Trump Beri Sinyal "Palak" Negara Arab Buat Bayar Perang Lawan Iran
Jakarta, CNBC Indonesia - Gedung Putih memberikan sinyal kuat bahwa Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump akan meminta negara-negara Arab untuk menanggung seluruh biaya perang Amerika Serikat melawan Iran yang diperkirakan mencapai puluhan miliar dolar.
Juru bicara Trump, Karoline Leavitt, menanggapi pertanyaan awak media pada Senin, (30/03/2026) mengenai apakah negara-negara Arab harus membayar biaya perang tersebut, sebagaimana sekutu AS membantu mendanai intervensi Washington selama Perang Teluk tahun 1990 silam.
"Saya pikir itu adalah sesuatu yang sangat diminati oleh presiden untuk meminta mereka melakukannya," kata Leavitt kepada wartawan dikutip.
Leavitt menambahkan bahwa dirinya tidak ingin mendahului keputusan resmi presiden, namun ia memastikan bahwa gagasan tersebut memang ada dalam pemikiran sang presiden.
"Saya tidak akan mendahului dia mengenai hal itu, tetapi yang pasti itu adalah ide yang saya tahu dia miliki, dan sesuatu yang saya pikir akan Anda dengar lebih banyak darinya," ujar Leavitt.
Sebagai informasi, AS pernah memimpin koalisi global yang terdiri dari puluhan negara selama Perang Teluk untuk menghalau invasi Irak ke Kuwait. Saat itu, negara-negara di kawasan dan anggota koalisi, termasuk Jerman dan Jepang, mengumpulkan dana sebesar US$54 miliar atau sekitar Rp918 triliun (setara dengan US$134 miliar atau Rp2.278 triliun nilai saat ini) untuk membantu membiayai keterlibatan militer AS.
Namun, pada konflik kali ini, AS dan Israel justru melancarkan perang dengan Iran secara sepihak tanpa melibatkan sekutu-sekutu mereka maupun negara-negara di kawasan tersebut.
Awal bulan ini, Sean Hannity, seorang komentator sayap kanan yang memiliki hubungan dekat dengan Trump, menyatakan bahwa kesepakatan gencatan senjata apa pun harus mencakup ketentuan yang mewajibkan Iran membayar biaya perang yang telah menewaskan hampir 2.000 warga Iran tersebut.
"Mereka harus setuju untuk membayar kembali Amerika dengan minyak untuk seluruh biaya operasi militer ini," kata Hannity.
Di sisi lain, pihak Iran justru menetapkan kompensasi dari AS atas kerusakan perang sebagai salah satu syarat mereka. Iran telah membalas serangan AS dan Israel dengan serangan rudal serta drone di seluruh Timur Tengah yang menargetkan aset AS, namun Teheran juga meluncurkan serangan ke lokasi sipil termasuk hotel, bandara, dan infrastruktur energi di beberapa negara Teluk.
Media AS melaporkan awal bulan ini bahwa para pejabat mengatakan kepada anggota Kongres AS dalam sidang klasifikasi bahwa enam hari pertama perang saja telah menelan biaya US$11,3 miliar (Rp192,1 triliun).
Center for Strategic and International Studies (CSIS) memperkirakan angka tersebut melonjak menjadi US$16,5 miliar (Rp280,5 triliun) pada hari ke-12 konflik. Tagihan ini kemungkinan jauh lebih tinggi sekarang saat perang memasuki hari ke-31.
Saat ini, Gedung Putih sedang mengupayakan setidaknya US$200 miliar (Rp3.400 triliun) belanja militer tambahan dari Kongres untuk mendanai kampanye militer di Iran dan mengisi kembali stok amunisi Pentagon.
Selain biaya militer langsung, perang yang menyebabkan Iran menutup Selat Hormuz ini telah membuat harga energi global melonjak tajam. Harga rata-rata satu galon bensin di AS kini mencapai US$3,99 (Rp67.830), naik lebih dari US$1 dibandingkan sebelum perang dimulai.
Pada hari Senin, Leavitt menegaskan kembali pernyataan pemerintahan Trump bahwa lonjakan harga energi ini akan terbayar oleh keuntungan dari melemahnya kekuatan Iran.
"Pesan keseluruhannya, seperti yang kami nyatakan berulang kali: Ini adalah tindakan jangka pendek dan fluktuasi harga jangka pendek untuk manfaat jangka panjang guna mengakhiri ancaman yang ditimbulkan Iran terhadap Amerika Serikat, pasukan kami, dan sekutu kami di kawasan," tutur Leavitt.
Sementara itu, pihak Iran berargumen bahwa mereka diserang terlebih dahulu di tengah pembicaraan diplomatik yang sedang berlangsung. Iran menegaskan bahwa mereka sebelumnya tidak memberikan ancaman bagi Amerika Serikat maupun kawasan tersebut.
(tps/luc) Add
source on Google