Mendag Pede RI Bisa 'Aji Mumpung' di Tengah Perang Iran, Ini Kuncinya
Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso optimistis kinerja ekspor Indonesia tetap tumbuh positif meski ketegangan geopolitik di Timur Tengah meningkat. Pemerintah melihat situasi krisis justru membuka peluang baru, terutama melalui strategi diversifikasi pasar ekspor.
Budi menjelaskan, optimisme tersebut salah satunya ditopang oleh tren kenaikan harga komoditas utama Indonesia seperti minyak sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO) dan batubara.
"Harga komoditas untuk CPO tahun lalu itu kan turun sekitar 16% ya harga komoditas. Kemudian batubara turun 19% kurang lebih. Nah, sekarang harga komoditas keduanya tahun ini kan mulai naik. Artinya, kalau naik berarti ya nilai ekspor kita ya pasti meningkat," kata Budi kepada wartawan di kantornya, Jakarta, Jumat (27/3/2026).
Meski biaya logistik berpotensi naik akibat situasi global, kenaikan harga komoditas dinilai dapat menjadi penopang nilai ekspor.
"Nanti mungkin kita kompensasi dengan biayanya. Tapi kalau negara-negara yang ekspor CPO kan tidak banyak juga ke Timur Tengah," ucap dia.
Namun demikian, ia menekankan kunci utama menjaga pertumbuhan ekspor bukan hanya pada komoditas, melainkan pada strategi membuka pasar baru di tengah perubahan peta perdagangan global.
"Yang kedua, salah satu solusinya adalah itu diversifikasi pasar ekspor. Karena kadang-kadang kalau diversifikasi pasar ekspor itu kan jangka panjang. Tetapi sebenarnya ketika ada krisis geopolitik, itu kan peta pasar cepat berubah," jelasnya.
Budi mencontohkan pengalaman saat pandemi Covid-19 lalu, ketika banyak negara mengalami gangguan pasokan sehingga membuka peluang bagi negara lain untuk masuk ke pasar tersebut.
"Ingat dulu waktu Covid-19, waktu Covid-19 itu cepat berubah. Karena begini, ada negara yang tiba-tiba itu untuk mendapatkan barang juga susah, karena mungkin negara pensuplaian-nya terdampak," ujarnya.
Dalam kondisi seperti ini, Indonesia dinilai bisa memanfaatkan celah pasar yang muncul di berbagai kawasan non-tradisional.
"Nah, itu kalau kita punya peluang di situ artinya kita bisa memanfaatkan peluang itu dengan baik, kita sebenarnya bisa masuk ke pasar-pasar itu, seperti pasar-pasar Amerika Selatan atau negara RCEP (Regional Comprehensive Economic Partnership), kemudian Asia Tenggara dan juga Amerika Latin," kata Budi.
Untuk mempercepat penetrasi pasar, pemerintah mengandalkan skema business matching yang dinilai efektif menghasilkan kontrak ekspor dalam waktu singkat.
"Kalau kita lihat pengalaman tahun lalu, misalnya hasil dari business matching kan saat itu jadi kontrak. Yang tahun ini, bulan Januari itu kita sudah ada kontrak US$4,57 juta untuk UMKM Bisa Ekspor. Artinya, sebenarnya memang bisa cepat gitu loh," ujarnya.
Selain membuka pasar baru, pemerintah juga melihat situasi ini sebagai momentum untuk memperbaiki daya saing nasional, khususnya di sektor logistik.
"Tentu ini sebenarnya kesempatan, kesempatan buat kita bagaimana harus mempunyai daya saing dan kita harus efisien khususnya untuk logistik," tutur Budi.
Ia menyebut pemerintah tengah berkoordinasi dengan Dewan Pemakai Jasa Angkutan Indonesia (Depalindo) untuk mengurangi berbagai hambatan distribusi yang selama ini membebani biaya ekspor.
"Ini sedang kita lakukan bareng-bareng dengan Depalindo, menghilangkan hambatan-hambatan yang itu menjadi penghambat untuk mempermudah ekspor kita," ujarnya.
Di tengah ketidakpastian global, pemerintah tetap berharap konflik dapat segera mereda. Namun, di sisi lain, kondisi ini juga membuka peluang bagi Indonesia untuk memperluas pasar dan meningkatkan ekspor.
"Saya kira itu ya, jadi kalau mudah-mudahan sih cepat selesai (perang). Dan saya yakin semua (negara berharap juga) cepat selesai ya, karena dampaknya kan ke semua," pungkas Budi.
(dce) Add
source on Google