China Borong Kedelai AS-Tambah 2 Juta Ton, Tempe-Tahu RI Aman?
Jakarta, CNBC Indonesia - Lonjakan impor kedelai China diperkirakan kembali terjadi pada 2026-2027. Namun, tambahan sekitar 2 juta ton dinilai belum akan mengguncang pasar kedelai global seperti yang pernah terjadi beberapa tahun lalu, meski tetap memunculkan potensi kenaikan harga di dalam negeri.
Sekretaris Jenderal Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo) Wibowo Nur Cahyo mengatakan, kenaikan impor kedelai yang dilakukan China kali ini relatif kecil jika dibandingkan dengan lonjakan besar pada 2022 lalu, yang sempat menekan pasokan dan mendongkrak harga kedelai di Indonesia.
"Di tahun 2022 itu, kebutuhan kedelai China cukup besar. Sehingga mengganggu dari kondisi kedelai impor yang masuk ke Indonesia, dan berdampak terhadap meningkatnya harga kedelai yang kami beli dari importir," kata Wibowo kepada CNBC Indonesia, Rabu (25/3/2026).
Ia menjelaskan, pada periode tersebut peningkatan impor China bahkan mencapai 20 juta ton. Sementara proyeksi kenaikan impor kedelai yang dilakukan Negeri Tirai Bambu saat ini hanya sekitar 2 juta ton.
"Nah, kalau ini meningkat 2 juta ton, itu hanya 10% dari kondisi tahun 2022," ujarnya.
Dengan kondisi tersebut, Wibowo menilai tambahan permintaan dari China belum akan mengganggu pasokan kedelai ke Indonesia. Terlebih, stok di Amerika Serikat (AS) sebagai pemasok utama justru sedang berlimpah.
"Kalau sekarang ini sebenarnya mereka (AS) overstock (kelebihan pasokan). Amerika overstock saat ini," sebut dia.
Ia pun menegaskan, kenaikan impor China tidak akan berdampak signifikan terhadap ketersediaan pasokan kedelai dalam negeri.
"Kalau estimasi saya, tidak mengganggu sih. Tidak mengganggu (pasokan di dalam negeri) kalau estimasi saya," katanya.
Meski demikian, Wibowo mengingatkan potensi kenaikan harga tetap terbuka. Ia memperkirakan kenaikan harga kedelai bisa terjadi, meskipun tidak akan setinggi lonjakan pada 2022.
"Kalaupun terjadi kenaikan harga mungkin sekitar 10% lah," ucap Wibowo.
Menurutnya, kenaikan harga kedelai tidak hanya dipengaruhi oleh permintaan China, tetapi juga sejumlah faktor lain. Mulai dari pergerakan harga global di Chicago Board of Trade (CBOT), nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, hingga kondisi geopolitik.
"Karena kan pengaruh harga kedelai ini naik ada beberapa faktor. Ada faktor CBOT-nya yang di Amerika ada kenaikan, kemudian harga dolar yang naik, faktor ekonomi politik dalam negeri, dan faktor ekonomi politik luar negeri, dan juga terakhir adalah supply and demand-nya," jelasnya.
Ia menambahkan, situasi geopolitik global saat ini juga menjadi perhatian, terutama konflik di Timur Tengah yang berpotensi mendorong kenaikan biaya logistik.
"Faktor yang memberatkan paling utama saat ini adalah perang Israel, Amerika dan Iran ini kan. Itu faktor utama," kata dia.
"Kalau mengganggunya dari sisi harga minyak akan naik ya. Sedangkan pengangkutan dari Amerika ke Indonesia kan tentunya menggunakan kapal dan membutuhkan bahan bakar minyak yang cukup tinggi," sambungnya.
Sementara itu, data harga kedelai di tingkat perajin tempe dan tahu menunjukkan tren yang sudah relatif tinggi dan bervariasi antar daerah. Per 18 Maret 2026, harga kedelai di tingkat koperasi perajin berada di kisaran Rp9.700 hingga Rp12.000 per kg, dengan mayoritas berada di rentang Rp10.000-Rp10.800 per kg.
Sebagai contoh, di Jawa Barat harga kedelai berkisar Rp10.100-Rp10.400 per kg, sementara di Jakarta mencapai Rp10.400-Rp10.700 per kg. Adapun di beberapa wilayah seperti Sumatra Barat bahkan menyentuh Rp12.000 per kg.
Meski harga sudah relatif tinggi, para perajin tempe dan tahu disebut masih mampu bertahan tanpa menaikkan harga jual produk. Strategi yang dilakukan adalah menyesuaikan ukuran.
"Yang mungkin ketebalannya biasanya tahu itu ketebalannya 3 cm, mungkin jadi 2,8 cm, atau 2,5 cm, atau tempe yang tadinya dengan ketebalan 2 cm bisa 1,8 cm. Itu pasti terjadi," ujar Wibowo.
Ia menegaskan, langkah tersebut menjadi cara utama perajin dalam menjaga daya beli konsumen.
"Jadi siasatnya itu hanya menyesuaikan dari ketebalan saja," katanya.
Dari sisi margin, perajin juga masih memiliki ruang meski keuntungan mulai tergerus. "Kalau harga kedelai naik ya paling keuntungannya yang tadinya bisa Rp1.000 ya jadi Rp800," tambah dia.
Namun, Wibowo mengingatkan ada batas toleransi bagi perajin. Jika harga kedelai melonjak terlalu tinggi, maka opsi meminta intervensi pemerintah akan kembali muncul.
"Akan tetapi berbeda kalau kedelai itu mencapai harga di atas Rp12 ribu per kg, itu baru kami akan menyuarakan, minta subsidi dan sebagainya," tegasnya.
Untuk saat ini, ia memastikan kondisi tersebut masih jauh dari ambang batas tersebut.
"Masih jauh, masih sangat jauh. Situasinya masih sangat jauh," ucapnya.
Sebagai informasi, World-Grain melansir Departemen Pertanian AS (USDA), China diproyeksikan menaikkan impor kedelainya pada periode tahun 2026-2027, seiring dengan lonjakan kebutuhan bungkil untuk pakan ternak di negara itu.
China akan mengimpor 108 juta ton kedelai di periode tersebut, naik sekitar 2 juta ton dari periode tahun 2025-2026.
Peningkatan permintaan di sektor akuakultur jadi faktor pendorong melonjaknya kebutuhan tepung kedelai di China.
Kabar ini muncul usai pertemuan Presiden AS Donald Trump dengan Presiden China Xi Jinping di Busan, Korea Selatan pada Oktober 2025 lalu. Yang hasilnya di antaranya, China melanjutkan pembelian kedelai AS. Di mana per Februari 2026 tercatat China telah membeli 10,8 juta ton kedelai AS dari total 12 juta ton komitmen.
(dce) Add
source on Google