataan keras terkait eskalasi ketegangan dengan Teheran sembari mengungkap data mengejutkan mengenai jumlah korban jiwa di dalam negeri Iran. Dalam pidato terbarunya mengenai Operasi Epic Fury pada Kamis (2/4/2026), Trump menuding pemerintah Iran telah melakukan pembunuhan massal terhadap rakyatnya sendiri yang melakukan aksi protes.
Trump secara spesifik menyoroti angka kematian yang sangat tinggi tersebut sebagai dasar urgensi tindakan militer Amerika Serikat demi keamanan global. Ia menyatakan bahwa rezim yang berkuasa di Teheran telah melampaui batas kemanusiaan sehingga tidak boleh dibiarkan memiliki akses terhadap teknologi persenjataan yang lebih berbahaya.
"Rezim ini juga baru-baru ini membunuh 45.000 rakyat mereka sendiri yang melakukan protes di Iran, 45.000 tewas. Teroris ini jika memiliki senjata nuklir akan menjadi ancaman yang tidak bisa ditoleransi," ujar Presiden Trump dalam pidato resminya.
Lebih lanjut, Trump menegaskan kembali komitmen politik yang telah ia pegang sejak tahun 2015 untuk memastikan Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir. Ia menilai bahwa membiarkan "rezim" tersebut memiliki kekuatan nuklir sama saja dengan memberikan perlindungan bagi kampanye teror, penaklukan, dan pembunuhan massal di seluruh dunia.
Presiden Trump juga mengingatkan kembali sejarah panjang permusuhan rezim tersebut terhadap Amerika Serikat, termasuk keterlibatan proksi mereka dalam pembunuhan tentara Amerika melalui bom pinggir jalan. Ia menekankan bahwa situasi ini telah dibiarkan berlarut-larut selama 47 tahun dan seharusnya sudah ditangani oleh para pemimpin terdahulu sebelum dirinya menjabat.
"Rezim antagonis yang paling kejam akan bebas melakukan kampanye teror, pemaksaan, penaklukan, dan pembunuhan massal dari balik perisai nuklir. Saya tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi," tegas Trump mengenai alasan di balik operasi militer yang diluncurkannya.
Selain klaim mengenai puluhan ribu korban protes, Trump juga menyinggung keterlibatan Iran dalam berbagai aksi kekerasan internasional, termasuk serangan berdarah pada 7 Oktober di Israel. Menurutnya, rekam jejak kekejaman ini membuktikan bahwa Iran merupakan ancaman nyata bagi keselamatan Amerika Serikat dan sekutunya.
Trump kemudian mengungkit keberhasilan militernya dalam melenyapkan jenderal tinggi Iran pada masa jabatan pertamanya, yang ia sebut sebagai sosok di balik pengembangan bom mematikan. Ia mengklaim bahwa tanpa tindakan tegas tersebut, posisi Iran saat ini akan jauh lebih kuat dan membahayakan stabilitas kawasan.
"Saya melakukan banyak hal selama dua masa jabatan saya di kantor untuk menghentikan upaya Iran mendapatkan senjata nuklir. Pertama, yang mungkin paling penting, saya membunuh sang Jenderal di masa jabatan pertama saya," kata Trump.
Operasi Epic Fury sendiri dimulai sejak awal tahun ini sebagai respons atas meningkatnya aktivitas pengayaan uranium Iran, yang kemudian memicu balasan sengit dari Teheran. Sebagai bentuk perlawanan, Iran meluncurkan serangan rudal ke wilayah Israel serta menyasar berbagai situs yang berafiliasi dengan kepentingan AS di kawasan Teluk, hingga melakukan penutupan Selat Hormuz yang mengancam stabilitas pasokan energi dunia.
(tps/luc) Add
source on Google