Geger! Istri Wali Kota New York Mamdani Terseret Skandal Anti Yahudi
Jakarta, CNBC Indonesia - Wali Kota New York City Zohran Mamdani kini tengah berada di pusaran badai politik hebat setelah karya ilustrasi masa lalu istrinya yang berkaitan dengan Palestina mencuat ke publik.
Ketegangan ini bermula pada pekan lalu saat sejumlah media sayap kanan melaporkan keterlibatan Ibu Negara New York City, Rama Duwaji, dalam proyek yang terhubung dengan penulis Palestina ternama, Susan Abulhawa, yang dikenal melalui pernyataan-pernyataan kontroversialnya.
Mamdani secara terbuka telah mengecam pernyataan Abulhawa di masa lalu sebagai sesuatu yang menjijikkan, namun langkah tersebut justru memicu reaksi keras dari para pendukungnya sendiri. Mereka menilai sang wali kota berisiko memperkuat narasi berbahaya yang menyamakan dukungan terhadap Palestina dengan sentimen anti-Yahudi, sekaligus menyoroti standar ganda yang dihadapi Mamdani sebagai wali kota Muslim pertama di kota terbesar Amerika Serikat tersebut.
Duduk Perkara Ilustrasi Rama Duwaji
Keterkaitan Duwaji dengan Abulhawa pertama kali diungkap oleh situs berita konservatif Washington Free Beacon yang menyebutkan bahwa ilustrator lepas berusia 28 tahun itu menyediakan karya untuk sebuah esai dalam koleksi tulisan dari warga Gaza. Koleksi tersebut bertajuk "Every Moment is a Life" yang diterbitkan secara daring oleh platform "Everything is Political".
Namun, Abulhawa kemudian memberikan klarifikasi bahwa karya yang diilustrasikan oleh Duwaji sebenarnya adalah sebuah cerita pendek berjudul "A Trail of Soap" yang ditulis oleh seorang warga Gaza yang mengungsi akibat perang. Cerita tersebut memerinci kesulitan dan penghinaan saat harus menggunakan toilet darurat di wilayah yang luluh lantak akibat konflik.
Mamdani menegaskan bahwa istrinya dipekerjakan oleh pihak ketiga dan tidak pernah berhubungan langsung dengan sang penulis.
"Istri saya ditugaskan oleh pihak ketiga dan tidak pernah terlibat atau bertemu dengan Abulhawa," ujar Zohran Mamdani dalam keterangan resminya.
Pernyataan Kontroversial yang Disorot
Laporan dari Free Beacon, New York Post, dan Jewish Insider menyoroti berbagai unggahan masa lalu Abulhawa yang dianggap menyerang kaum Yahudi, meskipun tuduhan itu dibantah oleh sang penulis.
Abulhawa menyatakan bahwa pernyataannya adalah refleksi dari rasa sakit sebagai orang Palestina yang telah menyaksikan langsung dampak perang di Gaza yang telah menelan lebih dari 72.000 korban jiwa sejak Oktober 2023.
Dalam salah satu artikel di situs The Electronic Intifada, Abulhawa sempat mendeskripsikan serangan 7 Oktober 2023 sebagai momen spektakuler yang mengejutkan dunia. Di media sosial, ia juga mengecam apa yang disebutnya sebagai pembantaian supremasi Yahudi di Gaza dan menggunakan istilah-istilah tajam terhadap para pendukung kebijakan Israel.
Respons Keras Wali Kota Mamdani
Menanggapi tekanan publik, Mamdani menggelar konferensi pers untuk menegaskan bahwa istrinya tidak mengetahui adanya unggahan media sosial tersebut. Ia juga menekankan bahwa pemerintahan yang ia pimpin berdiri tegak melawan segala bentuk kefanatikan.
"Dan kami berdiri di pemerintahan kami, dan saya dapat memberitahu Anda, pemerintahan kami, yang terpisah dari ibu negara, dia tidak memiliki peran di dalamnya, menentang segala bentuk kefanatikan tanpa goyah," tegas Zohran Mamdani di hadapan para wartawan.
Mamdani secara eksplisit mengutuk pilihan kata yang digunakan oleh Abulhawa dalam narasi publiknya.
