MARKET DATA
EFEK DOMINO PERANG IRAN

Bos AirAsia Terang-terangan Kondisi Terbaru Avtur-Fuel Surcharge di RI

Ferry Sandi,  CNBC Indonesia
26 March 2026 13:35
Pesawat Air Asia. (Dok Air Asia)
Foto: Pesawat Air Asia. (Dok Air Asia)

Jakarta, CNBC Indonesia - AirAsia Indonesia memastikan operasional penerbangan tetap berjalan stabil meski tekanan global meningkat. Eskalasi konflik di Timur Tengah mendorong harga minyak dunia naik, yang kemudian berdampak pada lonjakan harga avtur dan diperparah oleh pelemahan nilai tukar rupiah.

Kondisi tersebut membuat biaya operasional maskapai meningkat signifikan. Meski demikian, manajemen menegaskan berbagai langkah efisiensi telah dijalankan untuk menjaga keseimbangan bisnis sekaligus mempertahankan keterjangkauan harga tiket bagi masyarakat.

Plt. Direktur Utama Indonesia AirAsia Achmad Sadikin menegaskan. perusahaan mengambil langkah yang terukur dalam menghadapi situasi ini.

"Kami terus melakukan berbagai langkah efisiensi secara disiplin dan terukur untuk menjaga keseimbangan antara keberlanjutan operasional dan keterjangkauan layanan bagi masyarakat. Keselamatan tetap menjadi prioritas utama, dan setiap penyesuaian dilakukan secara hati-hati dengan mempertimbangkan kondisi pasar serta regulasi yang berlaku," katanya kepada CNBC Indonesia, Kamis (26/3/2026).

Di tengah tekanan biaya, ketersediaan avtur disebut masih aman sehingga operasional penerbangan belum terganggu. Maskapai juga terus memantau perkembangan harga bahan bakar dan mengikuti mekanisme yang ditetapkan regulator serta penyedia energi.

Upaya efisiensi dilakukan dengan mengoptimalkan berbagai aspek operasional, mulai dari pengelolaan kapasitas hingga peningkatan efisiensi konsumsi bahan bakar. Selain itu, penyesuaian frekuensi penerbangan di sejumlah rute dilakukan dengan mempertimbangkan tingkat permintaan pasar.

Dari sisi permintaan, perusahaan belum melihat adanya penurunan signifikan jumlah penumpang yang bisa dikaitkan langsung dengan dinamika geopolitik global, termasuk konflik di Timur Tengah.

Lebih lanjut, terkait wacana penyesuaian biaya tambahan bahan bakar dan tarif batas atas, AirAsia Indonesia menyatakan sejalan dengan sikap industri. Maskapai yang tergabung dalam INACA itu mendukung adanya ruang penyesuaian tarif secara proporsional.

"Sementara terkait dengan usulan penyesuaian fuel surcharge dan tarif batas atas (TBA) oleh INACA (Asosiasi Maskapai Penerbangan Nasional), Indonesia AirAsia sebagai bagian dari asosiasi mendukung adanya ruang penyesuaian yang proporsional guna menjaga keberlanjutan industri, dengan tetap mempertimbangkan daya beli masyarakat serta arahan regulator," ujar Sadikin.

Adapun asosiasi maskapai, INACA, menilai kondisi saat ini tidak lagi sejalan dengan struktur biaya yang berlaku, sehingga diperlukan penyesuaian tarif untuk menjaga keberlanjutan operasional.

Harga minyak global juga melonjak drastis dan berdampak langsung pada harga avtur domestik yang terus menanjak.

"Harga minyak global naik dari 70 USD per galon menjadi 110 USD per galon atau naik 57%, sementara harga avtur di Indonesia kini berada di kisaran Rp14.000 hingga Rp15.500 per liter," tulis INACA.

Permintaan resmi pun diajukan kepada pemerintah untuk menyesuaikan komponen biaya dalam industri penerbangan.

"Menaikkan fuel surcharge sebesar 15% serta menaikkan Tarif Batas Atas (TBA) sebesar 15% untuk pesawat jet maupun propeller menjadi langkah yang kami ajukan," tulisnya.

Plt. Direktur Utama Indonesia AirAsia, Achmad Sadikin. (Dok Air Asia)Foto: Plt. Direktur Utama Indonesia AirAsia, Achmad Sadikin. (Dok Air Asia)
Plt. Direktur Utama Indonesia AirAsia, Achmad Sadikin. (Dok Air Asia)

(dce) Add as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article AirNav Minta Ada Penyesuaian Tarif Navigasi Penerbangan Internasional


Most Popular
Features