Internasional

Ilusi Kemenangan Udara, AS Terjebak Siklus Perang Lama

tfa, CNBC Indonesia
Jumat, 27/03/2026 21:58 WIB
Foto: Para pelaut Angkatan Laut AS mengamati operasi dek penerbangan di kapal induk USS Gerald R. Ford saat beroperasi mendukung serangan Operasi Epic Fury terhadap Iran di Laut Mediterania timur, 2 Maret 2026. (via REUTERS/US Navy)

Jakarta, CNBC Indonesia - Strategi militer Amerika Serikat (AS) yang kembali mengandalkan superioritas udara dinilai berisiko mengulang pola lama, yakni janji kemenangan cepat yang berujung konflik berkepanjangan.

Mengacu pada analisis The Guardian, pendekatan ini bukan hal baru. Akar pemikirannya dapat ditelusuri hingga 1921 melalui teori jenderal Italia Giulio Douhet dalam bukunya The Command of the Air. Ia meyakini kemenangan perang bisa diraih lewat pemboman besar-besaran, termasuk terhadap infrastruktur sipil, guna melumpuhkan moral musuh.

"Jauh lebih penting menghancurkan logistik dan infrastruktur dibanding menyerang garis depan," tulis Douhet dalam teorinya, dikutip The Guardian, Jumat (27/3/2026).


Pemikiran tersebut kemudian memengaruhi berbagai strategi militer modern, termasuk dalam perang-perang besar yang melibatkan AS. Dalam konteks terkini, retorika agresif Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth terkait operasi udara terhadap Iran dinilai mencerminkan pola serupa.

Hegseth bahkan menyebut serangan udara sebagai pendekatan paling mematikan dan presisi dalam sejarah. "Kuantitas memiliki kualitas tersendiri... ini akan menjadi volume serangan tertinggi yang pernah dilakukan Amerika," ujarnya.

Namun, menurut analis pertahanan Winslow Wheeler, klaim tersebut lebih banyak soal gaya komunikasi ketimbang substansi strategi baru.

"Yang tidak mereka hargai adalah bahwa sifat manusia tidak berubah," kata Wheeler. Ia menilai pemboman justru kerap memicu perlawanan, bukan menyerah.

"Serangan Jerman terhadap Inggris tidak melemahkan tekad, justru menyatukan mereka," katanya.

Sejarah mencatat, dominasi udara kerap gagal memberikan kemenangan mutlak. Dalam Perang Vietnam, misalnya, teknologi sensor canggih AS untuk memutus jalur logistik Ho Chi Minh berhasil diakali dengan cara sederhana, termasuk penggunaan air kencing hewan untuk mengelabui detektor.

Sementara itu, dalam Perang Teluk 1991, klaim keberhasilan tinggi dari pesawat siluman F-117A terbukti dilebih-lebihkan. Studi Kantor Akuntabilitas Pemerintah AS (GAO) menemukan tingkat keberhasilan hanya sekitar 41%-60%, jauh dari klaim awal 80%.

Kampanye udara NATO di Kosovo pada 1999 juga menunjukkan keterbatasan serupa. Berdasarkan laporan yang dikutip The Guardian, ribuan serangan hanya berhasil merusak sebagian kecil target militer Serbia.

Fenomena ini berlanjut dalam invasi Irak 2003 melalui strategi "shock and awe". Meski diawali dengan ribuan bom presisi, serangan udara gagal menggulingkan rezim Saddam Hussein tanpa intervensi darat.

Analisis The Guardian menekankan, klaim teknologi canggih, termasuk penggunaan kecerdasan buatan (AI), tidak serta-merta mengubah hasil perang. Meski Hegseth menyebut sistem otonom dan AI kini terintegrasi dalam operasi militer, efektivitasnya tetap dipertanyakan.

"Teknologi semakin canggih, tetapi tidak mengubah bagaimana manusia bereaksi di medan perang," ujar Wheeler.

Dengan demikian, ketergantungan pada kekuatan udara dinilai berpotensi menjadi ilusi lama yang terus berulang. Alih-alih menghadirkan kemenangan cepat, strategi ini justru berisiko menyeret AS ke konflik yang lebih kompleks dan berkepanjangan.


(tfa/luc) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video:Indonesia Dorong Talenta Digital di WEF, Bahas AI & Skills 2030