Internasional

Negara ini Jadi Korban Perang Iran: Darurat Energi-Minta Tolong RI

tps, CNBC Indonesia
Selasa, 24/03/2026 14:10 WIB
Foto: Ilustrasi bendera Filipina. (AP/Aaron Favila)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah Filipina mengumumkan langkah darurat untuk meningkatkan produksi pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batu bara guna menekan lonjakan biaya listrik. Keputusan ini diambil menyusul konflik bersenjata di Timur Tengah yang mengacaukan pengiriman gas global dan melambungkan harga energi dunia.


Menteri Energi Filipina Sharon Garin mengatakan, dengan melonjaknya biaya liquified natural gas (LNG), negara tersebut akan dipaksa untuk sementara waktu bergantung lebih besar pada bahan bakar fosil yang menghasilkan karbon tersebut. Filipina merupakan negara kepulauan dengan 116 juta penduduk yang memiliki biaya energi tertinggi di kawasan, di mana 60% kebutuhan listriknya bergantung pada batu bara.

Garin menjelaskan selain berupaya memaksimalkan penggunaan batu bara lokal, Filipina juga membuka opsi untuk meningkatkan pembelian batu bara dari pemasok utama mereka, yaitu Indonesia. Langkah itu dipandang sebagai solusi paling realistis di tengah ancaman krisis pasokan gas yang menghantui sektor kelistrikan nasional.

"Kami berbicara dengan perusahaan pembangkit listrik, pengelola PLTU batu bara, untuk memeriksa seberapa besar mereka dapat meningkatkan produksi listrik mereka," kata Garin seraya menyebut hal ini sebagai tindakan sementara yang bisa dimulai paling cepat pada 1 April mendatang.

Garin menambahkan keberhasilan skema ini sangat krusial bagi stabilitas ekonomi rumah tangga di Filipina. Jika peningkatan kapasitas PLTU batu bara berjalan sesuai rencana, pemerintah yakin tekanan kenaikan tarif listrik akibat konflik geopolitik global dapat diredam secara signifikan.

"Jika kami berhasil menerapkan ini, setidaknya kami dapat menurunkan kenaikan tarif listrik akibat konflik di Timur Tengah," ujar Garin.

Di sisi lain, Indonesia sebagai mitra dagang utama telah memberikan jaminan kepada Filipina terkait pasokan bahan baku tersebut. Pemerintah Indonesia memastikan tidak akan ada pembatasan volume pesanan bagi Filipina di tengah kondisi darurat ini.

"Tidak ada pembatasan pada impor batu bara kami dari Indonesia hingga hari ini," tutur Garin seraya menambahkan bahwa peningkatan pembelian tambahan mungkin tidak diperlukan jika produksi domestik mampu menutupi celah yang ada.

Filipina selama ini memang dikenal sebagai negara yang kerap dilanda pemadaman listrik dan sangat bergantung pada bahan bakar impor untuk menjalankan pembangkitnya. Presiden Filipina Ferdinand Marcos pada Januari lalu sebenarnya sempat mengumumkan penemuan gas alam yang signifikan di dekat ladang gas lepas pantai Malampaya yang mulai menipis.

Penemuan tersebut awalnya diharapkan dapat memperpanjang usia ladang Malampaya yang memasok sekitar 40% kebutuhan listrik di pulau utama Luzon. Namun, karena ladang tersebut diprediksi akan mengering dalam beberapa tahun ke depan, Filipina kini tidak memiliki pilihan selain kembali memperkuat sektor batu bara demi menjaga ketahanan energi nasional.


(tps/tps) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Bahlil Jamin Pemerintah Utamakan Kebutuhan Batu Bara Domestik