MARKET DATA

Doha-Dubai Lumpuh Kena Rudal, Krisis Obat 'Hantui' Timur Tengah

Firda,  CNBC Indonesia
21 March 2026 21:40
Asap yang mengepul dari Bandara Internasional Dubai setelah serangan pesawat tak berawak menghantam tangki bahan bakar di Dubai, Uni Emirat Arab, Senin (16/3/2026). (REUTERS/Stringer)
Foto: Asap yang mengepul dari Bandara Internasional Dubai setelah serangan pesawat tak berawak menghantam tangki bahan bakar di Dubai, Uni Emirat Arab, Senin (16/3/2026). (REUTERS/Stringer)

Jakarta, CNBC Indonesia - Otoritas penerbangan Arab Saudi mengambil peran sebagai jalur alternatif utama distribusi obat-obatan bagi negara-negara di kawasan Teluk. Hal itu dilakukan setelah bandara utama logistik global seperti Dubai, Abu Dhabi, dan Doha lumpuh total akibat serangan pesawat tak berawak dan rudal dari Iran.

Bandara Riyadh dan Jeddah tetap terbuka untuk menerima pengiriman dari perusahaan farmasi. Obat-obatan kemudian dapat diangkut melalui jalan darat ke tempat tujuan mereka. Pilihan lainnya adalah Istanbul dan Oman.

Melansir Arab News, Senior Fellow for Global Health di Council on Foreign Relations Prashant Yadav memantau langsung ancaman krisis pasokan medis di wilayah Timur Tengah akibat gangguan penerbangan tersebut. Ia menyebutkan bahwa obat-obatan untuk penyakit kritis seperti kanker berisiko paling tinggi mengalami kelangkaan jika jalur logistik tidak segera dipulihkan.

"Beberapa fasilitas medis memperingatkan bahwa mereka dapat kehabisan pasokan dalam waktu empat hingga enam minggu," ujar Yadav, dilansir Arab News, Sabtu (21/3/2026).

Yadav mengatakan keterlambatan pengiriman obat-obatan onkologi dapat memiliki konsekuensi yang mengerikan bagi pasien, yang mungkin dipaksa untuk memulai kembali terapi, atau melihat kanker mereka memburuk.

Dia mengatakan gangguan sudah menjadi masalah bagi beberapa perusahaan dengan beberapa pelanggan memperingatkan bahwa mereka bisa kehabisan persediaan dalam waktu ⁠empat hingga enam minggu jika keadaan tidak membaik.

Kawasan Teluk selama ini sangat bergantung pada impor pasokan medis yang membutuhkan penyimpanan rantai dingin (cold-chain) ketat dengan masa simpan yang singkat. Mengingat bandara penghubung utama di Dubai dan Doha tidak dapat beroperasi, pengiriman kargo farmasi kini dialihkan ke bandara Riyadh dan Jeddah yang masih terbuka, untuk selanjutnya didistribusikan ke negara tujuan melalui jalur darat.

"Data industri menunjukkan bahwa lebih dari seperlima kargo udara global, rute utama untuk obat-obatan dan vaksin kritis atau penyelamat jiwa, terekspos pada gangguan di Timur Tengah," jelas Profesor di Antwerp Management School, Wouter Dewulf.

Industri farmasi kini berupaya keras memprioritaskan pengiriman obat-obatan vital bagi pasien dengan mengalihkan rute logistik Eropa-Asia melalui Tiongkok atau Singapura. Penggunaan jalur laut dinilai tidak praktis karena waktu perjalanan yang terlalu panjang serta adanya penutupan jalur perairan strategis di Selat Hormuz oleh Iran.

"Jika Anda memiliki operasi mendesak dengan pasien yang menunggu perawatan, Anda harus memilih moda transportasi yang lebih cepat," ungkap salah seorang eksekutif perusahaan alat medis.

Saat ini, lebih dari 100 peserta industri farmasi dan logistik bergabung dengan webinar minggu lalu yang diselenggarakan oleh Pharma. Aero, sebuah kelompok logistik ilmu kehidupan, untuk membahas krisis Teluk dan implikasi rantai pasokan dan transportasinya.

(hoi/hoi) Add as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Arab Makin Chaos, Ledakan Baru Guncang Bahrain-Dubai-Doha-Kuwait


Most Popular
Features