Harga BBM Dipertahankan, Wakil Ketua MPR Titip Pesan ini ke Pemerintah

Tim Redaksi, CNBC Indonesia
Rabu, 01/04/2026 08:53 WIB
Foto: Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Eddy Soeparno. (Istimewa)

Jakarta, CNBC Indonesia - Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Eddy Soeparno menyampaikan apresiasinya atas keputusan pemerintah untuk mempertahankan harga bahan bakar minyak (BBM) baik yang bersubsidi maupun nonsubsidi. Menurutnya, dalam kondisi yang sarat dengan ketidakpastian akibat perang di Timur Tengah, stabilitas harga BBM tentu disambut dengan rasa lega oleh masyarakat.



"Dampak psikologis dari keputusan pemerintah untuk mempertahankan harga BBM secara keseluruhan sangat positif. Pertama, keputusan ini menihilkan berbagai rumor yang beredar di media sosial beberapa hari ini yang meresahkan masyarakat, sehingga di sejumlah SPBU terjadi antrean untuk mengisi BBM," ujar Eddy.

"Kedua, Presiden Prabowo berupaya keras dan berhasil mencari jalan keluar agar gejolak fluktuasi harga minyak mentah tidak melemahkan daya beli masyarakat, khususnya konsumen BBM," lanjutnya seperti dikutip dari siaran pers, Rabu (1/4/2026).

Namun ke depannya, Eddy menitipkan pesan agar pemerintah selalu sigap dan waspada menjaga pasokan BBM, mengingat seluruh produk migas saat ini ibarat komoditas langka yang diperebutkan banyak pihak.

"Negara-negara pengimpor BBM dalam jumlah besar dan bergantung pada pasokan dari Timur Tengah seperti China, India, Jepang dan Korea Selatan, tentu akan mencari substitusi dari pasokan migasnya ke negara-negara lain," kata Eddy.

"Apalagi India, Jepang dan Korea sangat menggantungkan kebutuhan energinya dari jalur impor, bahkan di atas 70%. Akibatnya, Indonesia akan 'saling sikut' dengan negara lain untuk mengamankan pasokan energinya masing-masing," lanjutnya.

Wakil Ketua Umum Partai Amanat Nasional ini menjelaskan, situasi di saat pandemi Covid-19 menjadi contoh di mana vaksin merupakan barang yang paling dibutuhkan seluruh negara di dunia, di saat jumlah produksinya terbatas.

Akibatnya, banyak negara yang bersedia membelinya dengan harga yang sangat mahal demi menyelamatkan warganya yang terpapar virus Corona. Bahkan ketika itu ada saat ketika vaksin tidak diperjual belikan, meskipun pihak pembeli bersedia membayar di muka.

"Cerita yang sama bisa saja terulang untuk BBM, karena seluruh negara di dunia berupaya keras menghindari krisis energi yang dapat mematikan roda perekonomian dan menimbulkan keresahan sosial," ungkap Eddy.

"Oleh karenanya, saya berharap kita memiliki pasokan impor migas yang dapat diandalkan, mengingat 'reliability of supply' saat ini lebih penting dari 'avaliability of supply'," lanjut Doktor Ilmu Politik UI ini.

Lebih lanjut, Eddy mengatakan, krisis energi yang melanda dunia saat ini juga merupakan momentum yang tepat bagi Indonesia untuk menguatkan ketahanan energinya melalui transisi energi, konservasi energi, eletrifikasi, dan de-dieselisasi pembangkit listrik.


"Selain mereduksi ketergantungan kita pada energi yang diimpor, Indonesia juga akan mengoptimalkan potensi energi bersih dan terbarukan yang kita miliki secara melimpah di dalam negeri," kata Eddy yang juga Anggota Komisi XII DPR tersebut.


(miq/miq) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Ratusan SPBU Australia Kehabisan BBM, PM Albanese Gelar Rapat Darurat