Internasional

AS-Israel Kembali Gempur Iran Gila-Gilaan, Teheran Jadi Sasaran Rudal

tps, CNBC Indonesia
Jumat, 27/03/2026 21:40 WIB
Foto: Petugas tanggap darurat mengevakuasi korban dari bawah reruntuhan di lokasi bangunan tempat tinggal yang rusak akibat serangan udara, di tengah konflik AS-Israel dengan Iran, di Teheran, Iran, 27 Maret 2026. (via REUTERS/Majid Asgaripour)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasukan Bulan Sabit Merah Iran kini tengah berjuang melakukan pencarian terhadap para penyintas yang diyakini masih terjebak di bawah reruntuhan bangunan setelah serangan udara masif yang dilancarkan Amerika Serikat (AS) dan Israel menghantam ibu kota Teheran serta kota Qom.

Serangan udara tersebut menargetkan tiga rumah tinggal di Qom pada Jumat, (27/03/2026), yang mengakibatkan sedikitnya enam orang tewas berdasarkan laporan media lokal setempat. Wakil Gubernur Qom mengungkapkan kepada Kantor Berita Fars bahwa hingga saat ini jumlah pasti korban luka-luka masih belum diketahui.

Ledakan besar dilaporkan mengguncang Teheran setelah militer Israel meluncurkan serangan yang mereka klaim bertujuan untuk menyasar infrastruktur kepemimpinan Iran tepat di jantung ibu kota. Koresponden Al Jazeera, Tohid Asadi, melaporkan langsung dari Teheran mengenai situasi mencekam yang terjadi di sana.


"Kami telah mendengar suara sistem pertahanan udara, yang biasanya dipicu oleh serangan pesawat nirawak atau ancaman, sejak kemarin malam. Sepanjang malam, kami mendengar ledakan-ledakan dahsyat," kata Asadi.

Selain di Teheran, sebuah kompleks perumahan di Urmia juga menjadi sasaran serangan rudal langsung pada malam hari. Direktur Jenderal Manajemen Krisis Provinsi Azerbaijan Barat, Hamed Saffari, memberikan konfirmasi kepada kantor berita IRNA mengenai dampak kerusakan yang ditimbulkan.

"Empat bangunan tempat tinggal hancur total dan serangan tersebut menyebabkan sejumlah warga tewas serta luka-luka," ujar Saffari.

Skala fatalitas akibat perang ini terus melonjak tajam dalam waktu singkat. Wakil Menteri Kesehatan Iran, Ali Jafarian, mengungkapkan data terbaru kepada Al Jazeera pada Kamis bahwa setidaknya 1.937 orang telah tewas selama perang berlangsung dan hampir 25.000 orang mengalami luka-luka.

"Sebanyak 240 wanita dan 212 anak-anak termasuk di antara korban tewas dalam perang ini," ungkap Jafarian.

Rentetan serangan udara juga dilaporkan terjadi di wilayah Karaj dan kompleks industri di Isfahan. Menanggapi eskalasi yang kian tak terkendali ini, Asadi kembali menegaskan bahwa situasi di lapangan masih sangat jauh dari kata damai.

"Kita berada sangat jauh dari titik deeskalasi," tegas Asadi.

Kondisi kemanusiaan di Iran pun kini berada di titik nadir, sebagaimana diperingatkan oleh Dewan Pengungsi Norwegia (NRC) pada Jumat yang menyebut rakyat Iran dalam kondisi lelah dan mengalami trauma berat. Kepala NRC, Jan Egeland, menyatakan bahwa jutaan warga Iran telah melarikan diri untuk mencari keselamatan.

"Yang lain tetap tinggal karena takut bahwa pengungsian akan menjadi lebih berbahaya karena tidak ada tempat yang tampaknya aman. Di seluruh Timur Tengah, 2.700 orang telah tewas akibat serangan AS, Israel, dan Iran, di mana lebih dari setengahnya berada di Iran. Warga sipil membayar harga tertinggi untuk perang ini. Ini harus diakhiri," kata Egeland.

Egeland juga menceritakan bagaimana timnya di lapangan harus mempertaruhkan nyawa untuk membantu para pengungsi di tengah gempuran bom yang terus berjatuhan setiap harinya.

"Rekan-rekan NRC saya di Iran bekerja di bawah kondisi yang sangat sulit dan berbahaya untuk meningkatkan bantuan bagi keluarga yang kehilangan tempat tinggal akibat perang. Setiap malam mereka terjaga, mendengarkan ledakan dan mengkhawatirkan nyawa mereka, dan setiap pagi mereka kembali bekerja, melakukan semua yang mereka bisa untuk mendukung keluarga yang sangat membutuhkan," tutur Egeland.

Di sisi lain, ketidakpastian masih menyelimuti prospek negosiasi gencatan senjata. Iran telah menetapkan syarat-syarat berat pada Kamis, termasuk penghentian tindakan pembunuhan agresif terhadap kepemimpinan mereka, pemberian kompensasi dan reparasi perang senilai miliaran dolar, hingga jaminan agar perang tidak terulang kembali.

Teheran juga menegaskan hak hukum mereka atas Selat Hormuz, jalur air kritis yang saat ini diblokade oleh Iran. Aksi blokade ini telah memicu krisis energi dan kelangkaan bahan bakar di seluruh dunia. Terkait situasi ini, Dewan Keamanan PBB yang saat ini dipimpin oleh AS telah menjadwalkan konsultasi tertutup pada pukul 10 pagi waktu New York.

Dampak perang ini juga mulai merembet ke negara-negara Teluk lainnya. Garda Nasional Kuwait melaporkan telah menembak jatuh dua drone, sementara Kantor Media Sharjah di Uni Emirat Arab mengonfirmasi bahwa sistem pertahanan udara mereka tengah merespons ancaman rudal.

Bersamaan dengan agresi ke Iran, Israel juga terus menekan dengan invasi darat ke Lebanon dan memerintahkan warga desa Sajd untuk segera mengungsi. Koresponden Nida Ibrahim menilai langkah darat Israel ini berisiko tinggi tanpa hasil yang jelas.

"Hal itu berpotensi merugikan tentara Israel tanpa mencapai tujuan tertentu, yaitu mengakhiri atau melucuti senjata Hizbullah. Itu adalah sesuatu yang bahkan dikatakan oleh pejabat pertahanan Israel tidak akan tercapai melalui invasi darat saja, melainkan melalui kesepakatan dengan pemerintah Lebanon, dan hal itu tampaknya tidak membuahkan hasil saat ini," pungkas Ibrahim.


(tps/luc) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Asia di Tepi Jurang Krisis BBM