Amit-Amit El Nino Godzilla Benar Melanda RI, Seberapa Buruk Efeknya?

Martyasari Rizky, CNBC Indonesia
Kamis, 26/03/2026 16:05 WIB
Foto: Seorang petani mengamati padi yang mengalami kekeringan di Desa Kramat, Pakuhaji, Kabupaten Tangerang, Banten, Rabu, (9/8/2023). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) merilis prediksi cuaca ekstrem berupa El Nino Godzilla berpotensi melanda RI di periode musim kemarau tahun 2026 ini. Merespons hal itu, Pengamat Pertanian dari Center of Reform on Economics (CORE) Eliza Mardian mengingatkan waspada dampak yang dapat ditimbulkan oleh fenomena iklim tersebut, yakni potensi kenaikan harga beras seiring ancaman gangguan produksi di dalam negeri.

Sebab, sambungnya, struktur pertanian Indonesia saat ini masih rentan terhadap perubahan iklim, khususnya kekeringan.

"Struktur pertanian kita masih sangat bergantung pada curah hujan, banyak lahan sawah tadah hujan, dan sistem irigasi belum sepenuhnya mampu mengantisipasi kekeringan skala besar," kata Eliza kepada CNBC Indonesia, Kamis (26/3/2026).


Kondisi tersebut diperparah dengan belum meratanya penggunaan teknologi dan benih unggul di tingkat petani.

"Terus juga adopsi varietas tahan kekeringan dan teknologi budidaya juga belum merata. Petani kita masih banyak yang pakai benih yang dilepas 20 tahun yang lalu, diperparah dengan skala pertanian yang kecil, karena mayoritas kita petani gurem luasnya kurang dari 0,5 hektare, membuat intensifikasi tidak bisa dilakukan secara cepat," ujarnya.

Dalam skenario El Nino ekstrem, Eliza menilai ada potensi penurunan produksi, terutama akibat menyusutnya luas tanam. Secara historis, fenomena El Nino memang berdampak pada produksi padi nasional, meski dalam kisaran terbatas.

"El Nino memang menurunkan produksi padi Indonesia di kisaran 1%-3% secara nasional, dan bisa mencapai 2%-5% dalam kondisi lebih ekstrem," ucap dia.

Namun demikian, Eliza juga mengingatkan dampak lebih besar yang kerap terjadi di tingkat daerah, serta berubahnya pola produksi.

"Angka ini sering menutupi dampak yang jauh lebih besar di tingkat daerah. Di daerah yang memang sulit air, penurunan produksi bisa jauh lebih dalam akibat kekeringan dan puso. Selain itu, dampak terbesar El Nino bukan hanya pada volume produksi, tetapi pada terganggunya kalender produksi," jelas Eliza.

Ia menambahkan, mundurnya masa tanam dapat memicu kekosongan pasokan sementara di pasar.

"Jadinya, banyak petani menunda tanam, sehingga panen mundur dan menciptakan kekosongan pasokan sementara di pasar. Seperti El Nino 2023, dampaknya terasa ke 2024," ujarnya.

Kondisi tersebut dinilai sangat berpotensi mendorong kenaikan harga beras di dalam negeri.

"Kondisi ini sangat berpotensi mendorong kenaikan harga beras. Dalam struktur konsumsi Indonesia, beras memiliki permintaan yang sangat inelastis, sehingga sedikit gangguan pasokan dapat langsung memicu kenaikan harga. Ditambah lagi faktor ekspektasi pasar, di mana pedagang cenderung menahan stok saat ada potensi gangguan produksi, sehingga tekanan harga bisa menjadi lebih besar," terang dia.

Jika tidak diantisipasi, dampaknya bisa meluas ke inflasi pangan dan daya beli masyarakat.

"Kalau ini tidak segera diantisipasi, akan berdampak langsung pada inflasi pangan dan menekan daya beli masyarakat, terutama kelompok berpendapatan rendah," pungkasnya.

Sebelumnya, BRIN memprediksi Indonesia akan menghadapi fenomena El Nino dengan intensitas kuat atau yang kerap dijuluki "Godzilla" pada tahun ini. Kondisi ini berpotensi membuat musim kemarau menjadi lebih panjang dan kering, terutama di wilayah barat dan selatan Indonesia.

El Nino sendiri merupakan fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik ekuator yang berdampak pada penurunan curah hujan di Indonesia. Dalam fase kuat, fenomena ini disebut "Godzilla" karena mampu memicu anomali iklim yang signifikan.

"El Nino adalah fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik ekuator. Fenomena El Nino, termasuk potensi variasi kuat 'Godzilla', menyebabkan musim kemarau di Indonesia menjadi lebih panjang dan kering," tulis Periset Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN Erma Yulihastin, dikutip dari unggahan Instagaram resmi @/brin_indonesia, Sabtu (21/3/2026).


(dce) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Muncul Godzilla El Nino! Jawa Diserang Suhu Panas Mendidih-Hujan Seret