AS Beri Bocoran Kapan Perang Lawan Iran Berakhir, Ungkap Tandanya
Jakarta, CNBC Indonesia - Pejabat Amerika Serikat (AS) secara resmi memberikan sinyal kuat mengenai kapan perang antara Amerika-Israel dengan Iran berakhir. Pada Minggu waktu setempat, sinyal berakhirnya pertempuran diperkuat oleh pernyataan optimistis dari jajaran kabinet pemerintahan Presiden Donald Trump.
Meskipun Trump mengancam akan meluncurkan serangan tambahan ke pusat ekspor minyak iRAN di Pulau Kharg, para pembantunya di Gedung Putih mulai memetakan akhir dari konfrontasi militer tersebut. Menteri Energi AS Chris Wright menegaskan bahwa segala indikator militer dan ekonomi menunjukkan bahwa perang tidak akan berlangsung lama lagi.
"Konflik ini dipastikan akan berakhir dalam beberapa minggu ke depan, bahkan bisa lebih cepat dari itu. Kita akan melihat pemulihan pasokan dan penurunan harga setelahnya," ujar Wright dalam sebuah program TV di AS "This Week" di ABC, dikutip Reuters, Senin (16/3/2026).
Salah satu alasannya adalah tanda-tanda di lapangan yang menunjukkan akhir perang antara lain, tekanan di harga minyak mentah dunia yang mulai "mereda". Minyak masih bertengger di level US$ 100 per barel akibat penutupan Selat Hormuz, tidak sampai lebih tinggi.
Trump sendiri menunjukkan kepercayaan diri tinggi atas dominasi militer AS yang dianggapnya menjadi faktor penentu cepatnya perang ini berakhir. Ia menyebutkan bahwa infrastruktur vital Iran telah lumpuh total akibat serangan udara yang masif.
"Kami telah menghancurkan total sebagian besar Pulau Kharg. Kami mungkin akan menyerangnya beberapa kali lagi hanya untuk bersenang-senang," kata Trump saat berbicara kepada NBC News.
Respons Teheran
Namun, prediksi AS tersebut mendapat tantangan keras dari pihak Teheran. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi pada hari yang sama membantah klaim Trump bahwa Iran sedang mencari celah untuk bernegosiasi guna mengakhiri serangan.
"Kami tidak pernah meminta gencatan senjata, dan kami bahkan tidak pernah meminta negosiasi. Kami siap membela diri selama apa pun waktu yang dibutuhkan," tegas Araqchi juga ke program TV Amerika, "Face the Nation" di CBS.
Di sisi lain, Abbas Araqchi berusaha mementahkan narasi AS lain soal lumpuhnya Iran. Menurutnya kekuatan nasional masih solid, di mana kondisi dalam negeri tetap stabil dan tidak merasa perlu untuk berkompromi dengan Washington di bawah ancaman senjata.
"Ini bukan perang demi kelangsungan hidup. Kami stabil dan cukup kuat. Kami tidak melihat alasan mengapa kami harus berbicara dengan orang Amerika, karena kami sedang berbicara dengan mereka ketika mereka memutuskan untuk menyerang kami, dan itu adalah untuk kedua kalinya," jelas Araqchi.
Koalisi Kapal Tanker Minyak
Isyarat berakhirnya perang oleh AS ini juga dibarengi dengan rencana pembentukan koalisi internasional untuk mengawal kapal-kapal tanker melewati Selat Hormuz. Laporan dari Wall Street Journal menyebutkan bahwa pemerintahan Trump akan mengumumkan koalisi tersebut minggu ini, guna memastikan aliran energi kembali normal segera setelah hostilities atau permusuhan berakhir.
Sementara itu, dari sisi diplomatik, Presiden Prancis Emmanuel Macron turut mendesak agar stabilitas segera dipulihkan. Dalam komunikasinya dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian, Macron menekankan pentingnya penghentian serangan agar navigasi perdagangan internasional tidak lagi terganggu.
"Saya mendesak restorasi kebebasan navigasi di Selat Hormuz dan penghentian segera serangan terhadap negara-negara di wilayah tersebut, baik secara langsung maupun melalui proksi," tulis Macron dalam unggahannya di media sosial X.
Hingga berita ini diturunkan, eskalasi di lapangan masih terjadi di mana Garda Revolusi Iran mengklaim telah meluncurkan rentetan rudal dan drone ke pangkalan militer AS. Meski demikian, Washington tetap memegang teguh proyeksi mereka bahwa perang ini sedang memasuki babak akhir yang akan selesai dalam waktu sangat dekat.
source on Google [Gambas:Video CNBC]