Internasional

Ribuan Pasukan Elite AS Tiba, Invasi Darat ke Iran Tinggal "Sejengkal"

luc, CNBC Indonesia
Selasa, 31/03/2026 05:32 WIB
Foto: Sejumlah pasukan Militer Amerika Serikat berada di pesawat C-17 Globemaster III Angkatan Udara AS saat akan meninggalkan Afghanistan di Bandara Internasional Hamid Karzai di Kabul, Afghanistan, Senin (30/8/2021). (Senior Airman Taylor Crul/U.S. Air Force via AP)

Jakarta, CNBC Indonesia - Ribuan pasukan elite Amerika Serikat mulai tiba di Timur Tengah, menandai eskalasi baru ketika Washington mempertimbangkan opsi militer lanjutan dalam konflik melawan Iran. Penambahan pasukan ini terjadi saat pemerintahan Donald Trump menimbang berbagai kemungkinan, termasuk operasi darat di wilayah Iran.

Dua pejabat AS mengatakan kepada Reuters, sebagaimana dikutip Selasa (31/3/2026), bahwa ribuan tentara dari Divisi Lintas Udara ke-82 Angkatan Darat AS telah mulai tiba di kawasan tersebut. Unit elit ini dikenal sebagai pasukan penerjun payung yang dapat dikerahkan dengan cepat untuk operasi tempur skala besar.

Reuters sebelumnya melaporkan pada 18 Maret bahwa pemerintahan Trump mempertimbangkan pengerahan tambahan ribuan pasukan ke Timur Tengah, langkah yang dapat memperluas opsi hingga kemungkinan penempatan pasukan di dalam wilayah Iran.


Pasukan penerjun payung yang berbasis di Fort Bragg, Carolina Utara, itu akan bergabung dengan ribuan pelaut, Marinir, dan pasukan operasi khusus yang sebelumnya telah dikirim ke kawasan tersebut. Selama akhir pekan, sekitar 2.500 Marinir juga telah tiba di Timur Tengah.

Para pejabat yang berbicara dengan syarat anonim tidak menyebutkan secara spesifik lokasi penempatan pasukan tersebut, namun menyatakan langkah itu sudah diperkirakan. Tambahan pasukan Angkatan Darat ini mencakup unsur markas Divisi Lintas Udara ke-82, dukungan logistik, serta satu brigade tempur.

Salah satu sumber mengatakan belum ada keputusan untuk mengirim pasukan ke Iran, tetapi pengerahan tersebut akan meningkatkan kapasitas bagi kemungkinan operasi di masa depan di kawasan.

Opsi Militer yang Dipertimbangkan

Pasukan ini berpotensi digunakan dalam berbagai skenario konflik, termasuk kemungkinan merebut Pulau Kharg, pusat ekspor sekitar 90% minyak Iran. Reuters sebelumnya melaporkan bahwa pemerintahan Trump telah membahas operasi untuk mengambil alih pulau tersebut.

Namun langkah itu dinilai berisiko tinggi karena Iran dapat menjangkau wilayah tersebut dengan rudal dan drone.

Diskusi internal pemerintahan AS juga mencakup kemungkinan penggunaan pasukan darat di Iran untuk mengekstraksi uranium yang diperkaya tinggi. Opsi ini berpotensi menempatkan pasukan AS lebih jauh di dalam wilayah Iran dalam jangka waktu lebih lama untuk mengambil material yang berada jauh di bawah tanah.

Selain itu, pembahasan juga mencakup kemungkinan menempatkan pasukan AS di Iran guna mengamankan jalur aman bagi kapal tanker minyak melalui Strait of Hormuz. Misi tersebut utamanya akan dilakukan oleh kekuatan udara dan laut, namun dapat pula melibatkan pengerahan pasukan di garis pantai Iran.

Sementara itu, Trump pada Senin mengatakan AS sedang melakukan pembicaraan dengan "rezim yang lebih masuk akal" untuk mengakhiri perang di Iran, namun ia kembali memperingatkan Teheran agar membuka Selat Hormuz atau menghadapi risiko serangan AS terhadap ladang minyak dan pembangkit listriknya.

Adapun penggunaan pasukan darat AS, bahkan untuk misi terbatas, dinilai membawa risiko politik signifikan bagi Trump. Dukungan publik Amerika terhadap kampanye Iran relatif rendah, sementara Trump sebelumnya berjanji dalam kampanye pemilu untuk menghindari keterlibatan baru dalam konflik Timur Tengah.

Sejak operasi dimulai pada 28 Februari, Amerika Serikat telah melancarkan serangan terhadap lebih dari 11.000 target. Lebih dari 300 tentara AS terluka dan 13 anggota militer tewas dalam operasi yang diberi nama Operation Epic Fury.

 


(luc/luc) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Trump Isyaratkan Ingin Kuasai Minyak Iran