Nelayan RI Siap Siaga, Menteri Trenggono Sebut Deret Masalah Mengintai
Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Kelautan dan Perikanan (MenKP) Sakti Wahyu Trenggono memberikan peringatan serius terhadap sektor perikanan nasional di tengah tekanan dinamika geopolitik global, dan ancaman fenomena iklim ekstrem El Nino. Hal itu disampaikan dalam Rapat Kerja bersama Komisi IV DPR RI.
Trenggono menegaskan, situasi global saat ini berdampak langsung terhadap operasional sektor perikanan, terutama pada aspek biaya produksi dan distribusi.
"Seperti kita ketahui bahwa dinamika geopolitik global, saya kira semua sudah tahu, sangat berdampak kepada salah satunya di Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) juga sangat berdampak. Di antaranya adalah soal penggunaan bahan bakar minyak (BBM) untuk para nelayan, yang 100% hingga saat ini masih menggunakan BBM," kata Trenggono dalam Raker bersama Komisi IV DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta, Selasa (7/4/2026).
Ia menyebut, tekanan juga terjadi pada rantai pasok yang berimbas pada kinerja ekspor dan daya saing produk perikanan Indonesia di pasar global.
"Lalu kemudian harga-harga akibat dari distribusi juga masih terpengaruh sehingga rantai pasok dari hasil perikanan juga berpotensi mengakibatkan penurunan volume ekspor, hingga penurunan daya saing produk perikanan Indonesia di pasar global," jelasnya.
Selain faktor geopolitik, ancaman iklim juga menjadi perhatian utama. Berdasarkan kajian Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Indonesia diperkirakan akan menghadapi fenomena El Nino ekstrem, atau disebut 'Godzila' El Nino.
"Adapun berdasarkan kajian BRIN, Indonesia diperkirakan akan menghadapi fenomena Godzilla El Nino yang ditandai dengan anomali iklim ekstrim pada periode April hingga Oktober 2026," ucap dia.
Menurutnya, kondisi ini menghadirkan dua sisi sekaligus, yakni risiko besar dan peluang yang harus dikelola secara hati-hati. Dari sisi risiko, Trenggono mengingatkan potensi tekanan serius terhadap ekosistem pesisir dan laut.
"Dari perspektif risiko, fenomena tersebut berpotensi memicu tekanan serius di wilayah daratan, pesisir, maupun lautan termasuk peningkatan kerentanan terhadap kerusakan ekosistem, pesisir, dan laut," ungkapnya.
Ia juga menyoroti dampak lanjutan berupa perubahan kualitas lingkungan perairan yang bisa memicu gangguan produksi.
"Tingginya tingkat evaporasi dapat menyebabkan lonjakan salinitas, yang berimplikasi pada meningkatnya risiko wabah penyakit pada komoditas budidaya, serta berpotensi mempercepat degradasi ekosistem karbon biru yang pada akhirnya dapat meningkatkan emisi karbon secara signifikan," lanjut Trenggono.
Kendati demikian, fenomena El Nino juga dapat memberikan peluang ledakan produktivitas laut, yakni seperti peningkatan stok ikan akibat peningkatan nutrien di laut, serta peningkatan produksi garam karena kemarau yang lebih panjang.
Kinerja Sektor Perikanan RI Terjaga
Di sisi lain, Trenggono memastikan kinerja sektor perikanan nasional tetap terjaga meski dihadapkan oleh berbagai tantangan, seperti geopolitik hingga ancaman anomali iklim. Katanya, produksi dan ekspor tetap menunjukkan tren positif dalam beberapa tahun terakhir.
"Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi, kinerja sektor kelautan dan perikanan nasional hingga saat ini tetap menunjukkan capaian produksi dan ekspor yang terjaga dengan baik. Di antaranya adalah produksi kelautan dan perikanan Indonesia secara konsisten terus mengalami kenaikan dengan pertumbuhan rata-rata sekitar 3,8% pada tahun 2025," ungkap Trenggono.
Ia merinci, total produksi perikanan nasional mencapai angka tertinggi, yakni 26,25 juta ton. Terdiri atas 11,65 juta ton produksi rumput laut, 7,85 juta ton perikanan tangkap, dan 6,75 juta ton perikanan budidaya.
Dari sisi ekspor, nilai produk perikanan juga mencatat kinerja positif, meski mulai melambat di awal 2026.
"Nilai ekspor produk perikanan Indonesia meningkat juga, mencapai US$6,27 miliar di tahun 2025. Juga menjadi capaian tertinggi dalam 5 tahun terakhir. Namun demikian, hingga Februari 2026 nilai ekspor tercatat sebesar US$960 juta yang secara year-on-year (tahunan) masih menunjukkan perlambatan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya," jelasnya.
"Semoga ini segera meningkat karena sudah selesai kita urusannya dengan Amerika," sambung dia.
Ke depan, lanjut Trenggono, KKP memproyeksikan produksi tetap terjaga, meski tekanan global dan iklim masih berlangsung.
"Prognosa produksi ikan nasional untuk periode April hingga Desember 2026, kami memproyeksikan total produksi ikan nasional mencapai 10,57 juta ton. Angka ini terdiri dari kontribusi produksi ikan tangkap sebesar 5,42 juta ton, serta produksi ikan budidaya sebesar 5,15 juta ton," kata Trenggono.
Ia juga memastikan ketersediaan ikan untuk kebutuhan masyarakat masih dalam kondisi aman dalam jangka pendek.
"Berdasarkan hasil pemantauan, kami dapat melaporkan bahwa status ketersediaan ikan berada pada kategori aman hingga Juni 2026," ujarnya.
Menutup pernyataannya, Trenggono menekankan pentingnya sinergi lintas pihak untuk menjaga ketahanan pangan dari sektor perikanan.
"Upaya penguatan ketahanan pangan nasional di sektor kelautan dan perikanan ini tentunya memerlukan dukungan dan sinergi kita bersama. Untuk itu, kami sangat mengharapkan masukan dan dukungan dari Komisi IV DPR RI agar upaya penguatan ketahanan pangan sektor kelautan dan perikanan dapat berjalan optimal dan terpenuhi dengan baik," pungkasnya.