Kalau Ekonomi RI Tak Sampai 6%, Purbaya Ungkap Konsekuensinya Ini
Jakarta, CNBC Indonesia - Pertumbuhan ekonomi Indonesia 6% menjadi salah satu target yang sering kali disampaikan oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Tak terkecuali saat melantik Sekretaris Jenderal Kementerian Keuangan, Robert Marbun pada Jumat (27/3/2026) lalu.
Purbaya mengatakan, target pertumbuhan ekonomi mendekati 6% pada tahun ini harus tercapai. Dirinya bahkan mengakui waktu yang dimiliki pemerintah tidak banyak untuk merealisasikan target tersebut.
"Dan waktu kita, Pak Robert, tidak banyak. Saya janji ke orang-orang, ke masyarakat, pertumbuhan ekonomi tahun ini mendekati 6%," ujar Purbaya dalam pelantikan Robert Marbun yang menggantikan posisi Heru Pambudi yang telah menjabat sebagai Sekjen Kemenkeu sejak 12 Maret 2021, dikutip Selasa (31/3/2026).
Purbaya pun menyampaikan konsekuensi yang harus dihadapi jika target tersebut meleset. Bahkan ia menyebut akan "dimarahi masyarakat" dan akan diminta mundur jika pertumbuhan ekonomi tidak mencapai target yang selalu ia gaungkan.
"Kalau akhir tahun tidak kecapaian, tidak tercapai, saya dimarahin sama masyarakat. Mungkin disuruh mundur," ujarnya.
Pada kesempatan yang berbeda, Purbaya juga menyampaikan ketidakpastian global dan krisis yang menghantui tidak menghalangi target pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk melaju hingga 6% tahun ini.
Purbaya mengatakan, pemerintah telah memiliki sejumlah strategi untuk menjaga pertumbuhan bisa makin cepat di atas 5%, meskipun perang di Timur Tengah antara Iran dengan Israel dan Amerika Serikat (AS) telah mengganggu harga dan pasokan energi dunia.
Strategi itu di antaranya ialah memfokuskan kebijakan fiskal dan moneter secara sekaligus untuk menggerakkan aktivitas usaha. Artinya, belanja pemerintah akan gencar dan suku bunga acuan BI Rate akan akomodatif.
"Tumbuh 6% harusnya tidak terlalu sulit. Di atas buku ya, tapi di lapangan kan kita perlu dorongan-dorongan seperti yang lain-lain supaya lebih cepat lagi. Tapi yang jelas, mesin-mesin itu sudah kita hidupkan," kata Purbaya di kantornya, Jakarta, Jumat (27/3/2026).
"Jadi hampir pasti kita tidak menuju resesi apalagi krisis," tegas Purbaya.
Oleh sebab itu, Purbaya memastikan, di tengah periode tekanan ekonomi global seperti saat ini, pemerintah akan fokus menggelontorkan belanja negara tepat waktu, sebagai faktor pendorong aktivitas ekonomi domestik. Sambil terus memperbaiki iklim usaha dan likuiditas perekonomian terjaga.
"Saya pastikan likuiditas sistem perekonomian cukup. Saya pastikan belanja pemerintahnya tepat waktu. Saya usahakan perbaikan iklim usaha seoptimal mungkin," paparnya.
Dari berbagai indikator utama ekonomi, seperti indeks keyakinan konsumen, Purchasing Manager's Index (PMI) manufaktur, hingga data penjualan motor dan mobil, Purbaya menilai, kondisi ekonomi Indonesia hingga kini pun terjaga arahannya menuju pertumbuhan.
"Menurut saya di atas 5,5% pun sudah bagus dalam keadaan sekarang ya. Nanti kalau lebih tinggi dari 5,5% ya kita makan-makan seperti saya janjikan kemarin. Jadi bukan saya optimis, saya melihat data," tutur Purbaya.
"Dan saya tahu apa yang saya masukkan ke sistem perekonomian supaya ekonominya bergerak. Data-data itu adalah dampak dari kebijakan di belakang yang anda nggak ngerti," tegasnya.
(arj/wur) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]