Makin Banyak Pengusaha Merasa Bisnisnya Menurun, Mulai Tak Optimistis

Ferry Sandi, CNBC Indonesia
Selasa, 31/03/2026 19:15 WIB
Foto: Jubir Kemenperin Febri Hendri Antoni Arief (tiga dari kiri) dalam Rilis IKI di kantor Kemenperin, Selasa (31/3/2026). (CNBC Indonesia/Ferry Sandi)

Jakarta, CNBC Indonesia - Aktivitas dunia usaha pada Maret 2026 menunjukkan sinyal perlambatan. Sejumlah pelaku industri mulai merasakan penurunan kinerja setelah sebelumnya sempat terdorong momentum permintaan awal tahun.

Juru Bicara Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Febri Hendri Antoni Arief mengungkapkan, kondisi ini tercermin dari persepsi pelaku usaha yang mulai bergeser. Dalam catatannya, kondisi kegiatan usaha secara umum pada bulan Maret 2026 menurun dibandingkan dengan bulan sebelumnya yaitu sebanyak 73,7% industri menyampaikan kegiatan usahanya membaik dan stabil.

"Proporsi industri yang menyatakan kondisi usahanya membaik pada bulan Maret 2026 sebanyak 30,2%, turun 3,1% dibandingkan bulan lalu. Sedangkan persentase industri yang menjawab kondisi usahanya stabil sebesar 43,5%," katanya dalam rilis Indeks Kepercayaan Industri (IKI) di Kemenperin, Selasa (31/3/2026).


"Persentase pelaku usaha yang menyatakan kondisi usahanya menurun di bulan Maret 2026 naik sebesar 3,9% menjadi 26,3%," tambah Febri.

Tekanan juga tercermin dari ekspektasi pelaku usaha ke depan. Optimisme masih dominan, namun mulai menunjukkan tanda-tanda melambat dibandingkan periode sebelumnya.

"Tingkat optimisme pelaku usaha terhadap kondisi usahanya 6 bulan ke depan menurun dibandingkan beberapa bulan terakhir yaitu sebesar 71,8%. Angka ini melambat 1,7% dibandingkan dengan persentase bulan sebelumnya. Sebanyak 21,4% pelaku usaha menyatakan kondisi usahanya stabil, turun 1,2% dibandingkan dengan persentase bulan sebelumnya. Persentase pesimisme naik 2,9% menjadi 6,8%,' katanya.

Dari sisi produksi, industri juga mulai menyesuaikan output setelah lonjakan di awal tahun. Penurunan ini terlihat dari pergerakan Indeks Kepercayaan Industri (IKI) yang melemah, yakni 51,86 atau melambat sebesar 2,16 poin dibandingkan dengan IKI bulan Februari 2026 sebesar 54,02.

"Turunnya IKI sebesar 2,16 poin dibanding IKI Februari 2026 disebabkan oleh berbagai kombinasi faktor, terutama adalah faktor musiman dengan telah berlalunya hari raya keagamaan, Lebaran dan Imlek, sehingga industri sedikit menurunkan produksinya," ungkapnya.

Selain faktor musiman, hambatan distribusi ikut memperlambat perputaran barang di pasar. Pembatasan logistik selama periode libur panjang membuat stok tertahan di gudang.

"Beberapa industri menurunkan produksinya pada Maret dibanding dengan Februari karena masih banyak stok barang di gudang dan belum terdistribusi ke distributor atau ke pasar karena ada pembatasan kendaraan logistik selama 16 hari pada saat sebelum dan sesudah Lebaran," katanya.

Sebagian pelaku usaha bahkan sudah mengantisipasi kondisi ini sejak awal tahun dengan meningkatkan produksi lebih dulu, sebelum akhirnya menahan output pada Maret.

"Ada beberapa industri memang melonjakkan produksinya itu terjadi pada bulan Januari dan Februari 2026 sehingga pada bulan Maret mereka menurunkan produksinya dan tetap mempertahankan stok barangnya di gudang sampai setelah Lebaran," katanya.

Di tengah kondisi tersebut, dinamika global juga ikut memberi tekanan, meski belum merata ke seluruh sektor industri.

"Terkait dengan krisis logistik energi di Timur Tengah, sampai saat ini dampaknya terhadap industri masih terbatas pada subsektor tertentu, terutama yang menggunakan bahan baku dari kimia atau petrokimia," ungkap Febri.

Permintaan domestik yang melunak turut mempertegas perlambatan aktivitas industri pada periode ini.

"Dan ada beberapa faktor lagi yang lain yang menyebabkan industri mengurangi sedikit produksinya, yakni terkait dengan penurunan demand domestik pada bulan Maret 2026," sebut Febri.


(dce) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Pengusaha Manufaktur Siaga Hadapi Dampak Perang Timur Tengah