Update Perang Timur Tengah: Ekonomi Dunia Terguncang!
Jakarta, CNBC Indonesia - Perang di Timur Tengah kian memanas dan mulai mengguncang ekonomi global. Eskalasi konflik yang melibatkan serangan terhadap infrastruktur energi memicu lonjakan harga minyak dunia, meningkatkan risiko inflasi, serta mengganggu rantai pasok di berbagai negara.
Dampaknya, sejumlah pemerintah dan pelaku industri bergerak cepat mengambil langkah darurat untuk meredam tekanan yang kian meluas. Berikut fakta-fakta terbaru terkait dampak perang Amerika Serikat (AS) dan Israel vs Iran, seperti dikutip AFP, Kamis (19/3/2026).
Harga Minyak Melonjak
Harga minyak dunia melonjak tajam setelah serangan Israel menghantam fasilitas Iran di ladang gas utama di Teluk. Harga minyak Brent sempat naik lebih dari 6% hingga mendekati US$110 per barel, sebelum ditutup di level US$107,38 atau sekitar Rp1,67 juta per barel (asumsi kurs Rp15.600/US$), naik 3,8%.
Serangan tersebut menargetkan ladang gas raksasa South Pars/North Dome yang menyuplai sekitar 70% kebutuhan gas domestik Iran.
Inflasi AS Berpotensi Naik
Bank Sentral Amerika Serikat (The Federal Reserve) menaikkan proyeksi inflasi di tengah ketidakpastian akibat konflik tersebut. Suku bunga tetap dipertahankan.
Ketua The Fed Jerome Powell mengatakan kenaikan harga energi berpotensi mendorong inflasi dalam waktu dekat.
"Kami memperkirakan harga energi yang lebih tinggi akan meningkatkan inflasi dalam waktu dekat," ujarnya, seraya menambahkan dampak lanjutan masih belum pasti.
Ketegangan Energi Meningkat
Iran melancarkan serangan balasan yang menargetkan fasilitas minyak dan gas di kawasan Teluk. QatarEnergy melaporkan kebakaran akibat serangan berhasil dikendalikan, meski menyebabkan kerusakan luas.
Di sisi lain, Arab Saudi mencegat lima drone yang mengarah ke fasilitas energi, sementara Uni Emirat Arab menghadapi ancaman rudal.
Kebijakan Darurat AS dan Eropa
Presiden AS Donald Trump untuk sementara mencabut Undang-Undang Jones selama 60 hari guna menekan lonjakan biaya energi. Kebijakan ini memungkinkan kapal asing mengangkut kargo antar pelabuhan AS.
Di Eropa, Italia mengambil langkah cepat dengan memangkas harga bahan bakar sekitar 0,25 euro atau sekitar Rp4.200 per liter, serta memberikan insentif pajak bagi pengemudi truk.
Jalur Pasok Energi Terganggu
Irak mulai mengekspor minyak secara terbatas melalui Turki dengan volume sekitar 250.000 barel per hari, jauh di bawah kapasitas normal 3,5 juta barel per hari.
Sementara itu, impor gas Irak dari Iran dilaporkan terhenti sepenuhnya, memperparah tekanan energi di kawasan.
Industri dan Logistik Tertekan
Harga bahan bakar kapal melonjak hingga hampir dua kali lipat akibat krisis logistik di Timur Tengah. Kondisi ini disebut sebagai tingkat yang "belum pernah terjadi sebelumnya".
Di Asia, perusahaan petrokimia besar seperti Mitsubishi Chemical, Mitsui Chemicals, dan LG Chem mulai memangkas produksi akibat terganggunya pasokan nafta.
Upaya Global Redam Krisis
Organisasi Maritim Internasional (IMO) menggelar pertemuan darurat untuk membahas keamanan pelayaran, termasuk kemungkinan pembentukan koridor maritim aman di Teluk Persia.
Sementara itu, Korea Selatan mengamankan tambahan 18 juta barel minyak dari Uni Emirat Arab melalui jalur alternatif tanpa melewati Selat Hormuz.
Di Asia Selatan, Sri Lanka bahkan meminta masyarakat menghentikan pengisian daya kendaraan listrik pada malam hari guna menjaga stabilitas pasokan listrik.
Secara keseluruhan, konflik Timur Tengah kini tidak hanya berdampak pada kawasan, tetapi telah menjalar ke ekonomi global melalui lonjakan harga energi, tekanan inflasi, serta gangguan rantai pasok.
Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]