Nelayan Merapat! BRIN Beri Kabar Baik di Laut RI Saat Musim Kemarau

Mentari Puspadini, CNBC Indonesia
Sabtu, 21/03/2026 20:30 WIB
Foto: CNBC Indonesia/Muhammad Sabki

Jakarta, CNBC Indonesia - Beberapa peneliti oseanografi menyoroti musim kemarau yang diperkirakan datang lebih awal pada April 2026. Fenomena ini memang sering dikaitkan dengan kekeringan di daratan, namun di sektor kelautan justru dimanfaatkan sebagai momentum peningkatan kesuburan laut melalui upwelling.

Peneliti Ahli Utama BRIN Widodo Pranowo mengatakan, pergerakan Angin Timuran yang kuat dijelaskan sebagai pemicu awal musim kemarau. Massa air permukaan laut kemudian didorong ke arah lepas pantai oleh angin tersebut, sehingga massa air dingin kaya nutrien dari lapisan dalam naik menggantikannya.

"Massa air yang terangkat ini membawa 'pupuk alami' berupa nitrat dan fosfat. Ketika mencapai permukaan yang kaya sinar matahari, terjadi fotosintesis masif oleh fitoplankton. Inilah yang mendasari peningkatan produktivitas primer laut kita," ujar Widodo dikutip dari keterangan resmi, Sabtu, (21/3/2026).


Fenomena upwelling di selatan Jawa telah dikaji oleh Widodo Pranowo dalam riset yang dipublikasikan di Majalah Indo-Maritime 2014. Dalam penelitian itu, karakteristik unik yang dikenal sebagai RATU (Semi-permanent Java Coastal Upwelling) berhasil diidentifikasi sebagai fenomena khas wilayah tersebut.

Dinamika musiman dan variabilitas iklim global diketahui sangat memengaruhi intensitas RATU. Data profil temperatur dan salinitas secara real-time berhasil direkam melalui penggunaan teknologi Argo Float, yaitu robot penyelam otomatis yang dioperasikan hingga kedalaman 2.000 meter.

Lapisan thermocline yang terangkat selama proses upwelling dijadikan indikator utama dalam pemetaan daerah penangkapan ikan. Wilayah selatan Jawa hingga Nusa Tenggara pun diidentifikasi sebagai habitat penting bagi migrasi dan pemijahan ikan bernilai ekonomis seperti tuna dan cakalang.

Penguatan intensitas upwelling dapat dipicu oleh sinergi antara Angin Timuran dan fenomena El Niño. Dampaknya, stok ikan pelagis dilaporkan mengalami peningkatan secara signifikan.

Perkembangan fitoplankton diperkirakan akan mulai terjadi pada April hingga Mei 2026, kemudian meningkat pada Juni dan mencapai puncaknya pada Juli hingga Agustus. Keberlimpahan ikan pelagis kecil seperti lemuru di Selat Bali pun diprediksi akan terdorong oleh kondisi tersebut.

Variabilitas iklim disebut sangat memengaruhi dinamika laut, termasuk potensi penguatan upwelling. Jika El Niño terjadi pada 2026, fenomena ini diperkirakan tidak hanya menguat di selatan Jawa tetapi juga meluas ke wilayah perairan Indonesia lainnya.

Risiko kekeringan panjang akibat El Niño dinilai dapat mengancam ketahanan pangan dari sektor darat. Namun, sumber pangan dari laut dipandang berpotensi menjadi alternatif pengganti dalam kondisi tersebut.

Langkah strategis untuk menjaga kedaulatan pangan nasional terus dilakukan oleh BRIN melalui pemantauan dinamika laut dan atmosfer secara berkelanjutan. Upaya ini diharapkan mampu mengoptimalkan potensi sektor maritim di tengah perubahan iklim.


(dce) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Rehabilitasi Mengrove Gak Pakai APBN, KKP Ajak Swasta & BUMN