"Saya pikir retorika itu jelas tidak dapat diterima. Saya pikir itu sangat tercela," tambah Mamdani merujuk pada unggahan Abulhawa.
Pembelaan dari Susan Abulhawa
Melalui pernyataan video berdurasi panjang pada hari Sabtu, Abulhawa mencoba memberikan penjelasan kepada publik, termasuk kepada Mamdani dan para pengkritiknya. Ia menolak tuduhan anti-Semitisme dan menyatakan bahwa dirinya hanya merespons struktur kekuasaan Zionis dari perspektif korban sistem tersebut.
"Israel dan secara tidak langsung orang-orang Israel, karena seperti yang terus-menerus diberitahukan kepada kita, mereka adalah satu-satunya demokrasi di kawasan tersebut, telah menghancurkan dan merampas segalanya dari keluarga saya," kata Susan Abulhawa.
Ia menambahkan bahwa apa yang terjadi di Gaza adalah genosida yang disaksikan dunia secara nyata dengan segala kengerian dan luka generasionalnya.
"Mereka telah melakukan genosida di depan mata dunia, seluruh darah dan kekejiannya, kengerian apokaliptiknya, cedera generasionalnya, dan bahaya moralnya bagi seluruh umat manusia," lanjut Abulhawa.
Abulhawa juga menyinggung perasaan sakit hati, amarah, dan penghinaan yang dirasakan warga Palestina serta ketidakberdayaan mereka untuk menghentikan penderitaan tersebut. Ia menyatakan akan terus bersuara lantang bagi mereka yang tidak berdaya melawan kekerasan kolonial.
Kritik dari Pendukung Mamdani
Sikap defensif Mamdani justru menuai kritik dari kalangan aktivis dan penulis yang sebelumnya mendukungnya. Mereka menganggap permintaan maaf sang wali kota hanya akan memberi umpan bagi narasi yang tidak jujur.
Aktivis Shaiel Ben-Ephraim secara terbuka menyebut langkah Mamdani sebagai tindakan yang kurang tepat karena menganggap penjelasan tersebut tidak akan pernah memuaskan pihak lawan. Penulis Palestina Mohammed El-Kurd juga mengingatkan Mamdani bahwa ia masuk ke dunia politik dengan janji memperjuangkan hak-hak Palestina.
Mantan pejabat hak asasi manusia PBB, Craig Mokhiber, turut mendesak Mamdani untuk tetap teguh pada prinsipnya dan tidak terbawa arus ketakutan politik.
"Ketakutan bukanlah dasar yang sehat untuk berpolitik pada saat ini dalam sejarah," tulis Craig Mokhiber melalui unggahan di media sosial X.
Abulhawa sendiri menyatakan tidak marah secara pribadi kepada Mamdani, namun ia memperingatkan sang walikota agar tidak terjebak dalam tekanan lawan politiknya.
"Anda menyerah pada kekuatan yang berupaya merusak Anda, istri Anda yang berbakat dan cantik, dan mereka akan mencengkeram lebih keras pada setiap permintaan maaf atau konsesi yang Anda buat. Jika Anda tidak hati-hati, mereka akan menyedot jiwa Anda bahkan sebelum Anda menyadarinya," ungkap Abulhawa.
Konteks Standar Ganda dan Islamofobia
Kasus ini menambah panjang daftar tantangan yang dihadapi Mamdani sejak kemenangannya tahun lalu. Ia kerap dituduh memiliki sentimen anti-Yahudi hanya karena mengutuk kebijakan Israel dan menyebut tindakan di Gaza sebagai genosida, meskipun ia berulang kali menegaskan bahwa dirinya adalah pemimpin bagi seluruh warga New York.
Banyak pihak mengecam adanya standar ganda yang ekstrem terhadap Mamdani, sementara serangan Islamofobia terhadapnya sering kali dibiarkan tanpa teguran. Salah satunya adalah serangan dari Senator AS Tommy Tuberville yang menyerang keyakinan Mamdani melalui media sosial.
Pekan lalu, Tuberville mengunggah foto Mamdani yang tengah merayakan buka puasa (iftar) di dekat foto serangan 11 September dengan narasi yang provokatif.
"Musuh sudah berada di dalam gerbang," tulis Tommy Tuberville menanggapi aktivitas sang walikota.
(tps/luc) Add
source on Google