MARKET DATA

Penjelasan Lengkap Bahlil Soal Stok & Harga BBM RI

Firda Dwi Muliawati,  CNBC Indonesia
01 April 2026 10:35
SPBU di Madura, Rabu (24/12/2025). (CNBC Indonesia/Firda Dwi Muliawati)
Foto: SPBU di Madura, Rabu (24/12/2025). (CNBC Indonesia/Firda Dwi Muliawati)

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia membeberkan kondisi terkini mengenai ketersediaan stok dan kebijakan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) di Indonesia. Pemerintah memastikan cadangan energi nasional tetap terjaga ditengah ketegangan geopolitik global.

Bahlil menegaskan bahwa seluruh cadangan energi, mulai dari bensin, solar, avtur, hingga Liquefied Petroleum Gas (LPG), berada pada level yang aman dan melampaui standar minimum nasional.

"Cadangan BBM kita semuanya di atas standar minimum nasional. Dengan implementasi B50 maka Insya Allah di tahun ini kita akan mengalami surplus untuk solar kita, begitu RDMP di Kalimantan Timur sudah kita operasikan," ujar Bahlil dalam konferensi pers, dikutip Rabu (1/4/2026).

Terkait kebijakan harga, Bahlil memastikan bahwa pemerintah tidak melakukan penyesuaian harga untuk BBM bersubsidi. Tarif BBM subsidi diputuskan tetap (flat) sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto demi melindungi daya beli masyarakat berpenghasilan rendah.

Sementara itu, untuk harga BBM non-subsidi, pemerintah saat ini masih melakukan pembahasan intensif bersama PT Pertamina (Persero) maupun badan usaha SPBU swasta lainnya. Bahlil menyebut belum ada perubahan harga hingga saat ini dan penyesuaian akan dilakukan dengan melihat dinamika harga minyak dunia.

"Untuk BBM yang non-subsidi sampai dengan hari ini kami dengan tim Pertamina maupun dengan SPBU-SPBU swasta lain sedang melakukan pembahasan. Belum juga ada penyesuaian harga, masih tetap sama. Kasih kami waktu untuk menyelesaikan dengan baik dan bijak," jelasnya.

Bahlil juga menjawab kekhawatiran terkait rantai pasok energi akibat konflik di kawasan Timur Tengah. Ia memaparkan bahwa porsi impor minyak mentah (crude oil) dari Timur Tengah berkisar di angka 20%. Saat ini, pemerintah telah berhasil mengamankan sumber pasokan alternatif dari negara lain untuk menggantikan kuota tersebut.

Di sisi lain, kebutuhan produk BBM jadi (bensin) mulai banyak dipenuhi secara domestik melalui Kilang RDMP Balikpapan yang memproduksi 5,6 juta kiloliter bensin dan 4,5 juta kiloliter solar. Sisa kekurangan bensin diimpor dari kawasan Asia Tenggara, sedangkan impor LPG dialihkan ke negara non-Timur Tengah, terutama Amerika Serikat.

"Insya Allah nggak perlu ada keraguan lagi untuk pengganti dari Middle East sudah kita dapat," tegasnya.

Menutup penjelasannya, Bahlil mengimbau masyarakat untuk membantu pemerintah dengan cara mengonsumsi BBM secara wajar dan bijak.

Ia mencontohkan, batas wajar pembelian BBM untuk kendaraan pribadi adalah sekitar 50 liter per hari, sementara pengecualian diberikan untuk kendaraan komersial seperti truk dan bus yang memang membutuhkan volume lebih besar.

"Tetapi yang untuk sekali lagi ya, yang untuk 50 liter tadi, yang untuk per mobil, itu tidak berlaku untuk angkutan truk-truk kan harus lebih banyak, atau angkutan umum bus, itu pasti lebih dari itu. Standar aja itu," tandasnya.

(pgr/pgr) Add as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Shell Cs Belum Jualan Bensin di SPBU, Bahlil: Silahkan Lakukan B to B


Most Popular
Features