MARKET DATA
Internasional

Perang Tak Terkendali, Iran Dorong Negara Teluk Lepas dari Bayangan AS

Thea Fathanah Arbar,  CNBC Indonesia
17 March 2026 14:20
US Secretary of State Antony Blinken meets with GCC Foreign Ministers at the GCC Secretariat in Riyadh on June 7, 2023. (Photo by Fayez Nureldine / AFP)
Foto: Pertemuan Dewan Kerja Sama Negara Teluk di Riyadh, Kamis (8/6/2023). (AFP/FAYEZ NURELDINE)

Jakarta, CNBC Indonesia - Duta Besar Iran untuk Arab Saudi Alireza Enayati menyerukan peninjauan serius hubungan antara Teheran dan negara-negara Teluk di tengah konflik yang melibatkan Amerika Serikat (AS) dan Israel.

Dalam wawancara dengan Reuters, Enayati mengatakan negara-negara di kawasan perlu mengevaluasi kembali hubungan regional mengingat eskalasi perang yang berdampak luas pada stabilitas kawasan.

"Itu pertanyaan yang valid, dan jawabannya mungkin sederhana. Kita adalah tetangga dan kita tidak bisa hidup tanpa satu sama lain. Kita akan membutuhkan peninjauan serius," kata Enayati, dikutip Selasa (17/3/2026).

Ia menilai dinamika keamanan di kawasan selama puluhan tahun terakhir dipengaruhi pendekatan eksklusif di dalam kawasan serta ketergantungan berlebihan pada kekuatan eksternal. Karena itu, ia mendorong kerja sama yang lebih erat antara negara-negara Teluk, termasuk anggota Gulf Cooperation Council (GCC), dengan Iran dan Irak.

Sejak konflik pecah pada 28 Februari, negara-negara Teluk dilaporkan menghadapi lebih dari 2.000 serangan rudal dan drone yang menargetkan berbagai fasilitas, mulai dari misi diplomatik dan pangkalan militer AS hingga infrastruktur vital seperti fasilitas minyak, pelabuhan, bandara, serta kawasan permukiman.

Uni Emirat Arab (UEA) disebut menjadi salah satu negara yang paling terdampak dari rangkaian serangan tersebut, meski seluruh negara Teluk turut merasakan dampaknya dan mengecam Iran.

Di balik itu, sejumlah analis menyebut negara-negara Teluk juga mulai menunjukkan frustasi terhadap AS yang selama ini menjadi penjamin keamanan kawasan karena konflik tersebut menyeret mereka ke dalam situasi yang tidak mereka dukung.

Di Arab Saudi, sejumlah serangan dilaporkan menargetkan wilayah timur yang merupakan pusat produksi minyak kerajaan, termasuk sekitar Pangkalan Udara Pangeran Sultan di dekat Riyadh dan kawasan diplomatik di pinggiran ibu kota.

Enayati menegaskan Iran tidak bertanggung jawab atas serangan terhadap fasilitas minyak Arab Saudi, termasuk kilang Ras Tanura dan upaya serangan drone terhadap ladang minyak Shaybah.

"Iran bukanlah pihak yang bertanggung jawab atas serangan-serangan ini, dan jika Iran yang melakukannya, mereka pasti akan mengumumkannya," ujarnya.

Ia menambahkan Iran hanya menargetkan kepentingan AS dan Israel dalam konflik tersebut. Menurut Enayati, komunikasi dengan pejabat Saudi tetap berlangsung dan hubungan kedua negara berkembang secara alami di sejumlah bidang, termasuk kerja sama terkait kepulangan warga Iran yang berada di Arab Saudi untuk menunaikan ibadah haji serta bantuan medis bagi mereka yang membutuhkan.

Enayati juga mengatakan Teheran tengah berdiskusi dengan Riyadh terkait pernyataan Arab Saudi bahwa wilayah darat, laut, dan udaranya tidak akan digunakan untuk melancarkan serangan terhadap Iran. Ia menegaskan perang yang terjadi saat ini "dipaksakan kepada Iran dan kawasan".

Menurutnya, konflik hanya dapat diselesaikan jika AS dan Israel menghentikan serangan mereka serta negara-negara kawasan tidak terlibat langsung.

"Hanya dengan begitu kita dapat fokus membangun kawasan yang makmur," pungkas Enayati.

(tfa/luc) Add as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Timur Tengah Memanas, AS Sengaja Pamer Kekuatan Militer di "Muka" Iran


Most Popular
Features